Pentingnya Menjaga Kesehatan dan Mengingat Tujuan Kerja Pekerja Migran

Author

Dialog publik tentang pemberdayaan perempuan dan kesehatan reproduksi, Minggu, 24/11/2019

Salah satu tujuan pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di luar negeri adalah mengubah taraf hidup dan perekonomian keluarga menjadi lebih baik. Namun demikian, ada juga PMI yang  kurang bernasib baik dan memiliki masalah, seperti terjerat hutang, persoalan ketenagakerjaan maupun persoalan kesehatan. Berangkat dari banyaknya permasalahan yang dihadapi PMI di Hong Kong, Peduli Kasih yang berkolaborasi dengan Voice of Migrants (VoM), Komunitas Katolik Indonesia Hong Kong (KKIHK), Pathfinder, Enrich dan juga Mission for Ethnic Minorities Sexual Health (MESH), mengadakan dialog publik tentang pemberdayaan perempuan dan kesehatan reproduksi, Minggu, 24/11/2019.

Perwakilan dari Pathfinder, Lily Wong dan Aline, memberikan pemaparan tentang pencegahan kehamilan dan aborsi di kalangan PMI di Hong Kong. Kehamilan di kalangan pekerja migran di negara tujuan penempatan seringkali dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Tak jarang pekerja migran ingin menyembunyikan kehamilan atau bahkan menggugurkan kandungan dengan meminum obat-obatan. Padahal, aborsi dan membuang bayi di Hong Kong adalah melanggar ketentuan hukum. 

Ketika mendapati hamil di negara tujuan penempatan, PMI perlu bersikap tenang karena masih berhak untuk bekerja, mendapat cuti hamil dan melahirkan di Hong Kong. PMI yang hamil masih dapat bekerja dengan kesepakatan dan persetujuan majikan. Majikan juga tidak boleh memutuskan kontrak kerja secara sepihak tanpa memberi one month notice (pemberitahuan sebulan sebelum pemutusan hubungan kerja). Jika majikan ingin memutuskan kontrak kerja saat pekerja migran hamil, mereka harus memenuhi hak dan kewajiban pekerja migran. Jika sobat migran mendapati majikan memutus kontrak pada PMI yang hamil tanpa memenuhi hak dan kewajiban, maka NGO Hong Kong seperti Equal Opportunities Commission (EOC) dan Pathfinder dapat membantu menyelesaikan kasus tersebut. 

Perwakilan dari MESH, berbicara pencegahan penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV/AIDS). HIV bukanlah penyakit genetis sehingga penularan penyakit ini dapat dicegah. Di Hong Kong, terdapat beberapa klinik milik pemerintah dan swasta yang dapat menerima PMI yang ingin memeriksakan HIV/AIDS dengan biaya yang murah, terjangkau dan bahkan gratis.  Teman-teman pekerja migran cukup menghubungi WhatsApp hotline 5226 8547 untuk melakukan booking pemeriksaan HIV/ AIDS. Pengelola  hotline tersebut akan membalas dan memberikan petunjuk serta jadwal pemeriksaan. Pasien juga dapat memilih waktu yang disesuaikan dengan jadwalnya. Seseorang yang terkena HIV/ AIDS di Hong Kong mendapat subsidi dari pemerintah dengan layanan hotline konsultasi di tiga rumah sakit khusus.                           

Sementara itu, Anastasya, perwakilan dari Enrich, memberikan pendidikan dan pengetahuan tentang keuangan serta pemberdayaan diri bagi pekerja migran di Hong Kong. Enrich mendorong pekerja migran di Hong Kong agar mengutamakan tujuan awal dan target bekerja di Hong Kong. Anastasya mengatakan agar pekerja migran mengutamakan tujuan dan target kerja terlebih dulu. Jika memiliki hutang, bayar hutang terlebih dahulu, buat catatan dan anggaran belanja dan target berapa tahun akan bekerja di Hong Kong. 

“Enrich juga menawarkan konsultasi gratis bagi PMI di Hong Kong dan dijamin semua rahasia aman di tangan para konselor,” ujar Anastasya. 

Enrich memiliki beberapa kelas yang dapat dimanfaatkan oleh pekerja migran yakni: 

  1. Mengelola keuangan dengan bijak (manajemen/cara mengatur keuangan pribadi, menabung, menganggarkan belanja dan pembayaran hutang pribadi); 
  2. menambah tabungan dan investasi (konsep dasar mengenai bagaimana cara berinvestasi dan memperkenalkan investasi tertentu);
  3. mendirikan usaha sendiri (konsep dasar bagaimana menjadi seorang pengusaha atau entrepreneur dan perencanaan pengembangan bisnis); 
  4. pemberdayaan dan pengembangan diri (berani berkomunikasi dan tegas, bernegosiasi dan mengerti bagaimana hukum di Hong Kong melindungi mereka dari gangguan dan pelecehan yang menyangkut diskriminasi); 
  5. keuangan dan keluarga (bagaimana cara berkomunikasi dengan baik dengan keluarga, pasangan, atau kerabat jika berkaitan dengan masalah keuangan). 

Konsul Jenderal RI di Hong Kong, Ricky Suhendar, dalam sambutan di acara dialog ini, mengatakan bahwa KJRI siap bekerja sama dengan organisasi pekerja migran di Hong Kong. Menurut Ricky, ada tiga aspek yang perlu diperhatikan pekerja migran yakni 3K, keuangan, kesehatan dan keluarga. Pelayanan dan perlindungan bagi PMI dikategorikan secara luas, bukan hanya bagi PMI yang bermasalah, tetapi lebih pada perlindungan dan pelayanan yang menyeluruh bagi PMI dan WNI di Hong Kong. Menurut Ricky, kegiatan ini sangat positif demi meningkatkan pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong, yakni dengan edukasi dan keterampilan mengelola keuangan dan lain-lain.

“Kedepan saya juga mohon dukungan dari teman-teman, baik dari organisasi atau pekerja migran di Hong Kong untuk sama-sama bersinergi. Jika ada ide atau gagasan dari teman-teman PMI dapat disampaikan,” ujar Ricky Suhendar. 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *