Ketika Ekstrimis Mengincar Korban

Author

Sudah bukan rahasia lagi bahwa kelompok ekstrimis agama menggunakan doktrin agama dalam merekrut anggotanya. Doktrin agama pula yang mereka manfaatkan untuk membungkam seseorang yang menjadi target mereka. Lalu, doktrin agama seperti apa yang mereka ajarkan? Siapa saja target mereka?

Redaksi buruhmigran.or.id sebelumnya telah mengulas ancaman ekstrimisme terhadap pekerja migran Indonesia (PMI). Kali ini, redaksi akan mengulas lebih rinci bagaimana sejarah munculnya kelompok radikal di Indonesia, pola perekrutan, target perekrutan, hingga antisipasi yang harus dilakukan bagi setiap orang, termasuk PMI.

Laporan ini disarikan berdasarkan pemaparan dari Sukanto, mantan aktivis Negara Islam Indonesia (NII) yang kini menjabat sebagai Ketua NII Crisis Center (NII CC), serta beberapa sumber pendukung lainnya. NII CC adalah organisasi nirlaba yang didirikan oleh mantan jamaah NII dan mantan aktivis gerakan-gerakan radikal lainnya. NII CC merupakan pusat rehabilitasi korban NII untuk menyadarkan para aktivis yang masih aktif dalam gerakan radikal. Gerakan deradikalisasi yang dilakukan oleh NII CC juga didukung dengan gerakan kampanye penyadaran publik terhadap bahaya ekstrimisme dan radikalisme.

Doktrin Utama Perekrutan Kelompok Radikal

Kelompok-kelompok ekstrimis radikal seperti NII, Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) di Indonesia sebenarnya memiliki doktrin yang hampir sama dengan rujukan ulama yang berbeda. Kelompok ekstrimis radikal ini, secara umum memiliki beberapa doktrin utama berikut ini:

Pertama, hukum hanya milik Allah dan orang atau kelompok yang mengambil hak Allah harus diperangi.

Kedua, thaghut. Dalam penafsiran Ibnu Katsir Tafsir al-Quran al-Azim (Khadafi, 2017), thaghut adalah menyembah sesuatu selain Allah. Namun dalam doktrin yang dipakai oleh kelompok ekstrim radikal, makna thaghut lebih lekat dengan pandangan Sayyid Quthb yang bermakna segala sesuatu yang melanggar kebenaran melampaui batas kesadaran manusia dalam ketetapan Allah (Khadafi, 2017).

Ketiga, takfiri. Doktrin ini menganggap bahwa orang di luar kelompoknya disebut kafir, sehingga harta dan darahnya adalah halal.

Keempat, jihad. Dalam doktrin kelompok radikal, jihad dimaknai sebagai perang angkat senjata (Qital). Relevansi jihad bagi kelompok mereka adalah perang, senjata dan menghancurkan kelompok atau individu yang menentang kelompok mereka sebagai penegak hukum Allah. Aksi kelompok ekstrimis radikal yang selama ini dikenal masyarakat umum adalah dalam bentuk “teror”. Salah satu alasan mereka melakukan teror adalah untuk menggetarkan hati musuh dengan cara teror dan jalan pintas ke surga.

Doktrin-doktrin mulai dari hukum hanya milik Allah, thaghut, takfiri, hingga jihad, disisipkan oleh kelompok radikal pada masa perekrutan anggota. Dalam menyebarkan pemahaman ajaran-ajarannya, kelompok kelompok ekstrimis radikal melakukan penyasaran pada mereka yang memiliki semangat beragama namun minim penyaluran.

Berdasarkan catatan NII CC selama menangani korban kelompok radikal, rata-rata yang terjaring kelompok radikal di usia 14-30 tahun. NII CC juga mencatat, kebanyakan para target kelompok radikal adalah mereka yang berkepribadian tertutup atau introvert. Sasaran ini dianggap paling cepat menerima ajakan kelompok radikal. Kelompok radikal memberikan informasi dan doktrin-doktrinnya yang diperkuat dengan ayat dan kata-kata yang dapat mengunci seseorang untuk tetap merahasiakannya. Agar terkondisikan, individu sasaran pada fase awal diminta untuk merahasiakan interaksi dengan kelompok ini. Ketika sudah terpengaruhi, maka individu akan turut diminta melakukan tugas-tugas, seperti perekrutan dan penggalangan sumber daya pendanaan.

Pola Perekrutan dan Kriteria Target

(Ilustrator: Muhammad Irvan, Warta Buruh Migran Edisi Oktober 2018)

Beberapa pola perekrutan berikut ini penting untuk diketahui publik agar lebih waspada pada gerakan kelompok ekstrimis radikal. Pola perekrutan kelompok ekstrimis radikal berbeda-beda berdasarkan karakteristik organisasi pelaku dan korban sasaran. Berdasarkan pengalaman NII CC ada 3 (tiga) pola perekrutan sekaligus target yang mudah terpengaruh dengan beberapa pola berikut ini:

Tertutup dan antar pribadi (men to men). Jaringan NII dan jaringan organisasi radikal serupa sangat ketat dalam menentukan “kebersihan” seseorang yang akan masuk dalam kelompok mereka. Proses perekrutan dilakukan secara tertutup dan pendekatannya antar pribadi “men to men”, misalnya dengan cara mendatangi ke rumah target. Biasanya target mereka adalah temannya, saudaranya, teman SD, SMP, dan SMA dari orang yang telah terekrut. Forum bimbingan dan kajian tertutup biasanya digunakan untuk proses ini. Setelah berhasil memengaruhi korban, proses baiat sebagai tanda keanggotaan dan pernyataan loyalitas kepada organisasi akan dilakukan oleh korban dengan dibimbing oleh pelaku.

Terbuka :“dari masjid ke masjid”. Model kedua ini adalah cara perekrutan yang dilakukan oleh Jamaah Islamiyah (JI). Model perekrutan ini lebih terbuka dari NII. Biasanya, tokoh JI masuk ke masjid dan menyelenggarakan ceramah umum dengan menyebarkan doktrin bahwa NKRI itu thoghut dan pancasila itu syirik. Bagi mereka yang terlihat tertarik, akan diundang dalam sebuah kelompok kajian khusus dengan jumlah terbatas. Jika dalam kajian terbatas tersebut mereka masih bertahan dan menyepakati pemahaman mereka, selanjutnya mereka akan ditawarkan untuk masuk JI hingga akhirnya direkrut untuk menjadi anggota.

Digital: penyebaran melalui media sosial (Medsos). ISIS menggunakan penyebaran paham melalui Medsos. Bahan materi penyebaran di Medsos berasal dari media mereka sendiri, yaitu berupa majalah digital. Doktrinasi dari media sosial berlanjut pada situs khusus, karena mereka membuat website mereka sendiri yang berisi tanya jawab tentang Islam. Bujuk rayu dan tipuan disajikan sedemikian rupa dalam website dan konten media sosial agar dipercayai oleh pembacanya. Metode ini telah menunjukkan bukti efektivitasnya, seperti dalam kasus keberangkatan keluarga Dwi Joko Wahono yang berangkat bersama 26 anggota keluarganya ke Suriah untuk bergabung dengan pemerintahan ISIS pada tahun 2015. Keluarga ini terpedaya bujuk rayu jaminan ekonomi dan kesehatan yang dijanjikan oleh ISIS melalui website dan media sosial yang berafiliasi dengan ISIS. Dengan Keberhasilan propaganda ISIS ini tidak juga berpeluang terjadi pada kelompok PMI.

Apa yang Membuat Korban Tertarik Kelompok Ekstrimis?

Baru mengenal Islam
Mereka yang tertarik dalam kelompok ekstrimis, rata-rata karena baru mengenal Islam. Berdasarkan hasil wawancara NII CC dengan para korban kelompok radikalis, pada umumnya korban tergoda ajakan kelompok NII karena ingin mencari jalan pintas menuju surga. Propaganda “janji surga” ini lebih efektif untuk merekrut individu yang pemahaman agamanya masih kurang mendalam, atau individu yang tengah mencari rujukan agama. Janji surga tersebut disampaikan untuk memikat calon korban untuk mau menjadi anggota dan terlibat dalam kegiatan kelompok radikal, seperti terlibat dalam aksi-aksi mereka atau sekedar menyumbang aktivitas kelompok tersebut.

Ikatan persaudaraan yang kuat
Alasan lain seseorang tertarik kelompok ekstrimis adalah karena ikatan persaudaraan yang kuat dan dijanjikan oleh kelompok-kelompok tersebut. Pada kelompok ekstrimis, seseorang yang sudah masuk ke dalamnya akan diikat dalam sebuah persaudaraan yang kuat. Jika seseorang sudah tertarik, mereka akan terikat dengan persaudaraan yang kuat di kelompok tersebut. Bagi mereka yang hidup merantau (jauh dari keluarga), kuatnya ikatan persaudaraan menjadi daya tarik tersendiri. Ikatan persaudaraan seakan menggantikan peran orang tua, teman, saudara, dan kampungnya.

Janji Perbaikan Ekonomi
Faktor ekonomi menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi mengapa seseorang tertarik kelompok radikal. Salah satu contoh warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi simpatisan ISIS adalah Ahmad Junaidi, seorang tukang bakso terdakwa kasus terorisme terkait kasus simpatisan ISIS. Junaidi menyampaikan penyesalannya terkait keberangkatannya ke Suriah, dia menyesal karena merasa tertipu dengan tugas dan bayaran yang tidak sesuai dijanjikan (Tribunnews.com, 2016). Selain Junaidi, ada juga Joko Dwi Wahono (50), eks petinggi Otoritas Batam, yang sempat mengajak anak dan istrinya untuk ikut ISIS (Tribunnews.com, 2017).

Langkah Antisipasi Menangkal Pengaruh Kelompok Ekstrimis bagi PMI

Beberapa langkah antisipasi yang perlu dilakukan untuk mencegah agar tidak mudah terpengaruh kelompok ekstrimis radikal adalah sebagai berikut:

  • Pelajari agama dari ahlinya. Indonesia memiliki banyak ulama sumber rujukan yang dapat diacu  untuk mempelajari agama, khususnya Islam. Organisasi, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) juga memiliki ustadz dan ulama yang memiliki kapasitas dan kredibilitas untuk menjadi rujukan agama. Pilihlah ulama yang tidak menganjurkan kebencian dan permusuhan kepada kelompok lain sebagai rujukan mempelajari agama.
  • Mengenali pola perekrutan. Seperti disebutkan di atas, Anda perlu mengenali pola-pola perekrutan dan propaganda kelompok ISIS dan radikal lainnya.  Kenali pula ciri ajaran yang dikembangkan oleh kelompok tersebut, seperti kebencian kepada orang lain yang tidak segolongan, penolakan atas negara dan konsep Pancasila yang disebut sebagai komponen ajaran “thaghut”.
  • Mampu menolak dengan tegas bila mulai didekati. Jika Anda diajak untuk bergabung dengan kelompok yang berciri dan ditengarai sebagai kelompok radikal, beranilah untuk menolak ajakan tersebut. Tidak semata menolak, buatlah jarak dengan kelompok tersebut atau orang yang mengajak mengingat mereka akan tetap berupaya untuk memengaruhi Anda. Jika terus-menerus, laporkanlah ajakan tersebut kepada KBRI/KJRI terdekat.  
  • Terbuka untuk berdialog dengan orang lain jika menemui materi keislaman yang tidak dipahami. Korban yang paling sulit ditangani berdasarkan pengalaman NII CC adalah mereka yang paling tersugesti kelompok radikal. Mereka biasanya sudah masuk dalam dua atau tiga kali kegiatan, tidak bercerita dan berdialog pada dengan orang-orang di luar kelompok tersebut. Akhirnya, apa yang disampaikan oleh kelompok radikal itulah yang dianggap paling benar tanpa upaya mencari perbandingan pendapat. Pada tahap tersebut korban telah tercuci otak.
  • Kritis agar tidak mudah tersugesti. Kelompok radikal pada umumnya merasa takut dikritisi, karena mereka menganggap apa yang disampaikan kelompok radikal adalah yang paling benar termasuk tentang penafsiran ayat al-Qur’an dan hadits. Menghadapi hal tersebut, pekerja migran perlu secara kritis mencari sumber informasi pembanding. Rujuklah sumber informasi yang dapat dipercayai secara online, seperti web resmi NU dan Muhammadiyah. Daya kritis ini, dapat membantu PMI untuk selamat dari sugesti yang coba diperkenalkan oleh kelompok ekstrimis. 

===

Artikel ini merupakan Laporan Utama dalam Buletin Warta Buruh Migran, Edisi Oktober 2018. 

Sumber:

Tribunnews.com, (2016, Januari, 28). Tukang Bakso ini Menyesal Gabung ISIS di Suriah. Diakses pada November 26, 2018 dari http://www.tribunnews.com/nasional/2016/01/28/tukang-bakso-ini-menyesal-gabung-isis-di-suriah.

Tribunnews.com, (2017, Agustus, 14). Dikawal 11 Personel, 18 Eks ISIS Tiba di Indonesia, 17 Orang Masih di Suriah, Berikut Identitasnya. Diakses pada November 26, 2018 dari http://medan.tribunnews.com/2017/08/14/dikawal-11-personel-18-eks-isis-tiba-di-indonesia-17-orang-masih-di-suriah-berikut-identitasnya.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *