Keluarga, Penangkal Utama Radikalisme

Author

Dwi Djoko Wiwoho (51) bersama istri dan tiga anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dinyatakan hilang pada tahun 2015. Belakangan diketahui bahwa ia pergi ke Suriah untuk bergabung dengan organisasi radikal, Islamic State in Iraq and Syria (Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS)). Keterlibatan Djoko dalam organisasi tersebut diduga karena pengaruh sang istri, Ratna Nirmala (52). Selain Joko masih ada 26 orang lain yang kesemuanya memiliki hubungan kekerabatan dengan sang istri.

Dalam sewindu terakhir, migrasi para pendukung ISIS dari seluruh penjuru dunia menuju Jazirah Arab telah meningkat secara dramatis. The Soufan Center, organisasi riset keamanan global dari Amerika Serikat mencatat lebih dari 40 ribu orang asing dari 110 negara telah bermigrasi ke Irak dan Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Dari angka tersebut, baru 5,6 ribu orang dari 33 negara yang telah kembali pulang. Melalui media sosial dan jaringan kekerabatan, ISIS telah berhasil memperoleh popularitas dan memengaruhi orang-orang dari seluruh penjuru dunia untuk bergabung dalam perang asing atas nama agama. Keluarga Dwi Djoko menjadi bukti nyata betapa kuatnya pengaruh keluarga dalam penyebaran radikalisme.

Radikalisme umumnya dimaknai sebagai keyakinan yang menginginkan perubahan sosial dan politik dengan balutan perjuangan disertai cara-cara kekerasan. Dalam kaitannya dengan agama, radikalisme ditandai dengan sikap intoleran, tidak menghargai keyakinan orang lain, serta adanya sikap revolusioner yang cenderung menggunakan kekerasan. Dengan mengacu pada pengertian ini tentu tidak diragukan lagi bahwa tindakan kekerasan ISIS tergolong dalam radikalisme bertopeng agama.

Penyebaran radikalisme atas nama agama dilakukan melalui banyak media di antaranya adalah pengajaran Islam yang kaku, ajakan teman sepergaulan atau bahkan kampanye melalui internet dan media sosial. Pengaruh keluarga terhadap proses radikalisasi memperoleh perhatian yang sangat minim. Padahal keluarga menjadi faktor yang paling dominan baik secara langsung maupun tidak langsung, baik untuk menyebarkan maupun menangkal radikalisme.

Pengaruh Langsung, Keluarga Sebagai Alat Kaderisasi Radikalisme

Penelitian Bakker (2006) menyatakan bahwa dari 242 jihadis yang menjadi responden, 50 di antaranya bergabung melalui jaringan kekerabatan. Dengan kata lain, 21 persen radikalisme agama terbentuk karena pengaruh langsung dari keluarga.
Selain kasus keluarga Dwi Djoko Wiwoho, peristiwa bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela dan Gereja Pantekosta, Surabaya adalah contoh nyata bagaimana keluarga menjadi cara mutakhir untuk menumbuhkembangkan radikalisme agama. Sang pelaku bom bunuh diri mengajak istri dan empat orang anaknya untuk melakukan aksi teror tersebut.

Bornstein (2002) dalam tulisannya yang berjudul Parenting Infants menyatakan bahwa keyakinan, perilaku dan cara berinteraksi di lingkungan keluarga akan memengaruhi perkembangan anak. Orang tua atau saudara menjadi purwarupa atau role model yang diikuti oleh anggota keluarga yang lebih muda. Sikap-sikap kecil, cara berinteraksi, pemikiran hingga aktivitas orang tua menjadi contoh bagi anaknya. Karenanya, ketika satu anggota keluarga telah terpapar radikalisme, maka sangat dimungkinkan anggota keluarga yang lain akan mengikuti jejaknya.

Komunikasi Sebagai Metode Penangkal Radikalisme

“Lantas bagaimana dengan keluarga kita, keluarga yang sekilas tampak baik-baik saja dan tidak ada anggotanya yang terpapar radikalisme?” Keluarga seperti ini juga tak luput dari ancaman radikalisme. Saya tidak bermaksud menakut-nakuti namun mengajak untuk mawas diri dan berhati-hati.

Di samping pengaruh langsung yang saya ulas di atas, masalah-masalah dalam keluarga dapat mendorong radikalisasi pada anak. Cowan dan Cowan (1992) dalam bukunya When Partners Become Parents menyatakan bahwa konflik antara orang tua dapat menurunkan kualitas interaksi mereka dengan anak-anaknya. Semakin tinggi konflik, orang tua akan semakin kehilangan “sinyal” dari anak-anaknya. Keberadaan dan kasih sayang orang tua akan hilang dan tidak dirasakan oleh sang anak.

Tentu kehilangan kasih sayang anggota keluarga tidak secara langsung mengarahkan anak pada radikalisasi. Secara tak langsung fenomena semacam ini dapat mendorong seorang anak untuk menerima kelompok radikal sebagai bagian dari kehidupannya.

Bjørgo, seorang peneliti ekstremisme Universitas Oslo menyatakan bahwa banyak anak muda terpikat pada kelompok radikal karena momentum yang pas. Ketika mereka berada dalam masa pencarian jati diri menuju kedewasaan, mereka tidak mendapatkan kasih sayang dan pengawasan yang cukup dari orang tua. Pada saat yang sama mereka mencari figur ayah atau ibu dari luar keluarganya. Jika sudah seperti itu, ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Sang anak akan terjangkit kenakalan remaja dan berbagai aksi kriminalitas atau bergabung dengan kelompok radikal. Pada kelompok inilah mereka akan bertemu dengan sosok dewasa yang memberikan kasih sayang layaknya orang tua.

Kesalahan cara komunikasi dapat menyebabkan renggangnya kontrol orang tua terhadap anak. Contoh paling umum adalah orang tua yang kurang menanggapi ide dan cita-cita anaknya. Orang tua menganggap cita-cita adalah wujud kemerdekaan anak. Tanpa komunikasi dengan orang tua, ide dan cita-cita anak akan dikomunikasikan kepada orang lain di luar keluarga. Jika salurannya benar, terkomunikasikan kepada guru di sekolah misalnya, tentu tidak menjadi masalah. Namun sebaliknya, jika ide dan cita-cita tersebut dikomunikasikan kepada seorang anggota kelompok radikal, tentu dampaknya akan sama dengan masalah konflik keluarga yang telah dibahas sebelumnya.

Selain masalah komunikasi, banyak orang tua yang sering tidak menyadari kerentanan anak-anak mereka terhadap radikalisme. Media sosial memungkinkan anak terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran kelompok radikal. Perkembangan teknologi yang berjalan bersamaan dengan proses tumbuh kembang anak, umumnya tidak diikuti oleh daya adaptasi dari orang tua. Sebagai orang tua, tentu kita harus memiliki pengetahuan tentang teknologi informasi, berbagai ideologi dan cara-cara menanggapi ketika anak-anak mulai melihat atau mempelajarinya.

Mengajarkan Toleransi Sejak Dini

Membincang soal perilaku-perilaku kecil di keluarga, rasisme perlu mendapat perhatian khusus. Tanpa sadar, kita sering menganggap diri kita lebih unggul dari orang lain hanya karena perbedaan ciri fisik, suku bangsa atau agama. Sikap inilah yang menjadi titik paling awal tumbuhnya radikalisme pada diri anak-anak.

Sikap kurang ramah terhadap orang-orang yang berbeda pelahan diserap oleh anak-anak dan menjadi keyakinan yang dipegang teguh hingga mereka dewasa. Jika di kemudian hari terdapat permasalahan hubungan antara sang anak dengan orang-orang yang berbeda suku atau agama, sang anak akan sangat rentan untuk melakukan aksi kekerasan. Terlebih jika permasalahan tersebut dibalut doktrin dan pemahaman agama yang kaku (tertutup, tekstual, fanatik) disertai sikap merasa paling benar.

Toleransi menjadi lawan kata bagi tindakan rasisme. Toleransi akan menjadi kunci sukses bagi anak untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Tiap orang tua perlu mengajarkan agar anaknya mampu berpikiran terbuka dan berempati terhadap setiap perbedaan. Sikap positif ini akan membuat seorang anak memperlakukan orang lain dengan baik, menentang permusuhan, dan kefanatikan.

Cara terbaik mengajarkan toleransi pada anak tentu bukan lewat perintah namun dengan memberikan contoh nyata. Terlalu banyak menyuruh justru membuat anak tak ingin menuruti keinginan orang tuanya. Orang tua juga sudah semestinya mendampingi anak ketika menggunakan gawai dan menonton televisi. Pasalnya, kurangnya pendampingan dapat menjerumuskan anak pada tontonan yang mengandung tindakan rasis dan radikal.

Umumnya anak-anak mulai tertarik kepada hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan pada usia empat tahun. Pada masa ini, orang tua harus mulai menjelaskan bahwa setiap agama mengajarkan kebaikan dan kasih sayang kepada sesama manusia. Memberi contoh nyata dengan tidak menyakiti teman, binatang, atau merusak tanaman akan memudahkan anak untuk memahami aplikasi ajaran agama yang toleran. Sedari dini orang tua perlu mengenalkan berbagai agama yang dianut masyarakat. Mengenalkan berbagai tempat ibadah juga dapat memudahkan penjelasan kepada mereka.

Kelekatan (attachment) orang tua terhadap anak adalah salah satu hal yang paling penting dalam membangun sebuah keluarga. Menurut Bowlby, salah satu peneliti dalam bidang psikologi, kelekatan yang dibangun dengan kasih sayang disebut dengan kelekatan aman (secure attachment). Hal ini ditandai dengan kesiapsiagaan orang tua untuk memberikan rasa aman bagi anaknya ketika membutuhkan segala sesuatu pada pada saat masa pertumbuhan. Jika dalam sebuah keluarga terbentuk pola kelekatan aman, maka individu dalam keluarga tersebut memiliki persepsi positif dalam menjalani hidup dan akan lebih kooperatif dengan anggota keluarga yang lain.

Kaitannya dengan penangkalan radikalisme, jika keluarga menerapkan kelekatan aman maka akan menghasilkan individu positif dan kooperatif. Individu semacam ini tidak rentan pada pengaruh radikalisme karena hidupnya terfokus untuk menjalani hal-hal positif. Jika pun terjadi hal yang tidak diinginkan, ia cenderung lebih mudah berkomunikasi dengan keluarganya. Dengan demikian keluarga bisa menjadi pendorong, pemberi nasihat dan kasih sayang yang utama. Sejalan dengan perintah Allah kepada manusia untuk menyebar rahmat atau kasih sayang (Al-Qur’an surat Al-Anbiya: 107) serta menciptakan keluarga yang tenteram penuh kasih sayang (Al-Qur’an surat Ar-Rum: 21).

Sumber Referensi:

Nurul (ed.), (2015). Jika Djoko dan yang Pernah Gabung ISIS ke Suriah Kembali ke Indonesia. Diakses pada 10 Desember 2018 dari https://www.batamnews.co.id/berita-8711-jika-djoko-dan-yang-pernah-gabung-isis-ke-suriah-kembali-ke-indonesia.html

Muhammad Zuhri (ed.), 2015. 6 Fakta Mengejutkan tentang Direktur PTSP BP Batam Dwi Djoko Wiwoho yang Gabung ISIS. Diakses pada 10 Desember 2018 dari https://www.batamnews.co.id/berita-8732-6-fakta-mengejutkan-tentang-direktur-ptsp-bp-batam-dwi-djoko-wiwoho-yang-gabung-isis.html

BBC Report. (2017). IS foreign fighters: 5,600 have returned home – report. Diakses pada 10 Desember 2018 dari https://www.bbc.com/news/world-middle-east-41734069.

Infid (2018). Urgensi dan Strategi Efektif Pencegahan Ekstremisme di Indonesia. Jakarta: Infid.

Bornstein, M.H. (2002). Parenting infants. dalam M.H. Bornstein (Ed.), Handbook of parenting. Volume 1: children and parenting. Mahwah: Lawrence Erlbaum Associates, Inc., 3- 43.

Cowan, C.P., & Cowan, P.A. (1992). When partners become parents. New York: Basic Books.

Bjørgo, T., & Horgan, J. (2009). Leaving terrorism behind: individual and collective disengagement. New York: Routledge.

Bowlby, J. (1973). Attachment and Loss Volume II Separation Anxiety and Anger. New York: Basic Books

Sumber gambar: Family

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *