Panduan Bagi Calon Pekerja Migran Indonesia

Author

Bekerja menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) di luar negeri tidak melulu hanya menempati posisi sebagai pekerja informal. Ada juga lowongan-lowongan pekerjaan untuk pekerjaan formal di sektor manufaktur atau pabrik di Malaysia. Hal yang perlu diperhatikan, dalam bekerja di sektor formal maupun sektor informal, calon pekerja migran perlu mempersiapkan diri sebelum berangkat ke negara penempatan. Bagaimana calon pekerja migran mempersiapkan diri untuk migrasi ke negara penempatan? 

Pertama, mencari informasi peluang kerja di luar negeri dari sumber yang tepat. Calon PMI bisa mendapatkan informasi terkait penempatan ke luar negeri dari sumber-sumber yang dapat dipercaya. Sumber informasi bisa didapat dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans/Disnaker) terdekat atau melalui Balai Pelayanan, Penempatan, dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI/P4TKI) di daerah asal calon PMI. Calon pekerja migran juga dapat memeriksa lowongan pekerja pada website http://jobsinfo.bnp2tki.go.id/

Kedua, meningkatkan kualitas dan keterampilan diri. Peningkatan keterampilan ini berfungsi untuk menambah nilai tawar saat akan memasukkan lowongan pekerjaan.

Ketiga, mempersiapkan mental calon pekerja migran. Bekerja di luar negara sendiri dengan budaya yang berbeda sering membuat pekerja migran mengalami culture shock. Belum lagi jika harus berhadapan dengan majikan atau supervisor yang cerewet. Perlu kecakapan adaptasi untuk berhadapan dengan orang-orang baru yang memiliki latar belakang berbeda. 

Keempat, bekali diri dengan pengetahuan tentang negara yang akan dituju, meliputi nilai tukar mata uang, nomor telepon darurat, budaya, bahasa di negara tujuan. Penting juga untuk mengenal berbagai komunitas untuk mendapatkan informasi-informasi yang terjadi di negara penempatan.

Kelima, waspadai calo atau tekong yang beredar. Desakan ekonomi serta kurangnya pengetahuan mengenai migrasi membuat calon PMI mudah tergiur dengan tawaran yang ditawarkan oleh calo atau tekong. Alih-alih mendapatkan pekerjaan yang bagus dan semua haknya terpenuhi, ia justru terbelenggu dalam lilitan hutang atas tingkah laku kotor perekrut PMI. 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *