5 Hal yang Perlu Diketahui Buruh Migran Baru di Malaysia

Ilustrasi Migrasi TKIKetika kita mengunjungi sebuah negara dengan tujuan bekerja, kita akan dihadapkan dengan budaya, makanan, ataupun tata bahasa yang baru. Mau tak mau kita perlu beradaptasi dengan hal-hal baru tersebut. Berikut ini adalah 5 hal yang perlu diperhatikan buruh migran yang baru datang ke Malaysia, berdasar pengalaman pribadi saya :

1. Barli Vs Baldi

Banyak sekali istilah-istilah yang hampir mirip. Ada pengalaman paling memalukan saat pertama kali masuk kerja di Malaysia, ketika majikan sedang sakit, saya disuruh mengambil Barli. Saya yang belum paham akhirnya memberikan Baldi, sebuah ember untuk mencuci baju. Untung majikan tidak marah dan malah mentertawakan. Barli rupanya adalah sejenis minuman yang terbuat dari biji-bijian tanaman Barli, sementara Baldi adalah ember untuk mencuci baju. Ada juga kesamaan bunyi lain antara koran-orang, nenas-lenas dan sebagainya. Sebaiknya, untuk menghindari kesamaan bunyi, kita harus belajar kosakata Bahasa Inggris, karena bahasa tersebut sering digunakan sebagai bahasa harian di Malaysia.

2. Jangan Panggil ‘kakak’ pada Laki-laki

Kita terbiasa memanggil laki-laki yang lebih tua usianya dari kita dengan panggilan apa aja: Mas, Kang, Kangmas, Bang, Uda, dan sebagainya. Jika di Malaysia kita memanggil laki-laki lebih tua dengan panggilan ‘Kakak’, maka mereka akan mengangkat lengan tangannya, menekuk di bagian siku dan menjawab dengan lemah lembut dan raut muka kemayu. Di Malaysia, panggilan ‘Kakak’ hanya untuk perempuan yang usianya lebih tua dari kita. Untuk memanggil laki-laki yang lebih tua, panggilah dengan sebutan ‘Abang’.

3. Makan Prasmanan

Banyak sekali restauran yang menawarkan layanan prasmanan yang membuat kita bisa memilih dan mengambil sendiri makanan yang kita mau. Pelayan restauran akan menghampiri meja kita, menghitung lalu meninggalkan secarik kertas kecil. Ketika selesai makan, kita tinggal menunjukkan kertas tersebut di kasir untuk membayar. Cara ini sangat memudahkan pekerja maupun pembeli. Berbeda sekali dengan restauran Indonesia, lauk-pauknya berada di dalam etalase kaca dan ada seorang pelayan yang akan mengambilkan makanan sesuai pilihan kita.

4. Bayar Dulu Sebelum Masuk Toilet

Sudah kebiasaan ketika memasuki toilet umum di Indonesia untuk buang air besar/kecil/mandi setelahnya harus membayar. Di Malaysia, ketika masuk toilet—apapun keperluannya—harus bayar terlebih dahulu. Di depan pintu masuk toilet umum akan tertulis “Masuk=30 sen” atau “Tandas = 30 sen”. Jadi, sebelum masuk, pastikan sudah membayar terlebih dahulu.

5. Menghitung Uang Koin

Setelah hidup hampir dua puluh tahun di Indonesia dan pindah ke Malaysia, hal yang paling membingungkan adalah perkara uang. Di Indonesia kita terbiasa melihat uang dengan angka nol di belakang sebanyak dua hingga empat. Ketika di Malaysia, angka nolnya tinggal satu hingga dua, misalnya, RM1.20, RM50.00, RM100,00. Hati-hati ketika memasuki supermarket dan melihat angka-angka ini. Barang-barang yang terlihat sangat murah, ketika di kasir bisa jadi sangat mahal karena salah melihat tanda titik.