Sego Punten, nasi Lembut nan Gurih Kuliner Khas Pondok

Author

Di desa Pondok, siapa yang tidak pernah merasakan sego punten? Tentu saja, hampir semua warga Pondok pernah merasakannya. Bahkan mereka yang telah merantau, setidaknya merasakan kerinduan akan makanan khas Pondok ini. 

 

Punten merupakan makanan yang berbahan dasar beras dan kelapa, orang menyebutnya sebagai nasi gurih. Hanya saja bentuknya berbeda seperti nasi biasa. Dalam pengolahannya, setelah nasi masak, masih dalam keadaan panas, nasi kemudian diletakkan dalam lumpang beralas plastik, kemudian dipukul dengan bonggol batang pisau agar kalis dan lembut mirip uli atau jadah. 

 

Setelah adonan lembut, nasi kemudian dipindahkan ke cetakan untuk didinginkan. Setelah dingin, adonan punten ini baru bisa dipotong-potong sesuai selera dan bisa disajikan. Saat penyajian pun bisa ditaburi dengan berbagai jenis lauk, ada yang dihidangkan bersama sambal tomat dan serunding, ada juga yang dihidangkan dengan sayur pecel. 

 

Menu Khas untuk Beragam Acara Keluarga maupun Komunitas 

 

Nah, salah seorang warga yang sampai saat ini cukup dikenal sego punten buatannya adalah Tumini. Ia merupakan perempuan asli Pondok yang kini telah berusia 64 tahun, ini memulai membuka usaha masakan Sego Punten sejak tahun 1996. Resep olahan masakannya merupakan resep turun temurun dari keluarganya. Tumini mewarisi resep masakan sego punten dari Ibunya.

 

Tumini memiliki tiga orang anak tersebut memulai usahanya dengan membuka warung biasa. Selang beberapa waktu, ketika orang sudah mulai mencicipi masakan di warung Tumini, orang-orang mulai memesan sego punten untuk acara-acara kantor maupun acara keluarga. 

 

Untuk Sego Punten Tumini sendiri, penyajian sego punten ditambah dengan lauk tempe kripik.

Dalam proses mengembangkan usaha sego punten, Tumini memulai dengan cara tradisional, salah satunya saat proses  membuat santan kelapa yang digunakan untuk memasak nasi. Tumini menggunakan parut manual, yang tentunya membutuhkan waktu lama dan melelahkan.  

 

Inovasi Mencari Bahan Baku

 

Seiring berjalannya waktu, anak-anak Tumini memberikan gagasan untuk membeli mesin parut agar mempercepat dan meningkatkan produksi pembuatan sego punten. Di sisi lain juga terus berinovasi  dengan mencari bahan baku yang murah agar bisa memproduksi dalam jumlah yang banyak. 

 

Kini, peminat sego punten Tumini semakin luas, bahkan Tumini harus melebarkan warung makannya untuk bisa menampung lebih banyak pembeli. Tumini terus berinovasi mengembangkan usahanya dengan mengikuti trend masa kini, salah satunya dengan peletakan wifi di warung makannya. 

 

Memanfaatkan internet yang sudah tersedia semakin luas, Tumini juga membuat promosi di halaman facebook serta google maps untuk memudahkan pembeli menjangkau warungnya. Bagi yang belum familiar dengan internet pun, turut disediakan nomor telfon yang bisa dihubungi. 

 

Promosi terus digencarkan melalui expo-expo jajanan tradisional. Berkat promosinya yang terus digencarkan, kini produk makanan Punten Ibu Tumini telah dikenal ke beberapa daerah, pemesannya bisa dari Madiun, Ponorogo selatan, Balong, Sawo, Sambit, dan Sumoroto. 

 

Kendala terbesar yang dihadapi Tumini dalam menjalankan usahanya adalah soal memasak. Karena proses memasak sego punten harus dilakukan malam, karena untuk penyajian di pagi, bahan harus langsung dimasak. Bahan tidak boleh ditunda karena akan berpengaruh pada kualitas dan rasa.

 

Saat ini, punten menjadi produk unggulan desa Pondok, hampir di setiap acara, baik di desa, kecamatan maupun kabupaten, Punten selalu menjadi makanan yang wajib ada di meja hidangan. Dalam berbagai pameran produk unggulan, Punten selalu ada dan selalu diburu oleh masyarakat.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *