Berbagi Cerita Migran dalam Perpustakaan Manusia

Author

Ayu Saat Menjadi 'buku' pencerita dalam Acara Perpustakaan Manusia
Ayu Saat Menjadi ‘buku’ pencerita dalam Acara Perpustakaan Manusia

Human Library atau Perpustakaan Manusia merupakan kegiatan untuk membangun kerangka kerja positif yang dapat melawan stereotip dan prasangka melalui dialog. Gagasan di balik Human Library adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan positif, yang mana sukarelawan menjadi ‘Buku Manusia’ dan berbagi cerita pribadi mereka kepada pembaca yang ingin belajar lebih banyak tentang judul buku tersebut. Dalam acara ini, sukarelawan menjadi ‘Buku Manusia’ dan berbagi cerita pribadi mereka kepada pembaca yang ingin belajar lebih banyak tentang judul buku tersebut.

Buku-buku manusia memiliki cerita yang beragam, baik dalam pengalaman, penampilan, kemampuan, dan latar belakang budaya mereka. Mereka datang dalam segala usia, bentuk, dan ukuran. Setiap buku berbeda dan masing-masing memiliki cerita yang unik. Pada Minggu, (26/05/2019), salah satu pekerja migran yang tergabung dalam Komunitas Serantau diajak menjadi sukarelawan untuk menjadi ‘buku’.

Acara yang digelar oleh Projek Liber8 yang bertempat di Sentul Depot, Sentul West tersebut mengangkat tema tentang migran. Isu-isu yang pernah diangkat menjadi judul ‘buku’ bukan hanya tentang migran, namun juga isu lain seperti Refugee, Homeless, Deafblind, dan Body Modified. Ayu, salah satu pekerja migran yang bekerja di sektor bersih-bersih rumah atau kantor paruh waktu turut  menjadi salah satu ‘buku’ dalam acara tersebut. Selain Ayu, terdapat dua pekerja migran yang berasal dari Medan dan Bandung yang saat ini tinggal di Shelter Migran Care.

Ayu Bersama Teman-teman yang juga Menjadi 'buku' Pencerita dalam Acara Perpustakaan Manusia
Ayu Bersama Teman-teman yang juga Menjadi ‘buku’ Pencerita dalam Acara Perpustakaan Manusia

Banyak hal yang ditanyakan oleh ‘peminjam buku’ yang erat kaitannya terhadap ‘buku’ yang dipinjamnya. Di antaranya mengenai pengalaman baik dan buruk selama bekerja di Malaysia, kegiatan sewaktu bercuti, alasan kenapa harus bekerja di Malaysia, serta peran serta pemerintah terhadap Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia.

Menurut penuturan Ayu, respon pengunjung setelah mendengar cerita pengalaman hidup Ayu sebagai pekerja migran menarik rasa simpati dan iba. Bahkan sebagian dari pengunjung turut meneteskan air mata.

“Saya sangat kagum dengan Anda yang begitu kuat meneruskan perjalanan hidup ini,” tutur salah satu pengunjung yang diceritakan oleh Ayu kepada redaksi.

Bagi Ayu sendiri, ia merasa sangat senang bisa berbagi kepada para pengunjung, khususnya warga negara Malaysia yang mempekerjakan pekerja migran.

“Saya berharap orang Malaysia yang menggaji pekerja migran boleh terbuka dan lebih menghargai apa yang pekerja migran buat untuk mereka. Selain itu, saya berharap agar majiakan lebih tahu akan hak-hak pekerja migran,” tutur Ayu.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *