Tingkatkan Keterampilan Komunitas Pekerja Migran, Infest Gelar Pelatihan Videografi di Blitar dan Ponorogo

Author

Perkembangan teknologi tak dimungkiri telah menggerakkan dunia menuju digitalisasi informasi. Sejak Revolusi Industri keempat atau dikenal dengan istilah industry 4.0 digaungkan pada tahun 2011, percepatan perkembangan teknologi, industri dan pola sosial terjadi secara eksponensial akibat meningkatnya interkoneksi dan kecerdasan otomatis. Percepatan ini ditandai dengan transformasi digital di berbagai lini seperti industri, ekonomi, komunikasi dan informasi. Jika dalam ranah industri, otomatisasi digerakan oleh data melalui teknologi machine learning dan artificial intelligence (AI) serta kemunculan e-commerce pada industri retail sebagai contoh, dalam dunia komunikasi dan informasi secara sederhana dapat dilihat dari penggunaan internet yang semakin masif. Pola penyebaran informasi menjadi lebih inklusif melalui berbagai platform media sosial dan kemunculan berbagai portal berita daring.

Tantangan yang dihadapi di era industri 4.0 pun semakin besar dimana banyak pekerjaan manusia dapat digantikan oleh mesin. Namun, berbagai jenis pekerjaan baru pun muncul meski akan membutuhkan waktu untuk mengejar perkembangan teknologi yang begitu pesat. Kemampuan manusia beradaptasi dengan kondisi ini akan semakin diuji. Pergerakan dunia komunikasi dan informasi juga mengalami transformasi dari masa ke masa yang semula tekstual, audio, sampai pada audiovisual. Sebagai respons atas kebutuhan adaptasi dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, Lembaga Kajian Pengembangan Pendidikan, Sosial, Agama dan Kebudayaan (Infest) Yogyakarta yang telah lebih dari satu dekade melaksanakan program pemberdayaan dan advokasi bagi pekerja migran Indonesia, menginisiasi pelatihan pembuatan konten videografi bagi pegiat Komunitas Pekerja Migran Indonesia (KOPI) di Kabupaten Blitar dan Ponorogo. Pelatihan ini juga merupakan integrasi dari pelatihan jurnalisme warga yang diadakan pada bulan Mei lalu.

Pelatihan pembuatan konten videografi dilaksanakan di Blitar pada 4-5 Juli 2023 dan di Ponorogo pada 6-7 Juli 2023. Melibatkan anggota KOPI dari 5 desa di Blitar meliputi desa Gogodeso, Jatinom, Lorejo, Pandanarum dan Sumberagung. Selain itu juga melibatkan anggota KOPI dari 5 desa di Ponorogo meliputi Bringinan, Gelanglor, Karangpatihan, Ngendut dan Pondok. Melalui pelatihan ini peserta diharapkan dapat memahami langkah-langkah mengembangkan konten digital berbasis video, mempraktikkan prosedur dan etik jurnalistik dalam mengembangkan konten digital, mampu menganalisis produk konten digital yang disebarkan, serta mengembangkan keterampilan teknis dalam pembuatan konten dengan memanfaatkan peralatan yang ada.

Pada hari pertama pelatihan, pertama-tama setiap peserta diajak untuk mengenal langkah-langkah mengembangkan konten digital berbasis video. Kemudian mengenali teknis dan simulasi pengambilan gambar. Selanjutnya peserta diajak berdiskusi penyusunan naskah dan rencana pengambilan gambar. Setelah beberapa tahapan terlaksana, peserta kemudian menyusun tugas praktik pembuatan video berdasarkan topik-topik yang telah ditentukan oleh masing-masing KOPI.

Sebelum sesi pengenalan materi, dalam pembukaan pelatihan Yudi Setyadi selaku pemateri menyampaikan pentingnya membangun visi dan branding dalam mengembangkan konten agar peserta tidak hanya fokus pada jumlah follower saja seperti yang sudah sering terjadi pada pemula dalam mengembangkan konten digital.

“Penting untuk membuat konten yang bernilai agar pesan dalam video dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton,” ujar Yudi.

Yudi juga menerangkan bagaimana membangun branding dan berbagai aspek di dalamnya berikut peruntukannya. Ia mengajak para peserta mengenali beberapa istilah seperti exposure, engagement, awareness, followers, dan community. Tak hanya mengenalkan istilah, ia juga menjelaskan bagaimana membangun komunitas (community) dari suatu brand mulai dari menjangkau lebih banyak orang (exposure), menjalin interaksi dua arah (engagement), meningkatkan pengetahuan dan kepedulian terhadap suatu brand (awareness), meningkatkan jumlah pengikut (followers) hingga komunitas yang solid benar-benar terbangun. Selain itu, Yudi juga menjelaskan tentang film atau video beserta kategorisasinya.

Foto: peserta pelatihan videografi di Ponorogo

Jarot Waskito melalui sesi langkah demi langkah pembuatan konten berbasis video memaparkan pentingnya komposisi dan sudut pandang dalam pengambilan gambar agar konten yang dibuat menarik dan enak dipandang.

“Komposisi dan perspektif pengambilan gambar itu penting, tujuannya apa, untuk memanjakan mata penonton,” ujar Jarot saat menjelaskan materi komposisi dan perspektif pengambilan gambar. Jarot juga menambahkan rumus sederhana dalam teknik pengambilan gambar agar para peserta mudah mengingat teknik menembak pada saat simulasi.

Pada sesi akhir pelatihan hari pertama, peserta berdiskusi untuk menentukan topik dan menyusun naskah sebagai tolok ukur pembuatan konten yang akan diputar pada hari kedua. Pengetahuan yang peserta dapat melalui pelatihan jurnalisme warga sangat membantu proses mereka dalam penyusunan naskah yang lebih terarah. Yudi, menekankan perlunya membuat detail naskah atau script untuk membantu proses pengambilan gambar hingga editing agar menghasilkan konten video yang terstruktur dan menarik.

Pada hari kedua, peserta diajak mengingat kembali ilmu yang telah mereka peroleh pada hari pertama serta memetakan tantangan dan solusi melalui sesi review. Kumpulan gambar atau video yang telah mereka tangkap di hari sebelumnya kemudian diedit bersama dengan arahan teknis dan pendampingan dari Jarot. Selanjutnya proses review naskah dan video dilakukan bersamaan dengan pemutaran video untuk melihat kesesuaian dan konsistensi antara naskah dan hasil video yang dihasilkan.

Setelah berhasil memproduksi konten, peserta diajak berdiskusi tentang tema konten berbasis komunitas dan bagaimana konten yang mereka hasilkan dapat menjangkau khalayak luas. Melalui sesi mengenal user engagement dan analisis, peserta diajak mengenali segmentasi pasar yang mereka targetkan sekaligus mengukur tingkat keberhasilan pengembangan konten. Sebagai pelatihan yang terintegrasi, peserta tidak hanya belajar menghasilkan konten dan mempublikasikannya secara orisinal, namun mampu menentukan target dan cara mencapai target mereka.

Pada sesi akhir pelatihan, peserta menentukan rencana tindak lanjut sebagai komitmen dan penentu langkah komunitas yang mereka ambil guna mengembangkan konten video berbasis komunitas. Hal ini adalah langkah komunitas untuk mengenalkan komunitas itu sendiri (community branding), mempromosikan usaha komunitas (product branding/brand’s image), penyebaran informasi terkait potensi desa dimana komunitas berada, hingga pengenalan isu-isu terkait migrasi khususnya pekerja migran dan anggota keluarganya selaras dengan tujuan dari rangkaian berbagai pelatihan yang didapat oleh KOPI secara menyeluruh. Pelatihan ini sekaligus menjawab tantangan dan peluang berbagai profesi baru pada era digitalisasi informasi dengan mengembangkan keterampilan khusus bagi komunitas di tingkat desa hingga dapat bersaing secara global.

Di samping mencapai tujuan, pelatihan ini juga diharapkan memberi manfaat bagi pegiat KOPI. Ravita Setyara Dewi salah satu pegiat KOPI dari desa Ngendut, Ponorogo mengungkapkan bahwa melalui pelatihan ini ia menjadi paham akan dunia editing. “Saya jadi tahu cara mengambil video yang benar, tata letak kamera yang pas agar video layak ditonton,” ujar Ravita.

Tohari, ketua KOPI Gelanglor, Ponorogo, juga mengatakan bahwa ia tak hanya mendapatkan ilmu tentang cara mengunggah video ke kanal YouTube tetapi juga trik penyebaran konten. “Pelatihan videografi sangat bermanfaat dan keren banget,” ungkap Tohari, pegiat KOPI Gelanglor usai pelatihan.

Manfaat pelatihan juga dirasakan oleh pegiat KOPI Sumberagung, Blitar, Yatma Dewi, di mana pelatihan menjadi kegiatan yang menyenangkan dan banyak ilmu baru yang bisa ia terapkan untuk meningkatkan skill.

“Saya senang selain mendapat ilmu, tim Infest juga pandai mengemas kegiatan jadi menyenangkan sehingga kita tidak bosan meski berjam-jam di dalam ruangan,” ujar Dewi. Ia juga berharap kegiatan ini berkelanjutan. [Novia Putri]

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.