Pertolongan Pertama Psikologi Bagi PMI di Tengah Pandemi

Author

Beberapa bulan terahir, badai pandemi masih mengancam hampir seluruh warga di dunia. Kita juga sudah begitu banyak disuguhkan informasi tentang Pandemi Corona (Covid-19).  Pandemi adalah suatu wabah penyakit global. Menurut World Health Organization (WHO), pandemi dinyatakan ketika penyakit baru menyebar di seluruh dunia melampaui batas.

Menurut Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2007, situasi pandemi ini bisa dikategorikan sebagai bencana non alam. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang menancam dan mengganggu kehiudpan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian, harta benda, dan dampak psikologis (UU 24/2007).

Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam. Beberapa contohnya adalah gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Reaksi umum setelah terjadinya bencana sangat beragam, baik berdampak pada fisik, kognitif, sosial, dan emosional. Dampak emosional ini yang biasanya jarang disadari dan terkadang lebih banyak diabaikan oleh seseorang. Dampak emosional bisa dialami semua orang, dalam hal ini termasuk para pekerja migran Indonesia (PMI) dengan beban kerja tertentu.

Akhir-akhir ini, perbincangan tentang dampak psikologis di tengah pandemi juga menjadi kegelisahan tersendiri. Termasuk dalam salah satu diskusi tentang “Pertolongan Pertama Psikologi di Tengah Krisis” yang diadakan oleh Wellbeing Jakarta pada Senin (5/4/2020) lalu. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber yang terdiri dari Psikolog Klinis, Mario Carl Joseph, M.Psi., Psikolog dan seorang praktisi Jin Sin Jyutsu, Greg Jakaria. 

Beberapa ketrampilan dasar pertolongan pertama psikologi bisa diterapkan siapapun, termasuk pekerja migran Indonesia (PMI) di tengah penatnya bekerja maupun sekian kekhawatiran di tengah pandemi ini. Beberapa ketrampilan ini juga bukan hanya penting untuk diterapkan ke diri saya sendiri, namun juga kepada orang lain yang terhubung dengan kita baik online maupun offline.

PMI Bisa Lakukan Sendiri 

Nah dalam situasi krisis ini, PMI juga bisa mencoba Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologi adalah sebuah intervensi psikologi singkat, praktis, dan fleksibel. Berupa pemberian bantuan kepada individu, keluarga dan masyarakat, yang menderita karena baru saja mengalami peristiwa krisis, keadaan darurat atau bencana. 

Menurut Mario, PFA bertujuan untuk memberikan bantuan untuk mengurangi reaksi stres sebagai dampak dari peristiwa traumatis dan mempercepat proses pemulihan. PFA bukan proses penyembuhan trauma. Dapat diberikan secara personal atau kelompok. 

PFA juga bisa dilakukan ketika kita ada di rumah atau ketika kita ingin membantu seseorang secara jarak jauh. Kita juga bisa menolong teman kita dengn menjadi pendengar yang aktif. Pendengar aktif bertujuan untuk mendapatkan gambaran lengkap dan membuat penyintas merasa nyaman karena diperhatikan dan dipahami. Di sini kita harus peka atas apa yang kita ucapkan, jangan sampai kita menghakimi, sok menasehati, apalagi melakukan menginterogasi. Menjadi pendengar aktif saat bertemu langsung, pun ada tata cara duduk duduk dan bagaimana bahasa tubuh kita. 

Terapi Stabilisasi Emosi 

Mario dan Greg Jakaria juga merekomendasikan beberapa terapi untuk stabilisasi emosi ini bisa dicoba. Beberapa di antaranya sebagai berikut: 

Sensing Fingertips

Terapi merupakan salah satu terapi untuk kesetabilan emosi kita. Berikut adalah teknik sensing fingertips yang bisa kita lakukan: 

  • Ambil posisi dan bernapaslah seperti biasa, pertemukan ujung-ujung jari-jari tangan kiri dan tangan kanan Anda. Posisi tangan di depan perut (posisi berdiri), diatas pangkuan (posisi duduk), atau diatas perut (posisi tidur). Ibu jari dengan ibu jari, telunjuk dengan telunjuk, dan seterusnya. Jangan terlalu ditekan, cukup dengan sentuhan ringan (1 menit) ;
  • Pejamkan mata Anda dengan ringan (tanpa tekanan), lalu mulai tarik napas dalam dan bernapas secara perlahan, lebih perlahan dan sangat perlahan. (1 menit) ;
  • Setelah Anda mencapai keadaan lebih tenang, coba rasakan denyut nadi diujung-ujung jari. Denyutnya terasa sangat halus, bahkan hampir-hampir tidak teraba. Terus pusatkan perhatian pada ujung-ujung jari, coba rasakan denyutnya. (2 menit);
  • Bila Anda tidak segera dapat merasakannya tidak perlu khawatir, sebagian orang memerlukan waktu lebih lama dari orang lain, Anda hanya perlu lebih fokus lagi, kesampingkan semua pikiran yang mengganggu dan pusatkan perhatian, hanya pada ujung-ujung jar-jari Anda;
  • Setelah Anda dapat merasakannya, selanjutnya Anda dapat mengatakan dalam hati kata-kata yang dapat menenangkan Anda, bersamaan dengan denyut nadi yang Anda rasakan. Seperti, “sabar … sabar …. sabar” atau “tenang … tenang … tenang …” atau “saya bisa … saya bisa … saya bisa” atau doa yang biasa Anda ucapkan. (3 menit); 
  • Lanjutkan pernapasan dalam dan perlahan, rasakan denyut nadi di ujung-ujung jari;
  • Tetap berada di sini untuk beberapa saat sesuai kebutuhan Anda, kenali sensasi positif yang muncul, rasakan dan nikmati. (2 menit);
  • Anda bisa membuka mata kembali bila dirasakan cukup dan sudah merasa lebih tenang;
  • Setelah beberapa kali latihan, Anda bisa melakukannya dengan mata terbuka dan sambil melakukan hal lain, misalnya ketika mendengarkan orang lain berbicara, riles di tengah pekerjaan, mengikuti kegiatan, dan sebagainya. 

Terapi Jin Shin Jyutsu (JSJ)

Selain terapi yang direkomendasikan oleh Mario, terapi lain juga direkomendasikan oleh Greg Jakaria, Praktisi Jin Shin Jyutsu (JSJ) adalah salah bentuk terapi tradisional dari Jepang kuko yang dapat membantu mengatasi berbagai masalah kesehatan dan kontrol emosi dengan jalan menerapi diri sendiri atau orang lain lewat bantuan sentuhan-sentuhan lembut pada jari-jari tangan kita.

Prinsip kerjanya sebenarnya sederhana saja, karena di tubuh kita terdapat berbagai tombol-tombol/titik khusus yang mampu memulihkan berbagai keluhan fisik karena adanya hubungan didalam sistem peredaran darah dan persyarafan jari yang terhubung langsung ke berbagai organ dalam tubuh kita.

Titik itulah yang apabila dengan melakukan sedikit intervensi/sentuhan pada daerah yang tepat diharapkan memberikan manfaat bagi kesehatan. Dalam terapi Jin Shin Jyutsu disebutkan bahwa setiap dari jari kita mempunyai hubungan yang spesifik dengan organ dalam.

Berikut teknik JSJ yang bisa diterapkan sendiri oleh kita: 

  • JEMPOL: membantu mengatasi: depresi, kebencian, obsesi, kecemasan, kelelahan fisik, untuk bagian belakang kepala, pernapasan, dan gangguan pencernaan. 
  • TELUNJUK: membantu mengatasi : rasa takut, kebingungan, depresi, perfeksionisme, frustrasi, masalah pencernaan, ketidaknyamanan pada pergelangan tangan/siku/lengan atas. 
  • JARI TENGAH: membantu mengatasi: rasa marah, mudah, tersinggung, ragu-ragi, tidak stabil, tidak waspada, terlalu emosional, kelelahan, masalah mata, ketidaknyamanan di area dahi. 
  • JARI MANIS: membantu mengatasi: perasaan sedih, negatif, pernapasan, ketidaknyamanan di telinga. 
  • KELINGKING: membantu mengatasi: rasa tidak aman, gugup, bingung, menegangkan saraf, mengurangi kembung, tahap awal sakit tenggorokan. 

Melakukan Rujukan 

Jika kita membantu teman kita dengan PFA ini, kita juga bisa melanjutkannya dengan melakukan rujukan ke layanan kesehatan (medical sevice). Atau, bisa juga kita rujuk ke layanan konseling atau tele-konseling. Selain itu, layanan lainnya bisa dilakukan sesuai kebutuhan. Bila ada keraguan atau kita merasa tidak mampu, maka kita bisa memberikan pertolongan yang dibutuhkan, yaitu segera lakukan rujukan ke profesional dan pertolongan lanjutan lainnya. Pesan Mario, meskipun kita gagal menenangkan korban atau klien, bukan berarti kita gagal. Setidaknya kita telah melakukan sesuatu. 

Lalu, bagaimana tanda-tanda seseorang perlu dirujuk? Yaitu saat dia merasakan emosi negatif hampir setiap waktu dengan intensitas mendalam. Selain itu juga ada perubahan perilaku yg signifikan; fungsi sosial terganggu; tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri; hubungan sosial memburuk; merokok berlebihan; menggunakan alkohol, narkoba sulit mengambil keputusan sendiri; terus menerus teringat pada kejadian; mudah terkejut, mimpi buruk; menampilkan emosi datar atau reaksi emosi berlebihan; kehilangan minat; mengungkapkan keinginan untuk bunuh diri. 

Lalu bagaimana jika kita melakukannya di rumah? Tetap dekat secara sosial bahkan ketika menjaga jarak fisik; miliki rutinitas harian; menetapkan tujuan dan tetap aktif; rencanakan waktu sendirian dan waktu bersama jika hidup dengan orang lain; menggunakan teknik manajemen stress; dan menerima perasaan. 

 

Ilustrasi: FREEPIK

Tulisan ini ditandai dengan:corona Covid-19 panduan psikologi Pekerja Migran Indonesia PFA PMI 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *