Kisah

Pemuda Kemloso Inisiasi Taman Baca Anak Pekerja Migran

Author

Oleh: Exy Yudiawan*

Kegiatan di Taman Baca cukup beragam, selain membaca, anak-anak juga bermain dengan teman sebaya dan berkelompok, serta diselingi dengan kegiatan belajar seperti belajar berbahasa Inggris. Taman baca Kemloso saat ini masih menggunakan bangunanan pos kamling, sehingga sarana prasarana sangat terbatas dan kurang layak.

BANYUWANGI | Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, merupakan salah satu desa kantong pekerja migran di Banyuwangi. Di desa ini terdapat banyak warganya yang bekerja menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia, Taiwan, Arab Saudi maupun Hong Kong.

Dengan adanya fenomena feminisasi migrasi, PMI di desa ini didominasi oleh perempuan yang bekerja di sektor informal seperti Pekerja Rumah Tangga (PMI). Pekerja migran perempuan harus meninggalkan suami dan anak-anak mereka di desa untuk dapat bermigrasi ke luar negeri.

Dengan adanya fenomena feminisasi migrasi, PMI di desa ini didominasi oleh perempuan yang bekerja di sektor informal seperti Pekerja Rumah Tangga (PMI). Pekerja migran perempuan harus meninggalkan suami dan anak-anak mereka di desa untuk dapat bermigrasi ke luar negeri.

Menurut Agung Subastian, salah satu pengurus remaja masjid Kemloso sekaligus Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI Banyuwangi), sebanyak 50% penduduk Kemloso adalah pekerja migran perempuan, meninggalkan anak-anak mereka yang masih bersekolah di desa.

Anak-anak PMI yang ditinggalkan ibunya rentan terabaikan hak-haknya, termasuk hak mendapatkan akses lingkungan yang baik dan mendidik. Kerentanan tersebut menjadi kegelisahan tersendiri bagi para pemuda dan pemudi yang tergabung dalam Remaja Masjid Baiturrohim Kemloso. Kondisi tersebut juga menjadi alasan kuat bagi komunitas remaja masjid menginisiasi adanya taman baca dan kegiatan yang mendidik bagi anak-anak sekitar dusun Kemloso.

Kondisi tersebut juga menjadi alasan utama remaja masjid menginisiasi didirikannya taman baca pada pertengahan Agustus 2018 lalu.

“Dari pengamatan kami, banyak dari anak-anak pekerja migran ketika pulang sekolah sebagain kecil waktunya digunakan untuk les privat. Sebagian lain bermain dengan teman sebaya, namun banyak juga dari mereka yang dimanja dengan permainan di gawai,” ujar Agung Subastian.

Sarana dan Prasarana Terbatas

Anak-anak Dusun Kemloso Belajar dan Bermain di Taman Baca.

Agung dan para pemuda remaja masjid berharap, agar taman baca bisa membantu anak-anak pekerja migran untuk mengisi waktu luang mereka agar berkualitas. Kegiatan di Taman Baca cukup beragam, selain membaca, anak-anak juga bermain dengan teman sebaya dan berkelompok, serta diselingi dengan kegiatan belajar seperti belajar berbahasa Inggris.

Taman baca Kemloso saat ini masih menggunakan bangunanan pos kamling, sehingga sarana prasarana sangat terbatas dan kurang layak.Taman baca Kemloso sendiri saat ini menggunakan bangunanan pos kamling sehingga sarana prasarana sangat terbatas dan kurang layak.

“Taman baca ini terkendala dana yang kurang dan buku-buku yang masih sangat terbatas. Banyak anak-anak yang tertarik membaca, tapi bukunya hanya itu-itu saja. Harapan ke depan, semoga taman baca ini terus berjalan dan bisa melakukan roadshow ke seluruh Dusun Kemloso untuk mendekatkan dengan pembaca,” kata Agung Subastian.

Materi bacaan taman baca untuk anak-anak yang ada di Kemloso ini masih terbatas, sehingga apabila ada sobat migran yang ingin menyumbangkan buku-buku bekas atau baru untuk anak-anak bisa dikirimkan pada Agung Subastian, Dusun Kebonsari RT 05 RW 04, Desa Benculuk, Kecamatan, Cluring Kabupaten Banyuwangi.

===

Keterangan Penulis: Exy Yudian adalah anggota Serikat Buruh Migran Banyuwangi.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.