BNP2TKI dan KTKLN Masih Jadi Sumber Masalah TKI

Author

kantor BNP2TKI
Kantor BNP2TKI (sumber foto: jakartapress)

Pada 15 September 2011, pukul 01.00 dini hari saya berangkat menuju Surabaya dengan tujuan kantor Balai Pelayanan, Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) untuk  mengurus Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN). Saya tiba di kantor tepat pukul 07.00, langsung antri untuk mengambil formulir. Melihat antrian yang begitu banyak, saya jadi pusing sendiri. Ada sesama BMI Hong Kong (HK) yang bilang ke sesama pengantri bahwa kemarin pun antriannya juga banyak, bahkan ada yang terpaksa gagal mengurus satu hari dan terpaksa menginap  di tempat saudara.

Formulir saya dapat, tapi di kertas itu tertulis tanggal 19 September 2011, artinya bahwa formulir hari ini (15/9/11) tidak bisa langsung jadi dan pada 19 September harus balik ke kantor BP3TKI lagi. Saya tanya ke petugasnya, saya tunjukkan tiket saya kalau 24 September, saya harus balik HK lagi. Tapi petugas tetap ngotot bahwa hari ini hanya melayani pengurusan KTKLN kalau bisa menunjukkan tiket keberangkatan besok atau lusa, tanggal 16 dan 17. Saya jawab kalau waktu saya tidak banyak, rumah saya jauh, tapi mereka tetap ngotot tidak bisa dan menyuruh tanggal 19 untuk kembali lagi.

Akhirnya dengan rasa dongkol saya tanyakan pada petugas tadi kalau misalnya mengurus di Bandara Soekarno-Hatta bisa tidak? Dia jawab “BISA” Sekali lagi saya tanya “bisa tidak mengurus KTKLN di bandara Sutta (Soekarno-Hatta)” lagi-lagi dia jawab “BISA.” Karena belum yakin saya tanya sekali lagi “dijamin bisa kan, syaratnya apa saja? ” Dia jawab lagi “Bisa mbak, pasti bisa. Di sana malah buka 24 jam nonstop. Syaratnya sama dengan di sini.”

Pukul 10.00 saya tinggalkan kantor BP3TKI itu dengan perasaan antara dongkol, menyesal karena perjalanan saya sia-sia, geram karena ternyata gembar-gembor pengurusan KTKLN yang katanya satu hari jadi hanya isapan jempol belaka.

Pada 19 September 2011 saya tiba di Jakarta setelah menempuh perjalanan 24 jam dari Ponorogo. Macet dan panas, memang kata ini tidak bisa dijauhkan dari Jakarta. Setelah istirahat dan makan, sore hari saya menuju Bandara Soekarno-Hatta dengan tujuan untuk mengurus KTKLN. Setelah tiba di Bandara dan setelah menemukan kantor perwakilan BNP2TKI, saya langsung antri di sana.

Kebetulan antrinya tidak begitu banyak dan pengurusannya pun saya lihat juga cepat, tidak sampai 30 menit. Ada seorang laki-laki berbaju hitam dengan tulisan “Lingkaran Bandara” di dada sebelah kanan mendekati saya. Dia menyarankan saya untuk mengisi formulir asuransi. Setelah saya isi, dia melihat dan minta paspor saya untuk dibantu mengisi. Dia tanya kapan berangkatnya, saya jawab tanggal 24 September. Dia jawab katanya “Gak bisa ngurus, ini hanya untuk pengurusan yang hari ini terbang.

Dia menawarkan kalau mau langsung jadi, sini saya bantu. Saya jawab “saya mau dibantu tapi atas nama BNP2TKI dan bukan atas nama calo. Dia jawab, “Ya udah, terserah mbak, kalau gitu silakan tanya ke petugasnya yang di dalam.”

Saya antri lagi untuk masuk ke tempat pendataan, setelah berhadapan dengan petugas BNP2TKI, saya bilang kalau mau mengurus KTKLN di sini, dia menjawab TIDAK BISA. Saya jelaskan lagi ke mereka kalau saya pernah ke BP3TKI Surabaya tapi tidak bisa langsung hari itu juga jadi, saya ke Jakarta sekalian ada perlu makanya ngurus di sini. Petugas tetap bilang tidak bisa. Saya ngeyel ke mereka, “Saya tanya ke petugas BP3TKI yang di Surabaya bisa kok, kenapa di sini gak bisa?” Dia tetap menjawab kalau disini HANYA MELAYANI PENGURUSAN KTKLN YANG MAU BERANGKAT HARI INI.

Lagi-lagi dengan rasa dongkol saya keluar ruangan itu. Ada satu orang TKI laki-laki, dia juga mengurus KTKLN di bandara ini tapi berangkatnya bukan hari ini. Saya tanya “lo, kok bisa pak? Dia jawab kalau tadi bayar sama orang itu Rp 50 ribu. Oalah ternyata, antara calo sama petugas BNP2TKI yang di dalam itu sudah ada kerja sama yang sangat baik. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana si calo menerima uang itu lalu saya juga melihat ada selipan uang lima puluhan ribu di dalam paspor.

Halo Bapak Jumhur Hidayat, bagaimana anak buah Anda ini? Sampai kapan calo-calo ini terus berkeliaraan di dalam bandara. Kalau seandainya saya tadi mau bayar Rp 50 ribu, saya jamin KTKLN sudah ada di tangan saya. Tapi saya tidak mau melakukan hal itu. Apa gunanya teman TKI khususnya Hong Kong yang tiap Minggu melakukan demo atas ketidakpuasan kinerja BNP2TKI dan semua instansi yang berhubungan dengan ketenagakerjaan kalau saya mengikuti mendukung bisnis percaloan ini?

Perjalanan masih berlanjut. Besok saya mau mendatangi BNP2TKI, saya mau mencoba mengurus di sana. Kalau tetap tidak bisa, sudah seharusnya BNP2TKI ini dibubarkan saja. Bukannya menguntungkan para TKI, tapi justru malah menyengsarakan para TKI yang katanya “Pahlawan Devisa.”

——————————–

Berita lain:

Layanan KTKLN Belum Mangkus dan Sangkil Bagi TKI

Menyoal KTKLN

2 responses to “BNP2TKI dan KTKLN Masih Jadi Sumber Masalah TKI

  1. memang sih percaloan yang kayak gini udah bukan rahasia lagi. tetapi belum banyak diketahui publik/masyarakat awam. Info menarik, semoga besok kalau mbak fera menemukan fenomena2 pelanggaran semacam ini, mbak fera bisa diam2 mendokumentasikan, difoto atau direkam lewat video/rekaman suara di HP…. hehehe biar ketahuan tuh wajah2 calonya…!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *