Suka Dukaku di Riyadh

Author

Pada suatu sore, aku ditawari kerja ke Arab Saudi oleh tetanggaku. Salah satu anggota keluarga tetanggaku memang bekerja di Kota Riyadh. Dia mengaku berhutang budi dengan suamiku sebab sewaktu dia cuti di Indonesia dibantu suamiku mengurus proses keberangkatannya kembali.  

Dia mengajakku bekerja di keluarga majikannya. Akupun setuju. Selanjutnya, aku masuk ke sebuah Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) di Jakarta, tepatnya di daerah Condet dan dikenakan biaya Rp 500.000,- dengan rincian untuk bayar pemeriksaan kesehatan sebesar Rp 250000 dan sebagai uang jaminan Rp 250.000,- yang katanya akan dikembalikan bila hasil pemeriksaan kesehatanku bagus.

Ironisnya, setelah dokter menyatakan aku dalam kondisi sehat dia tidak mengembalikan uang jaminan sebesar Rp 250.000,- itu. Aku menjadi korban penipuan, terlebih setelah aku tahu bahwa sebenarnya aku tidak perlu membayar biaya pemeriksaan kesehatan sepeserpun sebab calon majikanku sudah membayar lunas dari Arab Saudi. Lagi, aku menjadi korban.

Setelah itu, aku mengikuti pendidikan dan proses pengurusan administratif lainnya, seperti pasport dan Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP) sebagai persyaratan keberangkatan ku. Proses yang aku lalui terbilang cepat, hanya 18 hari sebab sebelumnya aku punya pengalaman kerja di Arab Saudi pada 1992-1995. Keberangkatanku ke Arab kali ini merupakan kali kedua.

Akhirnya aku terbang dan tiba di rumah majikan. Di rumah majikanku hanya tinggal seorang nenek yang masih segar bugar sehingga aku tidak selalu harus mengurusnya. Selain si nenek, ada juga seorang cucunya laki-laki dewasa yang belum menikah. Mereka sangat sopan dan memperlakukanku dengan baik.

Rumah majikanku bersebelahan dengan rumah anaknya yang pembantunya adalah tetanggaku itu. Suami majikanku seorang pengusaha kaya yang sukses dan memiliki 4 orang istri. Majikan perempuanku adalah istri yang ke 3 dan memiliki anak 8 orang sudah berkeluarga semua. Pekerjaan sehari-hariku sama seperti pekerjaan di rumah sendiri dari beres-beres rumah, menyetrika, dan memasak.

Aku merasa kerasan bekerja di sana. Di samping pekerjaanku yang ringan, majikanku baik termasuk anak-anak dan semua keluarganya. Di pagi hari aku bangun pukul 07.00 dan mulai kerja pukul 07:30 sampai jam 11:00 siang. Walau rumah majikanku besar, namun tidak harus dikerjakan setiap hari. Setelah jam 11:00 siang aku bantu-bantu masak di rumah anaknya sampai pukul 14:30 setelah itu aku kembali ke rumah majikan untuk istirahat.

Aku turun lagi setelah shalat maghrib. Aku hanya duduk-duduk menamani majikanku sampai 22:00, setelah makan malam aku naik ke kamar untuk tidur dan turun lagi di pagi harinya. Begitulah pekerjaanku sehari-hari. Majikanku termasuk orang pemurah karena dia sering memberi bonus berupa uang setiap 2 minggu sekali 50 real uang itu aku pergunakan untuk keperluanku yang di luar tanggungan majikan, misalnya membeli makanan-makanan Indonesia. Sesekali pulsa dikasih sama majikan.

Namun aku merasa kesal jika waktu liburan tiba. Semua anak-anak majikan berlibur di rumah majikanku. Semua pekerjaan aku kerjakan sendiri walau mereka membawa pembantunya, namun pekerjaan tetap aku yang mengerjakan karena merekapun hanya mengurusi anak-anak majikannya. Kekesalanku cepat terobati sebab anak-anak majikanku sering memberi bonus lebih untukku dan di malam harinya aku bisa bercengkrama dengan teman sesama pembantu untuk saling berbagi pengalaman.

Aku merasa iri akan pembantu dari Philipina. Mereka selalu mendapat penghargaan dari majikan. Mereka selalu dinomorsatukan ketimbang pembantu indonesia. Sepertinya, majikan merasa takut oleh philipina ketimbang pembantu indonesia. Setiap peraturan yang ada diselalu dipatuhi kalau untuk Philipina. Aku merasa kondisi ini terkait dengan kinerja pemerintahan Indonesia yang kurang tegas dalam untuk menegaskan peraturan atau memberlakukan peraturan tentang ketenagakerjaan.

Aku bisa menyelesaikan kontrakku hingga 2 tahun. Akupun pulang ke tanah air dengan keberhasilanku. Setiba di Jakarta, aku pulang ke kampung ikut atavel dengan tiket Rp 215.000,- Petugas di terminal 3 Soekarno-Hatta juga memperingati aku untuk tidak memberi uang kepada siapa pun di jalan.

Sebelum tiba ke rumah, kami para buruh migran Indonesia diajak mampir ke sebuah kafe di sekitar daerah Cicurug. Di sana tersedia pelbagai makanan dan minuman ringan dengan harga melambung. Saya merasa di situ ada sebuah permainan kotor dari para oknum yang memanfaatkan para buruh migran karena di sana terpampang spanduk bertuliskan “SELAMAT DATANG PAHLAWAN DEVISA”. Lagi, buruh migran menjadi korban.

Sesampainya di rumah, sopir sama krunya minta uang dengan pelbagai alasan dalam nada paksaan. Namun, aku hanya memberi alakadarnya sebagai uang rokok. Itulah sebuah cerita seorang buruh migran yang diambil dari kisahku sendiri.

2 responses to “Suka Dukaku di Riyadh

  1. Nasib Buruh MIgran memang belum jadi perhatian serius pemerintah, apalagi KBRI selaku perwakilan mereka di luar negeri. Saya suka dengan cara Anda menuliskan pengalaman. Ini akan sangat bermanfaat bagi banyak orang yang bekerja sebagai TKI. Teruskan. Saya yakin masih banyak pengalaman yang dapat memberi manfaat bagi orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *