Perencanaan Modul Kewirausahaan bagi Calon Pekerja Migran beserta Keluarganya di Blitar dan Ponorogo

Author

Yayasan Lembaga Kajian Pengembangan Pendidikan, Sosial, Agama, Kebudayaan (INFEST) Yogyakarta melakukan peneraan untuk penulisan modul kewirausahaan bagi calon pekerja migran Indonesia (PMI) beserta keluarganya. Pada 3 Mei 2021, proses peneraan dilangsungkan di Kabupaten Ponorogo dengan melibatkan perwakilan KOPI Desa Bringinan, Pondok, dan Gelanglor. Kemudian, pada 4 Mei, proses peneraan dilangsungkan di Blitar dengan melibatkan perwakilan KOPI Desa Gogodeso, Jatinom, dan Pandanarum.

Peneraan ini menjadi proses pengamatan awal sekaligus penggalian informasi untuk proses penulisan modul kewirausahaan. Untuk itu, melibatkan anggota KOPI sebagai sumber informasi menjadi penting supaya modul bisa diaplikasikan dan sejalan dengan kebutuhan komunitas. Sebab, pada periode 2021-2023, selain memperluas penerima manfaat program, INFEST Yogyakarta juga mulai memfokuskan diri pada pendampingan kewirausahaan kepada enam KOPI di Blitar dan Ponorogo. Proses pendampingan kewirausahaan untuk mempersiapkan kemandirian masing-masing komunitas.

Peneraan dilakukan oleh konsultan INFEST Yogyakarta untuk penulisan modul kewirausahaan, Ayu Dini Kartika Putri. Secara teknis, peneraan dilakukan dengan metode wawancara kepada satu per satu informan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan antara lain mengenai pengalaman, bentuk usaha, taktik, kendala dan bagaimana dukungan keluarga terkait usaha yang pernah maupun sedang dilakukan. Selain itu, pertanyaan mengenai harapan dan manfaat yang diinginkan dari modul kewirausahaan ini juga diajukan.

Proses peneraan berlangsung lancar dan interaktif. Sebagian besar peserta dapat menceritakan bagaimana keadaan usaha yang sedang mereka jalankan saat ini beserta kendala. Ada pula salah satu anggota KOPI yang telah memiliki usaha cukup besar dan justru membagikan pengalaman usahanya kepada anggota KOPI yang lain saat kegiatan ini berlangsung.

Salah satu peserta kegiatan, Bapak Kedeni yang juga merupakan perangkat desa sangat meyakini untuk mengikuti program ini. Beliau menyatakan bahwa perlu adanya suatu pelatihan terstruktur tentang kewirausahaan, sehingga kedepannya ketika Beliau sudah tidak menjabat sebagai perangkat desa bisa memiliki dan menjalankan usahanya sendiri dengan baik. Didukung pula oleh Khairul Rahmanto yang saat ini sedang merintis usaha kios sembako, mengharapkan adanya pelatihan yang dapat memperbaiki usahanya agar tidak gagal kembali karena kesalahan dalam manajemen waktu.

Para peserta yang belum memiliki usaha antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka juga berharap agar modul ini bisa diaplikasikan dan menjadi panduan dalam merancang kegiatan usaha. Di akhir pertemuan, dilakukan diskusi singkat tentang rencana pengembangan ekonomi komunitas di masing-masing desa.

Tulisan ini ditandai dengan:Blitar kopi modul kewirausahaan Ponorogo 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.