News

(Bahasa Indonesia) Purna Jaya: Asosiasi Purna TKI Korea di Yogyakarta

Author

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Seminar Wirausaha dari PSAP UGM yang didukung Purna Jaya
Seminar Wirausaha dari PSAP UGM yang didukung Purna Jaya

Berkumpul dan berorganisasi mungkin sudah banyak dilakukan oleh kawan-kawan BMI di negara penempatan, tapi lain halnya yang dilakukan oleh beberapa mantan BMI di Korea ini. Meskipun sudah tidak lagi menyandang status sebagai buruh migran, namun sekumpulan mantan BMI Korea di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini masih tetap semangat untuk menjalin silaturahim dan persahabatan dalam sebuah paguyuban yang dinamakan “Purna Jaya”. Saat ini, kurang lebih 180 orang anggota yang keseluruhan mantan pekerja manufaktur di Korea tergabung di paguyuban yang berdiri pada tahun 2010 silam ini.

Ketika ditanya mengenai awal mula terbentuknya Purna Jaya, Heri Pralistio, Ketua Umum Purna Jaya, menuturkan bahwa paguyuban ini terbentuk dari kegiatan penelitian seorang dosen dari Pusat Studi Asia Pasifik (PSAP) UGM mengenai buruh migran di Korea yang melibatkan masing-masing 25 orang dari setiap kabupaten. “Daripada setelah pulang kami tidak ada komunikasi lagi, akhirnya kami membentuk paguyuban ini. Waktu itu ada 8 orang pendiri paguyuban ini yang merupakan perwakilan dari tiap kabupaten yaitu Sleman, Kulonprogo, Wonosari, dan Bantul” ujar Heri kepada Redaksi PSDBM.

Selain menyelenggarakan rapat bulanan, berbagai kegiatan yang pernah didukung oleh Paguyuban Purna Jaya diantaranya pelatihan wirausaha membuat roti dan coklat bagi purna tenaga kerja Indonesia (TKI) juga mendukung kegiatan berbagai seminar yang salahsatunya menghadirkan narasumber Nahrowi, seorang mantan BMI yang telah sukses di tanah air. Untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan ini, Purna Jaya berperan sebagai penjembatan bagi berbagai paguyuban di daerah dengan pihak penyelenggara acara dari PSAP UGM, BP3TKI Yogyakarta juga dari BNP2TKI.

“Dari sekian banyak anggota, yang aktif mungkin hanya sekitar 10 orang, karena sulit sekali mengumpulkan anggota kita. Waktu kumpul yang biasanya jatuh di hari Ahad sering berbenturan dengan kegiatan yang lain. Selain itu, dalam hal pendanaan kami juga tidak memiliki kas sepeserpun, semua kegiatan murni didanai pengurus,” ujar Heri Pralistio.

Belum ada komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.