Kisah Puji Sebagai PMI Sekaligus Usaha Baksonya di Malaysia

Author

Puji bersama dengan istri dan karyawannya memproduksi berbagai varian bakso, mulai dari bakso spesial, bakso jumbo, bakso telur ayam, bakso tahu, bakso urat, bakso gunung hingga bakso beranak. Puji mengaku bahwa ia merupakan pelopor bakso beranak di Kuala Lumpur dan sekitarnya. Menurutnya, saat orang-orang belum memproduksi bakso beranak, ia sudah memproduksi dan mempopulerkannya lebih dulu.

Puji Syahputra datang ke Malaysia pertama kali pada 1 Mei 1999 sebagai pekerja migran di bidang konstruksi. Selama tiga tahun pertama di Malaysia, Puji (red.nama panggilannya) yang berasal dari Kediri, Jawa Timur berstatus sebagai pekerja migran tidak berdokumen atau Pendatang Asing Tanpa Izin (PATI).

Puji Syahputra saat berada di lokasi sebagai pekerja migran Indonesia (PMI)

Selama tiga tahun itu, sepulang dari kerja ia pergi ke hutan agar tidak tertangkap razia yang dilakukan oleh polisi, imigrasi maupun Jabatan Sukarelawan Malaysia (RELA). Puji sempat pulang ke Indonesia pada tahun 2002, namun karena ketiadaan pekerjaan, ia kembali ke Malaysia sebagai PATI pada tahun 2003-2004. Setahun bekerja di Malaysia, Puji pulang ke Indonesia hanya dengan membawa uang 3 juta rupiah.

Tahun 2006, Puji mencoba peruntungan dengan kembali menjadi pekerja migran karena ajakan dari seorang kawannya. Setelah setahun di Malaysia, pada tahun 2007 Puji mengumpulkan modal dan mengambil pekerjaan sendiri sebagai sub kontraktor di sebuah proyek bangunan.

Sampai saat ini, Puji masih bekerja sebagai sub kontraktor yang mengerjakan beberapa proyek sambil menjalankan usaha pembuatan bakso sapi. Usaha pembuatan bakso dirintis Puji dua tahun lalu saat proyek-proyek yang dikerjakannya sedang lesu dan mengalami kesulitan keuangan.

“Saya berpikir kalau saya masih mau hidup di sini (Malaysia) saya harus mencari alternatif usaha lain. Akhirnya pada 30 Oktober 2017 memulai usaha bakso dengan nama dagang Bakso Ndoro Bei,” ujar Puji pada Redaksi Buruh Migran.

Puji bersama dengan istri dan karyawannya memproduksi berbagai varian bakso, mulai dari bakso spesial, bakso jumbo, bakso telur ayam, bakso tahu, bakso urat, bakso gunung hingga bakso beranak. Puji mengaku bahwa ia merupakan pelopor bakso beranak di Kuala Lumpur dan sekitarnya. Menurutnya, saat orang-orang belum memproduksi bakso beranak, ia sudah memproduksi dan mempopulerkannya lebih dulu.

“Dulunya belum ada yang bikin bakso beranak, kemudian saya bikin bakso beranak. Akhirnya banyak juga yang bikin bakso beranak di sini,” kata Puji yang berasal dari Kediri, Jawa Timur.

Bakso beranak yang diproduksi oleh Puji merupakan bakso bulat dengan ukuran besar yang di dalamnya terdapat bakso kecil, bakso pedas, telur puyuh dan keju. Ide Puji membuat bakso beranak sebenarnya karena ia ingin merancang bakso yang lain daripada yang lain dan kemudian muncul ide untuk membuat bakso beranak. Harga jual bakso beranak ini lebih mahal dibandingkan bakso biasa dengan ukuran yang lebih kecil.

Berjalannya waktu, bakso beranak mulai banyak diproduksi oleh pabrik atau pengusaha lain. Puji kemudian menciptakan varian baru yang diberi nama bakso gunung. Bakso ini berbentuk kerucut dengan isian lahar dingin (keju), lahar panas (daging rica-rica), bakso kecil dan telur puyuh.

Pengembangan Usaha Bakso

Modal awal Puji untuk membangun usaha baksonya lumayan banyak. Ia menghabiskan modal sekitar RM70.000 atau setara dengan Rp. 245 juta untuk merenovasi tempat usaha dan membeli mesin pembuat bakso. Di awal usaha pembuatan bakso, Puji hanya dibantu oleh dua orang karyawan, sedangkan untuk pemasaran dan sopir dilakukannya sendiri. Di awal produksi, Puji hanya mampu melakukan produksi 50 kg adonan bakso per hari.

Salah satu kontribusi dari usaha bakso yang dibangun oleh Puji

 

Seiring dengan perkembangan usaha, saat ini Puji sudah memproduksi 300 kg adonan bakso per hari dengan dibantu oleh delapan karyawan produksi, serta dua orang sopir untuk mengantarkan bakso pesanan pembeli. Menurut Puji, bakso Ndoro Bei digemari oleh Warga Negara Indonesia (WNI) maupun Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia. Bakso Ndoro Bei dipasarkan di stockist atau toko-toko belanja di wilayah Semenanjung Malaysia yang meliputi Johor Bahru, Malaka, Seremban, Klang, Kuala Lumpur, Ipoh, Penang dan Kelantan.

Kesuksesan Puji memasarkan bakso yang ia produksi tidak lepas dari promosi yang dibuatnya. Di bulan Ramadan misalnya, Puji membuat promo bakso gratis bagi siapa saja yang membuat acara buka bersama di seluruh Semenanjung Malaysia. Puji juga akan menyumbang bakso gratis untuk setiap acara-acara agama Islam dengan syarat acara tersebut bersifat umum. Menurut puji promo yang dilakukan ini selain untuk mengenalkan produk pada masyarakat luas juga bisa menjadi bekal tabungannya di akhirat.

Puji juga mengatakan bahwa peran serta jaringan sosial yang ia ikuti memberikan sumbangsih dalam pemasaran produknya. Puji yang merupakan pegiat salah satu organisasi terbesar di Indonesia cabang Malaysia aktif melakukan kegiatan-kegiatan sosial baik kegiatan yang melibatkan komunitas pekerja maupun kegiatan yang melibatkan kelompok keagamaan.

Media sosial (Medsos) juga menjadi salah satu media yang dimanfaatkan Puji untuk menawarkan produknya lewat Medsos juga. Ia mengerti bahwa peran media sosial dalam pemasaran menjadi sangat berarti. Lewat akun Facebook Bakso Ndoro Bei, Puji kerap mengunggah foto-foto bakso hasil produksinya.

Berbicara mengenai usahanya ke depan, Puji berencana untuk mengembangkan usahanya di Indonesia. Ia berencana untuk membuka usaha bakso di Yogyakarta, sebuah kota yang dekat dengan asal istrinya, di Magelang. Dua bulan ini Puji sedang mencari tempat usaha yang pas dan sesuai di Jogja agar bisa segera membuka usahanya di kota itu.

“Saya ini pada dasarnya pekerja migran, jadi kehidupan saya pastinya di Indonesia. Namun saya juga ingin bisnis yang di sini masih tetap jalan, saya bisa mengatur waktunya,” ungkap Puji.

Tulisan ini ditandai dengan:tenaga kerja indonesia 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *