Purna Migran Malaysia Ini Sukses Kembangkan Usaha Warung Nasi Lemak

Author

Aya (60 tahun), purna migran yang berasal dari Desa Ponggok, Pulonharjo, Klaten,  sukses mengembangkan usaha kuliner khas Malaysia yaitu  Nasi Lemak. Aya merupakan Purna Migran di Malaysia yang baru saja menyelesaikan kontrak kerjanya pada bulan November 2018. Jenis kuliner yang dijualnya memang belum begitu familiar bagi orang Indonesia. Namun, hal tersebut  tak mampu  menyurutkan semangat Aya  untuk memulai usahanya. Berbekal warung peninggalan orangtuanya, kini usaha Aya semakin dikenal luas.

Di desanya, kini sedang berkembang wisata Umbul Ponggok, sebuah wisata air yang mulai digandrungi wisatawan untuk berfoto di dalam air dengan ragam gaya yang unik. Banyaknya wisatawan yang datang ke kampungnya memberi peluang baru bagi warga desa untuk memiliki usaha. Hal tersebut tidak disia-siakan oleh Aya. Apalagi warungnya berada di tepi jalan utama dan ramai.  Dengan bekal pengetahuannya mengenai masakan Malaysia, akhirnya ia modifikasi dengan citarasa lokal.

“Nasi lemak itu kan hampir sama seperti nasi uduk kalau di Indonesia, nasinya sama-sama dimasak dengan campuran santan. Bedanya hanya pada lauk. Jika nasi uduk kita menggunakan lauk orek tempe, mihun goreng dan sambal,  sementara untuk nasi lemak,  kita menggunakan sambal, ikan teri, kacang goreng, kering tempe, telur dan timun.  Orang-orang yang singgah ke warung kami, sejauh ini memberikan respon positif, mungkin karena namanya yang masih asing bagi mereka, jadi mereka penasaran,” ujarnya.

Warung yang diberi nama warung Tentrem tersebut tidak hanya menjual Nasi lemak, ada juga Soto, Sego  kuning dan Nasi Rames. Untuk nasi lemak sendiri, harganya cukup ekonomis, satu porsi hanya Rp.6000. Sepanjang Ramadan, karena tidak berjualan di pagi hari, Aya menerima banyak pesanan  untuk acara buka bersama.

Sebelumnya, Aya menjadi buruh migran di Malaysia sejak akhir tahun 1999. Ia merupakan lulusan Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) Jogjakarta. Ia mendapatkan tawaran kerja kantoran di Malaysia, yang masih berkaitan dengan keuangan, jadi sesuai dengan ilmu yang didapatnya. Ternyata  ketika sampai di Malaysia, ia baru tau kalau ia sudah dibohongi oleh agen. Dia ternyata dipekerjakan sebagai seorang pembantu rumah, untuk sebuah keluarga asal Australia.

“Sampai sana saya juga bingung, saya fikir saya akan dipekerjakan di kantoran, baju-baju yang saya bawa juga baju untuk kerja kantoran, tidak tahunya saya malah dipekerjakan sebagai pembantu rumah. Walau saya juga membantu pekerjaan di kantor,”  ujarnya saat menceritakan pengalaman kerjanya kepada tim Redaksi Buruh Migran.

Mengetahui keaadaan tersebut, akhirnya ia hanya pasrah setelah berbincang panjang lebar dengan majikan sekeluarga, yang ternyata sangat baik, dan memahami situasi yang dihadapinya.

“Hampir 3 tahun saya bekerja untuk keluarga berkebangsaan  Australia itu, selebihnya saya bekerja freelance. Apa saja saya kerjakan, asalkan halal dan tidak melanggar undang-undang kerajaan setempat,” tambahnya.

Pada awalnya dia merahasiakan keadaaanya dari keluarga yang ada di Indonesia. Ia  takut keluarga yang di rumah menjadi khawatir. Apalagi saat itu ia memiliki tiga orang anak yang masih kecil dan memerlukan biaya hidup yang banyak setelah ia berpisah dari sang suami.

Sembilan belas tahun bekerja sebagai migran, kini Aya bisa melihat sendiri hasil kerja kerasnya. Anak yang pertama telah menyelesaikan kuliahnya, menikah dan kini menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil sebagai guru. Anak yang ke dua juga sudah berkeluarga. Sementara anak ke tiga baru saja melangsungkan pernikahan setelah menyelesaikan kuliahnya dan memperoleh pekerjaan yang lumayan mapan. Kini, ia bisa fokus untuk mengembangkan usahanya sambil bermain dengan cucu.

 

Tulisan ini ditandai dengan:bmimalaysia kuliner Malaysia migran nasilemak UsahaBMI 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *