Forkoci Malaysia Gelar Do’a Bersama dan Sharing Ketenagakerjaan

Author

Forum Kerukunan Komunitas Cirebon (Forkoci) Malaysia mengadakan acara do’a bersama dan forum berbagi pengetahuan tentang ketenagakerjaan dalam rangka memperingati ulang tahun yang pertama, Minggu (23/9/2018). Acara yang digelar di Aula Sekolah Indonesia Kuala Lumpur dihadiri oleh komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) di antaranya Serantau, Republik Ngapak, Paguyuban Wonosobo, Prikitiew, Info Warga Jember (IWJ). Turut pula hadir dalam acara Agung Cahaya Sumirat, Atase Pensosbud KBRI Kuala Lumpur.

Acara dimeriahkan penampilan tari topeng oleh Ningrum, PRT asal Cirebon dan juga persembahan drama para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menggambarkan kondisi kerja PRT di Malaysia. Tari topeng dan drama sebagai hiburan sesuai visi dan misi dari didirikannya Forkoci.

“Salah satu visi dan misi dari Forkoci adalah terwujudnya Cirebon sebagai destinasi wisata, baik di tingkat domestik maupun internasional yang berbasis budaya dan bertumpu pada kekayaan budaya seni untuk meningkatkan potensi daerah,” ujar Rudi, Ketua Forkoci Malaysia.

Agung Cahaya Sumirat dalam sambutannya menyampaikan upaya peningkatan pelayanan KBRI Kuala Lumpur salah satunya terkait dengan pendidikan. Agung menginformasikan bahwa KBRI Kuala Lumpur mengadakan kegiatan belajar mengajar dalam bentuk kejar paket yang bisa diakses oleh pekerja migran Indonesia.

“Saya menyampaikan pesan dari bapak Duta Besar bahwa di KBRI Kuala Lumpur setiap hari Sabtu dan Minggu ada kegiatan belajar mengajar untuk kejar paket A,B,C untuk WNI yang belum mempunyai ijazah SD, SMP, SMA tanpa dipungut biaya,” tutur Agung.

Sesi sharing untuk ketenagakerjaan disampaikan oleh Nasrikah Sarah, Koordinator Serantau yang menyampaikan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh para pekerja migran. Nasrikah mengimbau agar pekerja migran mengetahui hak-haknya, kemana harus mengadu ketika hak-hak tersebut tidak didapatkan. Nasrikah juga mengatakan agar pekerja migran meningkatkan solidaritasnya di tahun politik yang mulai memanas.

“Kita sebagai sesama pekerja migran jauh dari sanak saudara dan yang ada adalah teman sesama pekerja migran. Hendaknya kita bersama bisa meningkatkan rasa solidaritas, apalagi sekarang di musim politik yang panas. Perlu diingat meskipun beda pilihan tapi harus menjaga persaudaraan,” tutur Nasrikah.

Tulisan ini ditandai dengan:forkoci Pekerja Migran Indonesia serantau malaysia 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *