Kiprah

Mantan TKI Korea Sukses Berbisnis Ayam Potong

Author

Ilustrasi Penggemukan Ayam
Ilustrasi Penggemukan Ayam

Sugeng Riyadi (29) mantan Tenaga Kerja indonesia (TKI) yang berasal dari Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas pernah mengadu nasib ke Korea Selatan. Ia menjadi buruh migran di negeri gingseng sejak tahun 2000 sampai 2007. Sepulangnya ke tanah air, Sungeng mengalami kebingungan untuk memulai usaha yang bisa menghasilkan keuntungan.

Selama tiga tahun pasca pulang ia tak memiliki pekerjaan yang pasti. Berbagai jenis usaha telah digeluti oleh Sugeng, namun hasilnya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Di tahun 2010 ia berinisiatif untuk usaha ayam potong dan cabut bulu dengan sisa modal yang ia miliki. Sembari usaha tersebut, ia giat mencari pengetahuan tentang budidaya ayam lewat video-video di Youtube.

Pemuda Desa Cihonje ini kemudian tertarik dengan bisnis pembesaran ayam pedaging atau broiler. Selain mencari informasi lewat Youtube, ia juga mencari sumber informasi dari para peternak ayam broiler yang ada di daerahnya. Tahun 2011 Sugeng membangun satu kandang ayam yang lokasinya lumayan jauh dari rumah. Dengan kapasitas kandang 1000 ekor ayam, saat itu setiap 40 hari Sugeng bisa memanen ayamnya hingga 950 ekor ayam dengan berat 1,8 kg.

Sugeng saat ini sudah memiliki 3 kandang ayam yang berjumlah 3000 ekor ayam. Dalam sekali panen, Sugeng bisa mendapat 2970 ekor/40 hari.

“Alhamdulillah sekarang saya bisa punya usaha yang benar-benar hasil keringat sendiri. Membangun usaha dari nol sampai kuncinya tidak putus asa dan harus semangat,” ujar Sugeng.

Apa yang dilakukan Sugeng saat ini bisa menjadi contoh bagi para mantan TKI. Saat kita menjalankan usaha kita harus benar-benar mempunyai kemauan, ulet dan teliti, karena dari situlah usaha akan berjalan lancar. Penulis pernah bertanya pada Sugeng, jika ada yang ingin belajar budidaya ayam apakah akan diberi tahu. Ia menjawab akan memberitahu siapa pun yang mau belajar budidaya ayam, asal usahanya benar-benar serius dan tidak malu-malu.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *