* BeritaEkonomiHeadlineKisahPanduan

Dari Buruh Migran Jadi Pemilik Salon

Author

Ilustrasi salon
Ilustrasi salon

Di era modern seperti sekarang ini kebutuhan hidup semakin meningkat, biaya hidup semakin mahal, sedangkan lapangan pekerjaan di desa sangat terbatas. Akhirnya tidak sedikit orang di desa yang memilih bekerja ke luar negeri sebagai TKI/buruh migran.

Salah satu diantaranya adalah Yuli Astanti (40), warga Desa Cilangkap, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas. Tanti (nama panggilannya) memilih bekerja menjadi buruh migran di Taiwan selama 3 tahun, yakni sejak tahun 2000 sampai 2003.

Sepulangnya dari Taiwan ia langsung membangun rumah yang cukup mewah bagi warga desa. Selain membangun rumah, ia juga membuka warung kecil-kecilan di samping rumahnya sebagai tempat usaha. Warung tersebut menjual jajanan anak-anak, beberapa alat tulis, dan sembako. Namun warung yang ia dirikan agak sepi pembeli karena di depan rumahnya juga terdapat warung yang menjual barang serupa dengan warung miliknya.

Seiring dengan berjalannya waktu Tanti menutup warungnya yang sepi pembeli. Namun Tanti tak patah semangat dalam berusaha. Ia melihat adanya peluang besar bisnis salon di desanya. Tanti kemudian mengikuti beberapa kursus, pelatihan, ataupun diklat tentang kecantikan di beberapa salon ternama.

Tanti akhirnya bangkit dan menyulap warung miliknya menjadi salon kecil-kecilan. Di salon milik Tanti yang bernama “GEGE Salon” menyediakan jasa potong rambut, creambath, rebonding, smoothing, facial, dan sebagainya. Pelanggan salon milik Tanti cukup banyak karena harga yang ditawarkan juga relatif murah. Dalam satu hari omset salonnya mencari 500 ribu.

Tanti menjalankan bisnis salonnya sendirian dan belum memiliki pegawai. Pernah sekitar satu tahun yang lalu saya potong rambut di salon milik Tanti dan bertanya mengapa ia tak merekrut pegawai saja. Tanti beralasan jika ia ingin tarif di salon miliknya terjangkau untuk semua kalangan.

“Kalau saya memiliki pegawai, maka tarif di salon jadi mahal,”ujar Tanti.

Tidak cukup dengan mendirikan salon saja, sekarang Tanti merambah ke jasa rias pengantin dan perias untuk acara-acara seperti wisuda SMP, SMA, juga untuk kebutuhan pentas menari. Pengguna jasa Tanti sebagai perias pengantin masih sedikit, karena masyarakat di desa selain Cilangkap masih banyak yang belum mengetahui. Meskipun demikian sampai saat ini salon milik Tanti termasuk salon yang laris di Kecamatan Gumelar.

Tanti merupakan salah satu contoh mantan TKI yang sukses di Desa Cilangkap. Selain mendapatkan modal usaha dari hasi bekerja menjadi TKI, Tanti juga memiliki keahlian dan mau berusaha mengasah keahlian yang dia miliki, sehingga Tanti tidak perlu bolak balik ke luar negeri untuk mencari penghasilan. Sosok seperti Tanti patut dicontoh untuk para TKI lainnya.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.