Dinar di Negeri Jiran

Author

Pagi itu Bandara Soekarno Hatta sudah dipadati penumpang pesawat yang akan pergi atau tiba dari berbagai tujuan. Di antara kesesakan itu terlihat seorang gadis cantik tengah sibuk menarik koper dan menggendong tasnya berjalan ke counter check in. Dialah Dinar, seorang gadis berparas cantik pemilik kulit sawo matang. Dinar baru saja menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMA), wajahnya lugu namun terlihat penuh keberanian dan semangat. Wajahnya tak menampakan apa yang sedang ia rasakan dalam hati kecilnya. Ia merasa gelisah dan hatinya menangis, tapi ia harus kuat demi impian untuk mengubah setitik jalan hidup keluarganya.

Dinar tahu tidak ada pilihan lagi selain pergi jauh ke negri jiran, mencoba peruntungan di negeri orang. Hatinya berusaha tegar ketika teman-temannya sibuk dengan ujian masuk perguruan tinggi. Dinar harus sibuk mencari nafkah untuk keluarganya dan sibuk menyemangati diri sendiri. Dinar sadar bahwa cita-citanya sulit dicapai, tetapi Dinar selalu optimis. Dinar tak pernah membayangkan bahwa ia harus pergi jauh dari keluarga yang selalu melindungi dan menyayanginya. Dinar paham begitu besar harapan keluarga pada dirinya sehingga ia tidak boleh lemah dan menyerah. Dinar yakin bahwa ia akan mampu menghadapi semua, tak perduli apa yang orang katakan, yang dia tahu hanyalah berjuang untuk keluarganya.

Dinar baru saja keluar dari perut sang singa yang mengantarkannya jauh ke negeri seberang. Hati Dinar mulai berdebar, matanya sibuk melihat kanan dan kiri membaca petunjuk untuk keluar. Dinar masih tak percaya kalau ia sudah berada jauh dari tanah air. Matanya mulai memerah ingin menangis namun berusaha ia tahan. Kakinya terus berjalan keluar menyusuri bandara KLIA sambil mencari seseorang yang menjemputnya siang ini. Dari kejauhan seorang lelaki paruh baya memakai kemeja biru dan celana hitam melambai tangan pada Dinar.

“Hey ..Dinar ye?” lelaki itu memanggil Dinar dan menghampirinya.

” Eh, ya pak,” jawab Dinar singkat.

“Oh ya, name saya Azman,” lelaki itu memperkenalkan diri dengan logat Melayu yang khas.

“Ya pak,” kata Dinar

“Ok, kalau macam tu jom kita pegi tengok hostel awak,” kata Dinar.

Dinar mengikutinya dari belakang.

“Macam mana Dinar, tadi perjalanan ok tak?” tanya Azman.

“Oh ok aja bang, tapi tadi agak takut nyasar hehe,” jawab Dinar malu.

“Ohh…tape, first time memang macam tu, dah sampai sini juga ok lah tu,” ujar Azman.

Sesampainya di depan hostel, Dinar berdiri merenung bangunan tinggi di hadapannya.

Disinilah rumahku, rumah yang akan menjadi tempat berlindungku dari panas dan hujan yang akan menjadi tempat ku bersembunyi dari segala tangis kerinduan.

“Dinar.. ” suara Azman membuyarkan lamunannya.

“Ya pak,” jawab Dinar segera.

“Ini kunci rumah awak, awak naik cari bilik nombor tujuh ye, tak paya takut nanti ada banyak kawan. Sekarang dia orang tengah buat kerja, tunggu kawan-kawan balik kerja nanti boleh sembang dengan kawan,” kata Azman.

“Ya pak, terima kasih,” singkat Dinar.

Setelah Azman pergi, Dinar masuk dalam bangunan itu. Kakinya mulai melangkah menaiki anak tangga sambil kesusahan membawa koper, matanya memandang setiap nomor yang melekat di pintu rumah. Mata Dinar melihat ke atas, terlihat angka 7 melekat di pintu. Dinar tersenyum, langsung naik ke atas dan segera masuk ke dalam rumah flat nya. Rumah itu sejuk dan tertata rapi, Dinar masuk kamar lalu duduk di atas kasur yang telah disiapkan untuknya. Dinar mulai membayangkan seperti apa rupa dan perangai teman-teman satu rumahnya. Siang itu Dinar benar-benar sangat lelah hingga ia langsung tertidur di atas kasur. Samar-samar Dinar mendengar seseorang membuka pintu, ia bangun untuk melihat siapa yang datang. Terlihat seorang perempuan duduk di kursi yang sepertinya sedang kelelahan.

“Eh, anak baru ya,” perempuan itu melihat Dinar berdiri di pintu kamar dan langsung menyapanya.

“Hehe ya teh, kenalin nama saya Dinar,” ucap Dinar diiringi senyum manisnya.

“Oh, Dinar. Saya Desi, tadi dateng jam berapa, Din?” katanya.

“Jam 2-an teh,”melihat prilaku Desi yang begitu ramah pada Dinar membuat rasa takut Dinar sedikit reda.

Setelah mengenal salah satu teman satu rumahnya, dari obrolan mereka Dinar dapat tahu kalau Desi berasal dari Bandung dan usia mereka berbeda 6 tahun. Desi ialah perempuan yang bertubuh lebih kecil dari Dinar. Desi memiliki kulit yang cerah dan berparas cantik, karena terlalu asyik mengobrol dengan Desi, Dinar hampir saja lupa mengabari keluarganya. Dinar segera masuk kamar dan menelpon bapaknya di kampung halaman.

“Assalamu’allaikum pak?,” suara Dinar riang, menutupi rasa sedihnya.

“Wa’allaikumussalam, ya Dinar. Kamu sudah sampe nak?” jawab Bapaknya.

“Ya pak, maaf baru ngabarin tadi Dinar ketiduran,” kata Dinar.

“Ya nggak apa-apa sayang, tapi maaf udah dulu ya, bapak lagi di pasar nanti kita sambung lagi,” terang Bapaknya.

“Ya pak, nggak apa-apa, bapak hati-hati ya. Nanti Dinar telepon lagi,”katanya.

Sebelum menutup telepon Dinar mendengar suara batuk-batuk yang membuat hatinya menjadi gusar.

“Pokoknya aku harus rajin kerja ,biar bisa periksain bpk kedokter dan bpk gak usah kerja lagi,” ucap Dinar lirih.

Tanpa terasa air matanya menetes, Dinar sadar tidak ada siapapun yang bisa diharapkan keluarganya selain dirinya sendiri. Hari pertama Dinar masuk kerja terlihat wajahnya penuh semangat dan ceria hingga orang lain tak bisa menerka betapa sakit rasa hatinya. Dinar tak sabar ingin segera tahu apa yang akan ia kerjakan nanti, karena Dinar belum tau apa yang ia akan kerjakan. Dinar hanya tau ia bekerja sebagai operator, ia tak peduli susah atau tidaknya pekerjaan itu. Dinar hanya tahu ia datang untuk bekerja dan mendapatkan uang untuk keluarganya. Delapan jam Dinar tegak berdiri, dua tangannya sibuk mengikuti ritme kerja yang cepat. Dinar mulai merasakan kaki dan tangannya lelah, namun ia tetap tersenyum. Hampir setiap malam Dinar membalurkan hot cream ke kaki dan tangannya yang sakit, ia belum terbiasa dengan ritme kerja di kilang.

“Kenapa Din? Sakit kaki ya?,” tanya Desi sambil sedikit tertawa.

“Ya teh, belum biasa kali ya hehe, ” kata Dinar.

“Ya bener, nanti kalau udah biasa nggak sakit lagi kok,” jawab Desi meyakinkan.

Bagi Dinar sakit di kaki dan tangannya tak seberapa sakit jika dibandingkan dengan sakit hatinya saat melihat bapaknya sakit dan keluarganya dalam kesusahan. Beban hidupnya terlalu berat untuk dipikul sendiri, Dinar hanyalah seorang gadis 18 tahun yang berani mengadu nasib ke negeri jiran , demi menafkahi keluarganya. (Penulis : Anisa Vitri | Anggota Komunitas Serantau Malaysia)

Tulisan ini ditandai dengan: Malaysia negeri jiran Pekerja Migran Indonesia 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.