Pengabdian Sepenuh Hati Seorang Cindy

Author

“Harapannya ke depan dengan adanya KOPI, masyarakat dan calon pekerja migran mempunyai bekal keterampilan, mental, dan pengetahuan mengenai prosedur hukum yang benar sebelum berangkat bekerja ke luar negeri,” ujar Cindy Dwi Lestari, Sekretaris KOPI Desa Jatinom.

Cindy (ujung kanan) saat mengajar di PAUD Desa Jatinom
Cindy (ujung kanan), selain menjadi sekretaris KOPI, juga aktif sebagai pengasuh Paud PKK Desa Jatinom. (Foto: koleksi pribadi)

Cindy, begitu ia biasa dipanggil, merupakan kader desa yang aktif. Kegiatan sosial baginya menjadi wadah untuk menyalurkan ilmu yang dimiliki. Selain sebagai Sekretaris KOPI, Cindy juga aktif sebagai kader kesehatan di Desa Jatinom, pendamping ibu hamil berisiko tinggi (Bumilresti), Sekretaris Forum Masyarakat Madani Kecamatan Kanigoro, penggagas usaha bakso sehat, dan mengabdi di Paud PKK Desa Jatinom.

Keikutsertaannya dalam beberapa kegiatan sosial tersebut dilandasi rasa kepedulian kepada sesama. “Sebagai kader kesehatan, kita ikut mendampingi ibu hamil, memberikan penyuluhan kesehatan, bahkan sampai ikut mengantar sampai rumah sakit,” ujarnya.

Meskipun kegiatannya begitu padat, namun bagi Cindy keluarga tetap menjadi prioritas utamanya. Ia selalu memastikan tanggung jawab rumahnya sudah selesai sebelum memulai pengabdiannya di masyarakat. Meskipun tidak mendapatkan keuntungan dari sisi materi, namun baginya, bisa bermanfaat bagi banyak orang merupakan hal yang paling berharga.

“Menjadi relawan itu tidak dibayar bukan karena tidak mampu membayar, tetapi karena (relawan) itu tidak terbayar,” ujarnya.

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri

Pengalaman kerelawanan Cindy tidak terlepas dari pengalaman masa lalunya. Cindy sendiri pernah menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) selama lebih kurang lima tahun. Pertama, ia bekerja sebagai pengasuh bayi di Singapura. Pekerjaan ini ia lalui pada kurun waktu 1997 sampai 1999. Ini pengalaman pertamanya bekerja jauh dari keluarga.

“Dukanya karena bekerja jauh dari keluarga, terlebih ada keluarga yang sakit. Rasanya ingin segera balik tetapi harus menyelesaikan kontrak dulu,” ujarnya.

Tak lama setelah Cindy pulang, ayahnya meninggal dunia. Kehilangan sosok ayah menjadi momen yang berat baginya. Hingga, satu tahun kemudian, ia memutuskan kembali bekerja ke luar negeri. Salah satu alasannya ialah untuk mengurangi rasa kehilangan. Kali ini, ia bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Taiwan. Tiga tahun bekerja di Taiwan ia merasa beruntung karena bekerja pada keluarga yang baik. Namun tidak demikian dengan beberapa kawan-kawannya yang menjadi PMI di Taiwan.

“Di Taiwan, saya sering menjadi tempat curhat teman-teman. Di situ aku bersyukur nasibku lebih baik,” ujarnya. Dibandingkan dengan kondisi yang dihadapi teman-temannya, Cindy mengaku masih lebih baik. Ia tinggal dengan keluarga yang baik, gaji, hari libur, dan fasilitas yang cukup. Berbeda dengan teman-temannya yang mengalami berbagai permasalahan seperti penempatan yang tidak sesuai, bekerja melebihi waktu kerja (overtime), hingga gaji yang tidak sesuai (underpayment).

“Ada pula yang mengadukan permasalahannya ke agensi yang memberangkatkan tapi malah dimarah-marahi,” ujar Cindy.

Sepulang dari Taiwan, Cindy masih ingin kembali bekerja sebagai PMI. Hal ini tidak terlepas dari pengalaman baiknya bekerja di Taiwan. Namun, niat ini urung terlaksana karena ia memikirkan ibunya. Terlebih setelah menikah dan mempunyai anak, keinginannya ini semakin terkikis. “Waktu bekerja sebagai pengasuh bayi, aku pernah berjanji, apabila aku sudah punya anak aku tidak ingin jauh darinya. Aku tidak ingin kehilangan setiap momen berharga,” ujar Cindy.

Pengalaman-pengalamannya bekerja sebagai PMI inilah yang turut mengantarkannya aktif di kegiatan sosial di desa. Pengalaman sebagai tempat mengadu teman-temannya, membuatnya ikut merasakan sulitnya bekerja di negeri orang. Untuk itu, menurutnya, keberadaan KOPI di Desa Jatinom menjadi penting. “Kita jangan mudah terjebak kalau bekerja di luar negeri enak dan gaji gede. Tapi pikirkan juga susahnya, jauh dari keluarga, tidak sesuai job, underpayment, atau kerja sampai malam,” kata ibu dua anak ini.

Menurut Cindy, pelindungan dan pelayanan konseling bagi calon PMI sangat diperlukan di desa. Dan, KOPI bisa menjadi mitra pemerintah desa untuk mendorong pelindungan PMI di desa, baik sebelum keberangkatan, saat keberangkatan, hingga kepulangan. “Harapannya, bagi calon PMI bisa berangkat dan bekerja dengan lancar hingga pulang dengan aman,” pungkasnya.

Tulisan ini ditandai dengan: kisah purna migran KOPI JATINOM 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.