Menjadi Pemimpin: Merangkul Keberagaman dan Perbedaan Pendapat

Author

Foto Bersama Setelah Diskusi Kepemimpinan dan Organisasi, Minggu, 29/12/2019

Voice of Migrants (VoM),  kelompok kerja berisikan organisasi/komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong menggelar dialog publik berjudul Dialog Kepemimpinan dan Organisasi, pada Minggu, 29/12/2019. Dalam acara yang diselenggarakan di Ramayana Hall, KJRI Hong Kong, beberapa narasumber hadir, seperti Erga Grenaldi, Konsul Ketenagakerjaan KJRI Hong Kong, Devi Novianti dari Equal Opportunities Commission (EOC), Aqib Malik dari Al-Maliki Center dan Dewi Ani, Ketua Forum Daiyah Fatayat Nahdlatul Ulama (Fordafnu). 

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 8.30 hingga 16.00 waktu Hong Kong ini, berisi diskusi yang cukup padat dengan tema kepemimpinan dan organisasi. Erga Grenaldi memulai diskusi dengan menyampaikan tentang makna dan pentingnya kepemimpinan (leadership). Ia menyebutkan kata-kata yang cukup mengena dalam bahasa Inggris, leadership is not position, but action, combination, strategy and creation (kepemimpinan bukan hanya posisi jabatan, tapi juga tindakan, strategi dan karya). Erga juga menjelaskan, dalam berorganisasi, pekerja migran perlu melakukan pemetaan awal, discovery, dreaming dan desain (menjelajah, bermimpi dan merancang). Erga juga menyampaikan beberapa hal terkait dengan pencegahan terhadap ekstremisme kekerasan. Menurutnya cikal bakal adanya ekstremisme kekerasan karena ada disorientasi, ketidakpercayaan (distrust ), pembangkangan (disobedience) dan disintegrasi/perpecahan. 

“Jangan sampai melupakan asas ideologi bangsa, yakni pancasila. Selain itu juga membina hubungan islamiyah dan wathoniyah [agama islam dan cinta tanah air.red],” ujar Erga Grenaldi.  

Materi kedua berjudul “kesadaran kepemimpinan” (Conscious Leadership) dibawakan oleh Devi Novianti yang menerangkan tentang pentingnya kepemimpinan yang bebas dari bias yang tak disadari (unconscious bias).  Bias yang tidak disadari merupakan bentuk kategorisasi sosial berdasarkan pengalaman, asumsi, dan emosi terhadap orang yang dijumpai, informasi tersebut kemudian digunakan untuk menilai orang atau kelompok tersebut di kemudian hari. Bias yang tak disadari umumnya terjadi pada jenis kelamin, ras, warna kulit, agama, kemampuan fisik, umur, penampilan, status perkawinan, dan status keluarga. 

“Bias yang tidak disadari dapat mengakibatkan diskriminasi, menghambat perkembangan pribadi yang berdampak pada lambatnya perkembangan organisasi. Pemimpin yang adil perlu mengubah cara pengambilan keputusan berdasarkan bias yang tidak disadari menjadi cara pengambilan keputusan secara sadar,” ungkap Devi. 

Devi mencontohkan, sebelum memulai rapat, sadari bahwa setiap orang mempunyai bias. Setelah rapat berlangsung, hendaknya pemimpin bertanya untuk mengklarifikasi dan memberikan kesempatan semua orang berpendapat di dalam forum tersebut. Dengan menjadi pemimpin yang adil dan memiliki kesadaran terhadap keragaman, akan tercipta kebaikan yang lebih besar untuk masyarakat dunia. 

Aqib Malik tampil memberikan materi mengenai  pengorganisasian komunitas (Community Organizing/CO)). Pengorganisasian komunitas penting untuk menumbuhkan kesadaran kritis karena permasalahan tidak berdiri sendiri. Oleh karenanya, sebagai anggota masyarakat, generasi muda harus diorganisir agar menjadi lebih kuat, berdaya, dan memiliki posisi tawar yang tinggi untuk mempersiapkan masa depan bangsa. 

“Pengorganisasian komunitas bertujuan untuk membangun relasi yang solid dan berdaya dalam sebuah komunitas,” kata lelaki yang disapa Gus Aqib tersebut. 

Pengorganisasian dilakukan dengan membangun lingkar inti, menyusun rencana aksi satu tahun, melaksanakan rencana aksi, melakukan pengawalan pelaksanaan dan evaluasi capaian. Terakhir, menggalang dukungan pihak luar dilakukan dengan menjalin kerja sama produktif, mengenali pemangku kepentingan dan perluasan akses. Menjadi pembicara terakhir dalam penyampaian materi, Dewi Ani, Ketua Forum Daiyah Fatayat Nahdlatul Ulama (Fordafnu), menerangkan tentang kaderisasi. 

“Kaderisasi adalah cara atau proses membentuk orang yang diharapkan dapat menjadi penerus. Kemampuan kaderisasi adalah salah satu ukuran kualitas pemimpin, yaitu mampu mencetak calon-calon pemimpin baru yang berkualitas,” ungkapnya. 

Dewi Ani menambahkan, kepemimpinan efektif dilandasi oleh kemampuan mengaplikasikan hubungan manusiawi yang efektif agar keputusan dapat dikomunikasikan. Kemampuan menganalisis situasi dalam pengambilan keputusan dan intelegensi yang tinggi. Pemimpin yang baik juga harus dapat menanamkan kualitas dalam diri kader berupa keterampilan berpikir, mengkomunikasikan hasil berpikir, berpartisipasi dalam pemecahan masalah dan menggali serta meningkatkan kreativitas. Mereka juga mesti mampu memberikan kepercayaan, semangat dan motivasi, serta menjalin kedekatan dengan orang-orang di bawah kepemimpinannya.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *