“Masyuk” Kerupuk Ampas Tahu : Produk Kuliner Unggulan Desa Bringinan

Author

Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, merupakan salah satu desa kecil namun penuh inovasi dalam program-program pembangunan di desanya. Salah satunya adalah kreatifitas ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) yang mengolah ampas tahu menjadi kerupuk yang lezat dan bergizi tinggi. Ampas tahu merupakan hasil sampingan yang diperoleh dari proses pembuatan tahu kedelai.

Ampas ini biasanya dimanfaatkan untuk pakan ternak. Selain itu, ampas tahu juga digunakan oleh beberapa masyarakat pedesaan untuk diolah menjadi bahan pembuatan tempe gembus.

Ibu-ibu PKK Bringinan yang mayoritas para anggotanya berprofesi sebagai petani mempunyai ide kreatif menjadikan ampas tahu makanan kerupuk yang nikmat, lezat, sehat dan bergizi.

Rabu (31/7/19) bertempat di rumah Atik Suryani Dukuh Dondong RT/RW 02/02 Desa Bringinan ibu-ibu PKK bersama KPM IAIN Ponorogo membuat kerupuk dari ampas tahu dan hasilnya cukup lumayan, rasanya pun nikmat dan lezat.

Ketua PKK Bringinan, Fitri Nuryani, memaparkan bahwa ide memproduksi kerupuk ampas tahu berawal dari hasil diskusi kelompoknya bersama KPM IAIN Ponorogo. Selama ini, Bringinan merupakan salah satu desa di Kecamatan Jambon yang warganya tidak jarang memproduksi tahu untuk dipasarkan. Namun dalam proses pembuatannya, hasil limbah yang disebut ampas tahu itu tidak pernah dimanfaatkan dan dibiarkan begitu saja, terkadang hanya dipakai sebagai makanan ternak.

“Maka dari itu kami ibu-ibu PKK membuat sebuah terobosan, bagaimana memanfaatkan limbah ampas tahu ini lebih bernilai menjadi sebuah makanan yang nikmat, lezat, dan sehat. Dan tentunya bisa membantu mengangkat nilai ekonomi warga Desa Bringinan, yakni dengan mengolahnya menjadi kerupuk ampas tahu,” ungkap Fitri Nuryani.

Bak gayung bersambut, ide ini didukung oleh Kepala Desa (Kades) Bringinan, Barno. Kades Bringinan sangat mendukung dengan adanya ide kreatif pembuatan kerupuk ampas tahu yang bisa diberdayakan. Selain itu, ampas tahu juga bisa dijadikan sebagai usaha masyarakat, serta dijadikan ikon produk unggulan Desa Bringinan.

“Ide ini sangat kreatif dan inovatif. Saya sangat perlu mendukung ide ini untuk diberdayakan sebagai usaha masyarakat, karena masih jarang dan bisa kita jadikan sebagai ikon produk unggulan Desa Bringinan. Sebagaimana yang dicanangkan Bupati Ponorogo, bahwa setiap desa harus mempunyai satu produk unggulan atau  “One Village One Product”. Sementara ini, ampas tahu cenderung hanya digunakan pakan ternak saja, kini oleh ibu-ibu PKK Desa Bringinan dijadikan makanan ringan sehingga muncul nilai ekonomisnya, ini sungguh luar biasa,” tuturnya.

Tantangan Pemasaran “Masyuk”

Dalam proses produksi dan pemasarannya, usaha pembuatan kerupuk ampas tahu ini bukan tanpa tantangan. Minimnya tenaga kerja menjadi masalah tersendiri. Karena selama ini semua dikerjakan secara manual karena belum mempunyai alat yang memadai. Selain itu pemasaran kerupuk ampas tahu yang diberi label “Masyuk” masih mengandalkan badan usaha milik desa (BUMDesa).

Ani Dewi Nuryani dan Fitri Lestari, sebagai pengurus Bumdes Bringinan memaparkan bahwa pemasaran agak terkendala karena kurangnya promosi. Namun sebagai generasi muda yang sudah akrab dengan dunia maya atau sosial media, maka Ani dan Fitri memanfaatkan whatsapp (WA) grup dan facebook untuk pemasaran. Kini hasil promosi mereka sudah cukup lumayan, kerupuk ampas tahu “Masyuk” sudah menembus pasar hingga tingkat kabupaten.

“Kami terus berupaya untuk mempromosikan kerupuk ampas tahu “Masyuk”. Selain dengan media online, kami juga rajin mengikuti pameran di manapun.  Sebentar lagi jadi pilot project pekan KIM di Magetan,” pungkas Fitri.

Tulisan ini ditandai dengan:Bringinan Kerupuk Kulit Masyuk Pekerja Migran Indonesia Ponorogo 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *