Kiprah

Menjadi TKW, Demi Investasi Pendidikan Anak

Author

BANYUMAS. Rakinah (57), tersenyum lebar. Raut mukanya kelihatan sangat cerah. Barangkali, inilah cermin bahwa hatinya sedang sangat damai. Ketiga anaknya sedang berkumpul dan cucu-cucunya juga ikut meramaikan suasana rumah perempuan itu.

Kondisi demikian, mungkin tak kan pernah tercipta jikalau wanita yang berasal dari desa Cihonje, Gumelar, Banyumas itu, 15 tahun yang lalu tidak mengambil sebuah keputusan besar, ketika suaminya meninggal dunia dengan meninggalkan tiga anaknya yang masih duduk dibangku sekolah dasar.

Menikah lagi? Atau bekerja untuk membiayai sekolah anak? Keduanya mempunyai resiko. Menikah lagi, tentu akan segera mendapatkan pendamping hidupnya, tapi belum tentu nantinya sang suami baru itu mau menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang sekolah lanjutan atas. Bekerja? Tentu akan bisa mendapatkan biaya untuk meneruskan sekolah anak-anaknya. Tapi ia harus rela menjanda dulu dalam waktu yang cukup lama tentunya.

Perempuan itu dihadapkan pada dua masalah yang semuanya baik. Tapi ia harus tetap memilih. Karena konsekwensi hidup demikian adalah harus memilih dan harus membuat sebuah keputusan besar.

Ahirnya, ia memilih untuk bekerja. Tiga anaknya dititipkan kepada kakek neneknya. Perempuan itu memutuskan untuk meninggalkan tanah air menuju Arab Saudi untuk bekerja sebagai penata laksana rumah tangga, alias pembantu.

Waktu terus berjalan, ia berkomitmen bahwa ketiga anaknya harus bisa sekolah, minimal sampai lanjutan atas. Sehingga dengan impian seperti itu, ia dengan sekuat tenaga ingin membuktikannya.

Kalau orang lain, bekerja di luar negeri lantas segera membuat rumah bagus, perempuan ini lain . Rumahnya dibiarkan apa adanya dulu. Masih seperti semasa suaminya hidup, belum bertembok semen. Ia sedang fokus untuk menginvestasikan ilmu kepada anak-anaknya lewat lembaga pendidikan berupa sekolah.

Tetangganya pernah mengkritik bahwa menyekolahkan anak ke kota, apalagi sampai tingkat lanjutan atas, itu sama artinya mendaftar jadi orang miskin. Karena biaya yang dikeluarkan tentunya besar. Namun kritikan itu tak pernah ia pedulikan. Ia biarkan rumahnya dari bambu, asal anak-anak bisa melanjutkan sekolah.

Sepuluh tahun kemudian, perempuan itu tersenyum. Beratnya menghadapi para majikan tanah Arab, tak sebanding dengan sukses ketiga anaknya bisa menamatkan sekolah. Anak yang pertama, yang punya bakat menjadi pendidik, berkarir sebagai seorang pembimbing rohani di sebuah departemen milik pemerintah. Anaknya yang kedua, lulus dari SMK akuntansi, menapaki hidup sebagai seorang wirausahawan, dengan membuka warung kelontong di depan rumahnya. Yang terahir, laki-laki yang punya kelebihan di elektronik, setamat dari SMK elektro, membuka usaha bengkel televisi dan kulkas.

Perempuan yang kini mulai berumur itu masih mengumbar senyum. Menikmati hasil usaha kerasnya puluhan tahun dibawah aturan majikan negeri raja Fadh. Jika dulu ia memutuskan untuk menikah lagi, mungkin arah nasibnya juga akan lain.

Bak seorang Hamka, ia bertutur: “Anak-anak kecil begitu menyenangkan hati orang tuanya karena lucunya, dan ketika menginjak dewasa akan membahagiakan orang tuanya karena sukses dalam hidupnya”.

Ahirnya, siapapun orangnya, entah itu dosen atau guru TK, entah itu majikan atau pembantu rumah tangga, entah itu pengusaha atau pengangguran, tetap harus mau membuat keputusan besar dalam hidup ini, jika ingin sukses!

Dan Rakinah, di tahun 2011 ini, telah sukses mengegolkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan lebih tinggi darinya, di tengah 4.900 anak usia SLTP di kabupaten Banyumas, tak bisa melanjutkan sekolah, karena ketiadaan biaya. (SusWoyo)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.