Kiprah Nonik Iswarini: Menjadi PMI, Guru, hingga Aktivis Peduli Pekerja Migran

Author

 

(Keterangan: Nonik Iswara, Ketua KOPI Pondok pertama kali)

Nonik Iswarini (40), perempuan yang akrab disapa sebagai Ibu Nonik merupakan perempuan yang lahir di Dukuh Kajang, Desa Pondok, Kecamatan Babadan pada tanggal 4 April 1979. Ia menjadi sosok yang sangat penting dalam perkembangan pembangunan di desa, salah satunya adalah menjadi Sekretaris BPD di desa Pondok hingga dua periode.

 

 

 

 

Ketua KOPI Pertama 

Dalam kepengurusan Komunitas Pekerja Migran Indonesia (KOPI), Nonik, demikian sapaan akrabnya, juga didaulat sebagai Ketua KOPI perempuan pertama di tahun 2018. Karena kesibukannya, Nonik mengundurkan diri dari jabatan ketua KOPI Pondok, namun masih tetap aktif dalam berbagai kegiatan KOPI. Saat ini, posisinya sudah digantikan Ketua KOPI yang baru yaitu Arif Yulianto.

 

Saat ini, Nonik juga bekerja sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) di SDN 2 Pondok. Ia mengajar bahasa Inggris dan bahasa Jawa. Sebelum berkiprah di desa, ia pernah menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) sejak tahun 2000 sampai 2003 di Taiwan. Ia rela menjadi PMI karena ingin mengubah nasib dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. 

 

Pada tahun 2009-2013, Nonik juga memiliki pengalaman sebagai kader pemberdayaan masyarakat desa dalam program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM) Mandiri Perdesaan atau PNPM-Perdesaan atau Rural PNPM).  

 

Menjadi Perawat Lansia di Taiwan

 

Ketika di Taiwan, ia bekerja sebagai perawat lansia pada tahun 2000-2003. Setelah tiga tahun bekerja, ia pulang dan bekerja di salah satu perusahaan asuransi selama dua tahun. Nonik yang kini dikaruniai dua anak tersebut memiliki ijazah terakhir SMA. Dengan berbagai pertimbangan, Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi STKIP PGRI Ponorogo. 

 

Tidak seperti yang direncanakan, ternyata pada awal semester kuliahnya, ia mengalami masalah kesulitan biaya, hingga akhirnya memutuskan untuk cuti dan berencana untuk menjadi PMI kembali. Niatan tersebut tidak terlaksana ketika akhirnya ia mendapatkan beasiswa dari universitas tempatnya belajar sampai lulus. Saat semester enam, dia ditawari menjadi guru tidak tetap. Dia mengambil keputusan menjadi GTT tersebut selagi menunggu masa kuliahnya selesai. 

 

Perempuan yang memiliki hobi menggambar tersebut begitu gigih dalam mendampingi anak-anak di desa Pondok untuk belajar. Menurutnya, anak-anak di desa Pondok adalah anak mereka dan menjadi tanggung jawab bersama. Anak-anak saat ini akan menjadi penentu di masa depan. Motto hidup untuk menjadi bermanfaat bagi alam sekitar menjadi pedoman hidup yang senantiasa dipegang oleh Nonik. 

 

“Saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk orang-orang di sekitar saya dan desa saya,” ungkapnya kepada tim redaksi KOPI Ponorogo. 

 

Dalam perjalanan hidupnya, meski yang dilakukan adalah hal yang baik, bukan berarti tanpa rintangan. Kerap kali ia dicibir selama menjabat di BPD, tantangan-tantangan itu selalu ada. 

 

Menurut Nonik, ia sering merasa kesulitan untuk mengajak masyarakat agar lebih peka terhadap lingkungannya, terkadang ketika ada masalah terhadap anak-anak yang bernasib kurang beruntung, masyarakat acapkali cuek dan menganggap bahwa anak-anak tersebut bukan menjadi tanggung jawabnya. 

 

“Ngapain susah-susah ngurusin anak orang, ngurus anak sendiri aja susah. Lebih baik ngurus anak sendiri,” ujarnya ketika mengungkapkan respon masyarakat terhadap permasalahan anak-anak di kampungnya. 

 

Nonik sendiri sering merasa prihatin terhadap anak-anak yang kurang beruntung di desa, khususnya anak-anak yang ditinggal oleh orangtuanya ke luar negeri maupun anak-anak yang menjadi korban broken home.

 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *