Kiprah

Purna Buruh Migran dari Pantai Selatan Jogja

Author

Produk Ayam Kampung Madu Buatan Supini/Tia
Produk Ayam Kampung Madu Buatan Supini/Tia

Tahun 2013, di pantai selatan Yogyakarta, Supini yang kerap dipanggil Tia mendirikan paguyuban purna buruh migran Manunggal Jaya. Ia mengumpulkan purna buruh migran di sekitar Sanden, Bantul, untuk membuat kelompok-kelompok usaha. Tia kemudian menyebarkan formulir pada kawan-kawan mantan buruh migran untuk mengetahui minat usaha yang ingin digeluti kawan-kawan TKI.

Sebelum menggerakkan kawan-kawan purna buruh migran, selama 12 tahun Tia menjadi diaspora dengan bekerja ke luar negeri. Tiga tahun pertama menjadi buruh migran ia habiskan di Malaysia dengan bekerja di kilang/pabrik. Sembilan tahun berikutnya ia hijrah ke Korea Selatan dengan harapan memperoleh gaji lebih baik. Tahun 2011 lalu, Tia  memutuskan untuk kembali ke tanah air.

Dalam bayangan Tia, ketika pulang menjadi buruh migran ia sudah memiliki pekerjaan. Tetapi ketika pulang ia mendapati hal yang berbeda. Tidak ada pekerjaan tersedia. Tia kemudian merintis usahanya sendiri tanpa bantuan dari suami atau keluarga. Ia mulai dari bisnis paling kecil dengan membuka warung kelontong di rumahnya.

Bermula dari warung kelontong yang menjual aneka kebutuhan rumah tangga, ia kemudian menjual penganan berupa gorengan. Usahanya berkembang dan membuatnya membuka warung makan. Di warungnya ia menjual makanan-makanan rendah kolestrol. Misalnya ia mengganti santan dengan tepung jagung yang rendah kolestrol, tetapi memiliki manfaat yang sama. Selain tidak cepat basi, harga tepung jagung juga lebih murah dibanding santan.

Modifikasi tepung jagung tersebut ia pelajari ketika berada di Korea Selatan. Berbekal pengalaman hidup di Korea, ia menambah menu warung makan dengan menu ingkung ayam. Tia tidak memasak ingkung yang biasa, ia memasak ingkung ayam yang direbus dahulu dengan madu. Setelah berhasil dengan ingkung ayam madu, ia menjajal menu baru dengan membuat bakmi lethek dan sate kelinci.

“Warung saya melayani dari harga penganan yang murah seperti gorengan, sampai yang mahal seperti ingkung,”ujar Tia.

Tia mengaku bahwa misi hidupnya terinspirasi dari pohon yang tumbuh dari bawah. Ketika menjadi benih, ada tantangan agar benih bisa muncul ke tanah menjadi tunas. Ketika menjadi daun, ia harus bersiap ketika suatu hari dipetik.

“Ada banyak tantangan menjadi pohon, tetapi pohon sangat bermanfaat bahkan ketika sudah mati sekalipun. Ketika pohon mati, masih bisa menjadi kayu bakar, menjadi arang, dan menjadi abu yang berguna,” kata Tia mengakhiri ceritanya.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *