HeadlineTajuk

Ancaman Ekstrimisme di Kalangan Pekerja Migran

Author

Apakah yang mendorong seseorang bermigrasi bekerja di luar negeri? Pertanyaan ini banyak mengemuka dalam diskusi seputar isu pekerja migran. Jawaban yang kerap terdengar adalah mencari penghidupan yang lebih baik. Kehidupan ekonomi menjadi salah satu hal yang paling ingin diperbaiki dan menjadi alasan PMI bekerja di luar negeri.

Cita-cita berpenghidupan lebih layak, seperti pada pekerjaan lain, pada pekerja migran adalah hal yang telah menggerakkan ekonomi dan menghidupi banyak orang. Banyak keluarga migran yang berhasil disekolahkan dari hasil remitansi yang diterima PMI dari bekerja di luar negeri. Tidak kalah banyak pula usaha mandiri yang berkembang dari modal yang ditabung pekerja migran dengan bekerja di luar negeri.

Segala cita-cita berpenghidupan layak tersebut akan berhasil dengan perlindungan yang memadai bagi pekerja migran. Selama ini, perlindungan selalu dikaitkan dengan kepastian hukum dan pelayanan negara untuk memastikan pekerja migran menerima hak yang diperoleh dari bekerja. Hal ini mencakup perlindungan PMI atas kejahatan-kejahatan penempatan, seperti pembebanan biaya penempatan berlebih (overcharging), penipuan, jerat hutang dan pemalsuan dokumen yang berimplikasi hukum bagi pekerja di negara penempatan.

Kehadiran negara selalu dituntut untuk memastikan hal-hal tersebut. Namun, apakah ketika semuanya terpenuhi jalan keselamatan tersebut sepenuhnya selesai diterima? Adalah Dian Yulia Novi, seorang mantan PMI yang ditangkap oleh Datasemen Khusus Anti Teror saat hendak beraksi meledakkan istana negara dengan bom panci berhulu ledak tinggi pada 2016. Tidak jauh berbeda dengan Yulia, Carsim –seorang PMI di Korea, ditangkap otoritas Korea Selatan karena aksi dukungannya kepada kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Carsim divonis penjara di Korea. Polisi Diraja Malaysia pun pada pertengahan 2018 menangkap beberapa PMI di beberapa lokasi berbeda di Malaysia. PMI tersebut diduga terkait dengan kelompok pelaku teror.

Carsim, Yulia dan beberapa PMI di Malaysia adalah sekedar contoh. Segala impian keluarga untuk memperoleh ekonomi yang lebih baik berantakan hanya karena keterlibatan atau sekedar ekspresi dukungan kepada organisasi pelaku teror tersebut. Segala impian mensejahterakan keluarga pun pastilah tidak akan terwujud. Keselamatan pekerja migran kini tidak lagi semata ditentukan oleh perlindungan hukum dan kepastian hak, tetapi juga oleh keterlibatan mereka dalam organisasi yang benar.

Kampanye di media sosial maupun penjangkauan melalui pertemuan-pertemuan untuk menyebarluaskan ajaran kini mulai menyasar pekerja migran oleh kelompok pelaku terorisme. Yulia menunjukkan bagaimana perempuan bisa dijaring dan diarahkan langsung menjadi pelaku kekejian teror bom. Sementara Carsim menjadi petanda bahwa ideologi tersebut beredar di kalangan pekerja migran dan siap merekrut lebih banyak orang.

Tanda-tanda itu merupakan peringatan bagi PMI di mana pun untuk berhati-hati menerima paham baru berkedok agama tertentu yang mengajarkan kekerasan dan aksi terorisme. Kehati-hatian itu perlu untuk menyaring informasi yang tersebar di media sosial. PMI perlu tahu bahwa WNI yang bersimpati pada ISIS dan akhirnya berangkat ke Suriah tidak terpapar melalui pertemuan-pertemuan, beberapa di antaranya termakan ajakan yang tersebar di media sosial.

Saat ajakan bersimpati dan bergabung dengan kelompok tersebut sampai ke tangan Anda di perantauan, ingatlah kembali cita-cita jihad memuliakan keluarga dan membangun ekonomi keluarga yang dulu menjadi alasan bekerja di luar negeri.

Ilustrasi : Irfan dalam Warta Buruh Migran, Edisi September 2018

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.