Purwanto, Tetap Bertahan di Arab Saudi Karena Keluarga

Author

Ilustrasi oleh Alamsyah Muhammad
Ilustrasi oleh Alamsyah Muhammad

Purwanto bin Sudaryanto (32), Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah yang diberangkatkan ke Arab Saudi oleh PT Marba pada September 2006. Alih-alih mengejar sukses di Arab Saudi, Purwanto justru menjalani kehidupan yang keras. Bersama Al-Ghomas, majikan petamanya di Arab Saudi, Purwanto hanya bertahan 75 hari (dua setengah bulan) bekerja sebagai sopir. Ia kemudian kabur dari majikan pertama karena tidak menerima gaji dan mendapat perlakukan buruk saat menuntut hak-haknya.

Berstatus TKI yang kabur dari majikan menjadikannya tenaga kerja asing yang bermasalah dalam kaca mata hukum Pemerintah Arab Saudi, artinya Purwanto dianggap melanggar hukum karena kabur dari majikan.

“Saat itu, Saya ditampung di rumah teman dan saya dibikinkan kartu pengenal (palsu) sebagai sarana melamar pekerjaan , setelah itu saya pun bekerja dengan beban utang kartu pengenal aspal tadi sebesar 1200 real . Selama bekerja, saya pernah menerima gaji 800 Real sebulan dan hanya tersisa 500 Real untuk disisihkan ( jika dirupiahkan hanya sekitar 1,2 juta), bagi saya pendapatan segitu tidak seimbang kerja keras saya. Di Indonesia saya bisa mendapatkan lebih dari itu dengan pengalaman kerja saya sebagai sopir antar provinsi dan antar pulau.” tutur Purwanto saat diwawancarai Fathulloh melalui layanan obrolan di sebuah sosial media.

Purwanto kemudian menikah dengan sesama TKI di Arab Saudi dan hingga 2011 ia telah bekerja di banyak majikan, paling lama ia bekerja selama 7 bulan (rata-rata hanya bertahan 1 sampai 2 bulan atau hanya beberapa hari).

Ketika pemerintah melalui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mengumumkan rencana pemulangan sebanyak 1.660 orang TKI overstayer di Arab Saudi (Minggu – Senin, 30-31 Oktober 2011), Purwanto, TKI yang saat ini tinggal di Jeddah itu memiliki alasan sendiri untuk tetap berada di Arab Saudi dan tidak mendaftar agar dipulangkan ke Indonesia.

“Saya tidak memilih ikut pulang karena memikirkan nasib anak istri saya, dengan umur bayi yang masih muda, saya tidak tega membiarkan mereka tinggal di penampungan, saya akan bertahan mungkin satu tahun lagi, belum terbayang bagaimana upaya saya agar kembali ke Indonesia, tapi saya yakin pasti ada jalan keluar dari sana. Saya ingin punya modal, insyaallah bisa memiliki uang muka untuk membeli truk, untuk modal saya bekerja di Indonesia.” tutur Purwanto, lelaki yang cukup aktif berbagi informasi tentang buruh migran di sosial media.

Menurut penuturan Purwanto, masih ada ribuan TKI overstayer yang tidak turut mendaftar dalam program pemulangan yang dilakukan pemerintah Indonesia. Mereka tersebar di beberapa titik di Arab Saudi menggunakan identitas palsu, bepindah-pindah majikan, tempat menumpang, dan selalu menghindari petugas keamanan (Polisi) Arab Saudi.

Kepada pemerintah Indonesia, Purwanto berharap KBRI Arab Saudi mampu menjadi jembatan (penghubung) yang baik antara TKI dan majikan, sehingga persoalan seperti yang saya amalami tidak perlu terjadi.

“Tanpa memperbaiki hubungan antara majikan dan TKI di Arab Saudi, pemulangan overstayer akan sia-sia karena asal muasal yang menyebabkan banyaknya TKI overstayer tidak di atasi, ibarat mengelap lantai yang basah tanpa menutup kran yang airnya mengalir ke tempat tersebut” jelas Purwanto mengakhiri perbincangan dengan redaksi Pusat Sumber Daya Buruh Migran (PSD-BM).

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.