Membuka Ruang Partisipasi, Membangun Mimpi

Author

“Saya datang ke sini untuk mendapatkan ilmu baru dan berharap yang kita rembug hari ini bisa bermanfaat untuk desa.” Dwi Mari, perwakilan kelompok perempuan Desa Sumberagung, Blitar.

Sabtu, 11 Juni 2022, balai Desa Sumberagung, Kecamatan Gandusari, Blitar tampak ramai. Dwi Mari menjadi satu dari 67 orang yang hadir di balai desa untuk mengikuti pelatihan Perencanaan Apresiatif Desa (PAD) yang diselenggarakan secara kolaboratif antara Yayasan INFEST Yogyakarta bersama pemerintah Desa Sumberagung. Pelatihan selama dua hari ini melibatkan para penggerak desa yang terdiri dari perwakilan kelompok perempuan, pemuda, perangkat desa, PKK, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), termasuk komunitas pekerja migran Indonesia (KOPI) Desa Sumberagung.

Sugiono, Kepala Desa Sumberagung dalam sambutannya berharap forum ini menjadi titik awal bagi desa untuk menemukenali pelbagai potensi dan tantangannya. Ia juga berharap semakin banyak warga dari segala lapisan bisa berpartisipasi aktif dalam memajukan desa. “Sehingga bisa terwujud Desa Sumberagung yang sejahtera, cerdas, beriman, dan berkualitas,” ujar Sugiono.

Muhammad Khayat, dari Yayasan INFEST Yogyakarta menyampaikan bahwa proses perencanaan apresiatif menjadi salah satu cara bagi masyarakat desa untuk mengenal desanya sendiri. Melalui model perencanaan ini, desa mempunyai basis data yang faktual sebagai bekal dalam merumuskan kebijakan dan perencanaan pembangunan. Selain aset dan potensi, desa bisa merumuskan alat ukur sendiri tentang data kesejahteraan warganya. Juga, desa mempunyai basis data seluruh masyarakat marginal yang seharusnya menjadi sasaran utama dalam pembangunan.

Melalui pelatihan selama dua hari ini, semua orang yang hadir diajak bersama untuk membangun mimpi dan berembuk untuk kemajuan desanya. “Visi kepala desa yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa) harusnya juga menjadi mimpi bersama masyarakat,” terang Khayat.

Membangun Mimpi dan Strategi

Edi Purwanto, fasilitator program di Kabupaten Blitar mengajak para penggerak desa untuk bermimpi tentang perubahan di desa. Pertama, Edi mengajak peserta untuk menggambarkan pemandangan. Ternyata, lebih dari separuh peserta menggoreskan gambar yang hampir sama, sawah dengan latar dua gunung. Semua tertawa. “Ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari kita masih berpikir di dalam kotak karena dari dulu seperti itu. Jangan-jangan begitu juga dalam perencanaan pembangunan desa,” ujar Edi.

Setelah itu, peserta dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan visi pemerintah Desa Sumberagung: sejahtera, cerdas, beriman, dan berkualitas. Masing-masing kelompok diajak untuk mendiskusikan sekaligus mengimajinasikan strategi, taktik, dan tahapan yang bisa menopang visi pemerintah desa tersebut. Dalam diskusi ini, forum berlangsung menarik. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil pembahasannya dan disambut masukan dari kelompok lainnya. Misalnya kelompok sejahtera, menyampaikan beberapa pendapat seperti perlunya dukungan kepada pelaku usaha kecil menengah (UKM) di desa, pengembangan potensi ekonomi lokal hingga validasi data kesejahteraan.

“Melalui validasi data kesejahteraan penyaluran bantuan atau program bisa lebih tepat sasaran,” ujar Dwi Mari.

Dwi Mari, warga Desa Sumberagung mempresentasikan langkah yang dilakukan untuk menuju desa sejahtera. 
Dwi Mari, warga Desa Sumberagung mempresentasikan langkah yang dilakukan untuk menuju desa sejahtera.

Atau, di kelompok cerdas misalnya menyatakan bahwa perlunya mengidentifikasi anak-anak yang tidak lulus sekolah dasar atau menengah hingga pemberdayaan komunitas dan kelompok yang aktif di desa. “Di Desa Sumberagung ini ada beberapa kelompok seperti peternak, petani, industri rumah, hingga purna pekerja migran yang bisa menjadi penggerak kemajuan desa,” terang Marjoko, salah satu perwakilan pelaku usaha dan pemuda.

Diskusi hari pertama ini bermuara pada pemahaman bahwa pengungkit perubahan di desa ialah keterlibatan aktif semua aktor. Sementara, untuk mewujudkannya dibutuhkan bekal data dan informasi yang faktual. Untuk itu, pada hari kedua (12 Juni 2022), peserta dibagi kembali menjadi empat kelompok yakni tim kewenangan desa, kesejahteraan lokal, aset dan potensi, serta gagasan kelompok marginal untuk pembangunan desa.

Tim kewenangan desa terdiri dari perwakilan BPD, pemerintah desa, sesepuh desa, serta perwakilan pemuda. Dipandu Muhammad Khayat, peserta diajak untuk membahas perubahan kebijakan pengaturan desa. Termasuk menelisik sejarah desa dan mengidentifikasi kewenangan yang melekat berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa. “Setelah bertahun-tahun menjadi sekretaris desa, baru kali ini saya mengetahui sejarah Desa Sumberagung dan alur kebijakan mengenai desa,” ujar Ita Yuliani sembari terkekeh.

Tim kesejahteraan didominasi oleh kelompok perempuan. Mereka merasa jengah karena pendataan sudah sering dilakukan tetapi penerima manfaat sering tidak tepat sasaran. Selain itu, data yang dihasilkan sering kali tidak bisa diakses oleh desa sebagai dasar merumuskan kebijakan. Tim ini kemudian mendiskusikan ukuran dalam penentuan tingkat kesejahteraan warga desa, di antaranya yakni kepemilikan aset, rumah, sanitasi, pendapatan, pendidikan, sandang, dan akses kesehatan.

Tim aset dan potensi berperan mengidentifikasi potensi yang ada di Desa Sumberagung serta strategi pengembangannya untuk kesejahteraan masyarakat. Aset dan potensi sekurang-kurangnya bisa dibagi ke dalam tujuh jenis, yakni sumber daya alam, sumber daya manusia, keuangan, kelembagaan, fisik, sosial, kebudayaan dan spiritualitas.

Sementara, untuk tim usulan kelompok marginal dimulai dengan mendiskusikan pengertian marginal. “Marginal itu mereka yang terpinggirkan atau memiliki keterbatasan akses karena kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan kebijakan,” terang Anny Hidayati, fasilitator Yayasan Infest Yogyakarta. Dari identifikasi yang dilakukan oleh tim ini, ada beberapa kelompok yang masuk dalam pengertian marginal tersebut, di antaranya petani gurem, anak putus sekolah, pengangguran, lansia, difabel fisik dan mental, perempuan kepala rumah tangga, pemulung, serta pekerja migran. Selanjutnya, tim ini akan melakukan identifikasi jumlah, permasalahan, serta usulan dari tiap-tiap individu yang termasuk dalam kategori marginal.

Membuka Ruang Partisipasi

Sariman, perwakilan BPD Sumberagung menyatakan mendapatkan pengetahuan dan ilmu baru dari pelatihan ini. Selain itu, ia berharap pelatihan ini menjadi titik awal untuk menggerakkan aktor-aktor yang ada di desa. Terlebih, banyak wajah-wajah baru yang terlibat dalam forum di desa ini. “Sehingga, di desa akan terus ada generasi penerus yang peduli terhadap kemajuan desa,” ujarnya.

Akmal Zaim, perwakilan karang taruna Desa Sumberagung mengaku baru kali ini terlibat dalam forum pembahasan perencanaan di desa. Dari hasil diskusi tim pemetaan aset dan potensi ia juga baru mendapatkan informasi baru mengenai sumber daya yang ada di desanya. Misalnya, ia baru tahu nama mata air Watu Genteng, padahal setiap hari ia mengonsumsi airnya.

Selain pelatihan, forum ini juga menjadi ruang pertemuan antara pemerintah desa dengan masyarakat. Komunikasi dan dialog yang tercipta cukup cair dan komunikatif. Seperti Nuryanti dari komunitas pekerja migran yang mengusulkan perbaikan jalan di dusunnya. “Kalau papasan dengan kendaraan besar terlalu berbahaya, terutama saat mengantar anak berangkat dan pulang sekolah,” ujarnya. Pertanyaan dan usulan dari masyarakat bisa langsung sampai dan direspon oleh pemerintah desa.

Sugiono dalam penutupnya menyatakan apresiasi kepada tim penggerak Desa Sumberagung yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk kemajuan desa. Banyak ide, pendapat, dan masukkan yang penting bagi pemerintah desa. “Semoga ke depannya tetap menjadi mitra yang saling mendukung,” pungkasnya. [Redaksi Warta Buruh Migran]

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.