Desi Lastati: Perbedaan Paham Apapun, Jangan Sampai Memutus Persaudaraan Sesama PMI

Author

Desi Lastati (28) adalah salah satu Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Temanggung Jawa Tengah (Jateng). Menjadi pekerja migran di sektor domestik sebagai pekerja rumah tangga (PRT) di Malaysia, tak lantas membuat Desi terasing dari beragam informasi yang terus berkembang. Termasuk tren perilaku beragama di kalangan pekerja migran, Desi yang hampir sepuluh tahun menjadi PMI memiliki pengalaman tersendiri bagaimana menyikapi perbedaan budaya dan agama.

Kerja Serabutan Hingga Menjadi PMI Setelah Lulus SMA

Tenaga kerja Indonesia (TKI) atau yang kini disebut pekerja migran Indonesia (PMI), bukanlah istilah yang asing bagi Desi. Sebelum dia memutuskan untuk menjadi PMI, kakaknya sudah terlebih dahulu bekerja sebagai PMI di Malaysia. Tahun 2010, saat kakaknya pulang untuk libur hari raya Idhul Fitri, Desi pun diajak untuk bekerja di Malaysia.

Desi sendiri memiliki pengalaman bekerja di beragam tempat, mulai dari menjadi penjaga toko hingga PRT di Semarang. Meskipun tidak ada yang bertahan lama, namun pengalaman bekerja di luar daerah membuatnya semakin berpengalaman mengenal banyak hal.

“Saya tidak menyesal bekerja di beberapa tempat meskipun tidak bertahan lama. Saya jadi belajar banyak hal, termasuk ketika bekerja di Semarang, saya mulai belajar mengurus sendiri segala kebutuhan administrasi keimigrasian. Mulai dari tour agent, bikin paspor dan sebagainya. Tour agent itulah yang membantu saya bikin paspor tanpa ribet di bagian imigrasi meski bayarnya lumayan mahal,” papar Desi kepada kru Warta Buruh Migran (WBM), pada Jumat (4/1/2019).

Kali pertama Desi pergi ke Malaysia dengan visa pelancong. Awalnya dia sempat tak mendapatkan restu dari bapaknya. Drama kekhawatiran antara bapak dan anak pun sempat terjadi. Kendati belum mendapat restu dari bapaknya, Desi tetap mengurus semua dokumen seperti passport dan tiket. Setelah semua kebutuhan dokumen sudah di tangan, Desi akhirnya berangkat ke Malaysia.

“Semua proses mulus meski harus “salam tempel” di Imigrasi karena dicurigai mau jadi TKI. Saat itu masih pakai visa melancong,” ungkap Desi.

Aktif Menulis tentang Pekerja Migran di Malaysia

Desi merupakan salah satu pekerja migran Indonesia (PMI) yang cukup produktif menulis beragam informasi, pengalaman dan pembelajaran PMI di Malaysia. Beragam artikelnya bukan sekadar memberikan informasi terkini kondisi PMI, namun juga berbagi tips dan panduan yang bermanfaat bagi PMI, calon PMI, maupun keluarga PMI. Sampai saat ini, Desi juga masih semangat meneruskan pendidikannya di Jurusan Sosiologi, Universitas Terbuka (UT) Pokjar Batam, di Kuala Lumpur.

Tulisan-tulisan Desi bisa kita baca di website resmi Pusat Sumber Daya Buruh Migran (PSDBM), yaitu www.buruhmigran.or.id. Dalam susunan redaksi buletin Serantau yang diterbitkan komunitas Serantau, posisi Desi sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred). Buletin Serantau adalah media informasi yang terbit setiap bulan. Buletin ini dibuat oleh beberapa PMI di Malaysia sebagai ruang untuk saling belajar, serta berbagi informasi antar sesama PMI di Malaysia. Jadi, tidak heran jika Desi cukup mengikuti informasi tentang perkembangan PMI di Malaysia, termasuk tren “Hijrah” di kalangan teman-temannya sesama PMI.  

“Saya memang aktif di komunitas, salah satunya Komunitas Serantau Malaysia. Ada juga komunitas kepenulisan Aurora. Kalau kegiatan keagamaan, saya hanya sesekali ikut kegiatan kajian, namun belum sampai menjadi anggota komunitas keagamaan,” ungkap Desi yang mengaku lebih banyak mengikuti kegiatan sosial-kemanusiaan.  

Di beberapa kegiatan sosial, Desi lebih sering mengikuti kegiatan penggalangan dana untuk para korban bencana. Selain itu, kegiatan formal seperti seminar tentang wirausaha untuk kekuatan ekonomi umat, serta mengikuti kelas-kelas leadership dan sebagainya.

Dimanapun Berada, Muslim Adalah Agen Perdamaian

Saat masih di Indonesia, Desi terbiasa bekerja dengan orang lain, termasuk bekerja sebagai PRT di keluarga keturunan Tionghoa. Bagi Desi, tak masalah bekerja di keluarga yang memiliki perbedaan budaya dan agama. Menghadapi perbedaan budaya dan agama justru membuatnya semakin bijak.

“Allah sendiri menciptakan begitu banyak perbedaan, sekalipun mengalir dalam darah yang sama. Perbedaan adat dan budaya menjadikan hidup kita lebih berwarna. Bisa dibayangkan, jika seluruh dunia ini, adat dan budayanya sama? Wah, bukan hanya hidup kita saja yang monoton, tapi dari segi ekonomi, sosial dan budaya akan sangat berpengaruh,” jelas Desi.  

Selama di Malaysia, Desi memang tidak begitu merasakan perbedaan budaya. Kendati demikian, di Malaysia sendiri begitu banyak warga negara selain Malaysia dengan ragam budaya dan keyakinannya. Sehingga, Desi banyak belajar bagaimana menghormati mereka yang berbeda budaya maupun agama. Baginya, menjadi seorang muslim berarti sebagai agen untuk menebarkan rahmat dan kasih sayang.

“Saya berpegang pada apa yang diungkapkan oleh Gus Mus. Bahwa setiap manusia yang ada di muka bumi ini menuju jalan yang lurus agar sampai ke Tuhan. Jalan lurus masing-masing orang berbeda sesuai dengan apa yang diyakininya. Tidak ada pemeluk agama yang menyatakan agama yang diyakininya tidak benar. Jadi cukup hormati keyakinan mereka yang berbeda,” paparnya.  

Sikapi Tren “Berhijrah” dengan Bijak

Sejak kecil, Desi memang hidup di lingkungan keluarga yang begitu kental dengan pendidikan agama. Sebelum merantau, Desi juga mengaku pernah belajar dalam pendidikan pesantren selama 3 tahun. Hal tersebut sedikit banyak memberikan bekal dalam perjalanan hidupnya. Desi juga pernah melalui fase di mana dia begitu fanatik dalam memandang Islam. Saat itu dia hanya menerima dari satu sumber rujukan agama, yaitu guru agamanya. Kini, Desi telah mengenal banyak teman dari beragam suku, budaya dan agama. Pemikirannya pun semakin bijak dalam menyikapi perbedaan.

Tradisi dan budaya di Malaysia memang tidak banyak perbedaan dengan Indonesia. Namun hal yang menarik bagi Desi adalah di Malaysia banyak sekali pelajar dari luar negara, khususnya dari Afrika maupun dari beberapa negara Timur Tengah. Mereka datang dengan budaya dan cara ibadah di tanah kelahiran mereka. Seperti, ketika sholat, mereka yang berpakaian sehari-hari memakai jubah, cukup memakai bajunya saja, tanpa perlu memakai mukena lagi. Kadang, ada juga yang tidak memakai penutup kaki.

“Awal mulanya saya merasa heran ketika melihat cara mereka sholat, namun saya menyadari, mungkin memang begitu cara sholat mereka. Ini untuk kesadaran pribadi saya saja. Di luar sana begitu banyak orang membuat perpecahan hanya disebabkan perbedaan-perbedaan kecil, khususnya dalam tata cara kita beribadah kepada Tuhan. Namun dengan apa yang aku lihat saat ini, saya sadar, betapa Tuhan maha baik. Menerima suguhan kecil dari penyembahan makhlukNya,” ungkap Desi.

Keterlibatan Desi di beragam kegiatan komunitas membuatnya cukup paham dengan perkembangan PMI di Malaysia. Termasuk tren “berhijrah” di kalangan PMI Malaysia baru-baru ini. Desi juga tak mampu menyembunyikan kegelisahannya tentang perubahan perilaku teman-teman yang menyebut dirinya telah berhijrah. Pada umumnya, mereka yang merasa telah berhijrah akan membatasi pergaulan dengan teman-teman PMI yang berlum berhijrah.

Bagi Desi, hak setiap orang untuk “berhijrah” atau tidak, yang terpenting adalah tetap menjaga pertemanan tanpa membeda-bedakan. Jangan sampai, hanya karena seseorang merasa telah berhijrah, tak lantas membatasi pertemanan dengan mereka yang dianggap belum berhijrah. Makna “hijrah” sendiri menurut Desi harus dipahami dengan benar.  

“Dulu tren “Hijrah” tak seheboh sekarang. Awalnya sekadar perubahan cara berbusana muslim, lalu mulai maraknya kajian agama di kalangan pekerja migran Indonesia (PMI). Di media sosial (Medsos), status teman-teman PMI pun rutin membagi jadual kajian agama. Sayangnya, tidak banyak mereka yang merasa sudah berhijrah kemudian menjadi menjadi asing, kebanyakan mulai mengurangi berbaur dengan teman-teman lamanya menurut mereka belum berhijrah,” ungkapnya.

Bagi Desi, membatasi pertemanan hanya membuat mereka mendapat stigma negatif atas sikapnya. Sebaiknya mereka yang merasa sudah berhijrah tetap menjaga silaturahim dan berbaur dengan teman-teman PMI lain, meskipun mereka mungkin tidak begitu rajin mengikuti kajian agama.

“Bagaimana cara kita menyikapi sebuah kajian. Di era yang mana politik dan agama begitu kuat dibicarakan, sebaiknya kita memiliki filter pribadi. Ceramah-ceramah yang berbau ekstrimisme, kita coba elakkan. Saya senantiasa berpegang bahwa Islam begitu ramah, begitu lembut dan fleksibel,” ungkap perempuan yang saat ini masih sering traveling, camping, hiking dan baca tulis puisi.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *