Bambang Sunaryo, dari TKI Menjadi Pengusaha Tukang Las

Author

(Keterangan foto: Bambang sedang menjalankan pekerjaannya)

Masa depan memang menjadi selubung misteri bagi setiap manusia di dalam kehidupan ini. Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi nantinya. Hanya dengan bekal doa, usaha, kreatifitas dan niat yang tulus, masa depan yang terlihat samar bisa diubah menjadi sebuah kesuksesan yang cerah. Begitu juga yang dialami oleh Bambang Sunaryo. 

 

Kehidupan keras yang membayangi dirinya ditepis dengan semangat dan kerja keras. Tak banyak yang tahu, kesuksesannya tersebut ternyata berasal dari hobi yang selama ini ia tekuni dengan sungguh-sungguh. Hobi yang menghasilkan uang. Hobi yang membuat kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi orang lain.  

 

Bambang lahir di desa Sedarat, Bolong, Ponorogo pada 14 Januari 1985. Ia memiliki hobi mengelas. Ketika berada di bangku sekolah, ia mendapatkan juara satu dalam ujian praktek dan menerima piagam dari sekolah. Setelah lulus sekolah, dengan berbekal ijazah SMA, ia merantau ke Malaysia selama lima tahun. Di sana, ia bekerja sebagai tukang las. 

 

Sepulang dari merantau, dia bekerja di bengkel las milik Bapak Sani yang beralamat di desa Sendang, Jambon, Ponorogo. Bukan tanpa alasan ketika ia pulang dari Malaysia dan masih melanjutkan bekerja pada bidang yang sama. Ia ingin belajar lebih dalam tentang pengelasan dan peluang bisnis yang bisa dikembangkan sesuai dengan market di sekitar tempat tinggalnya. 

 

Selama tujuh bulan bekerja di bengkel las Bapak Sani, dia juga membuka bengkel las di rumah sebagai pekerjaan sampingan tanpa mengganggu jam kerjanya. Ketika merasa kemampuannya sudah cukup mumpuni, dia berpikir untuk mendirikan usaha sendiri. 

 

Pada tahun 2012, akhirnya ia mengundurkan diri dari pekerjaannya dan lebih fokus untuk mengembangkan usaha bengkel las miliknya sendiri. 

 

 “Apapun pekerjaannya, kalau diiringi dengan hobi yang kita senangi, pasti akan sukses dan kita tidak akan merasa jenuh untuk mengerjakannya,” ungkapnya ketika ditemui anggota KOPI Bringinan. 

 

Pada awal mendirikan bengkel las, ia hanya memiliki dua karyawan dan dibantu dengan istrinya. Awalnya, sang Istri tidak memiliki pengetahuan tentang pengelasan. Lama kelamaan dia tertarik untuk ikut mencoba dan belajar. Sehingga saat ini dia yang menangani alumunium, mulai dari belanja, membuat pola, mengukur dan merangkai. Sementara itu, Bambang lebih  fokus pada pengelasan besi. 

 

Sampai saat ini Bambang memiliki 9 karyawan dan sudah banyak mantan karyawannya yang membuka bengkel las sendiri. Meski ruang lingkup pemasarannya hanya sekitar Ponorogo, dia sudah kewalahan dalam menerima pesanan. Kebanyakan yang diminati oleh pemesan adalah erek padi, kanopi dan pagar besi. 

 

“Paling jauh pemesan hanya dari Bungkal. Itu pun sudah kewalahan dalam pengerjaanya. Untuk pemesanannya harus 3 bulan sebelumnya baru saya kerjakan,” pungkasnya.

 

Dalam hidupnya, Bambang mempunyai prinsip yang tidak bisa dipatahkan oleh apapun, ia berprinsip 

 

“Kreatifitas dan loyalitas dalam pekerjaan”.

 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *