Jimat, Kyai dan Buruh Migran

Author

Contoh Jimat yang Dipercaya Melindungi atau Membawa Kekuatan Magis Tertentu
Contoh Jimat yang Dipercaya Melindungi atau Membawa Kekuatan Magis Tertentu

Bagi masyarakat Indonesia, jimat (azimat) dan kyai/ustadz, sudah tak asing lagi mewarnai hubungan antara manusia dan alam. Jimat dan kyai bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Mereka dipercaya sebagai media yang menjembatani antara kekuatan realistis dan kekuatan magis/abstrak. Beberapa pihak percaya bahwa kedua-duanya mampu memberikan ketenangan, keselamatan dan keamanan bagi manusia yang mempercayainya.

Fenomena jimat sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi seseorang yang hendak bepergian. Orang-orang Iran yang hendak mencari suaka ke negara-negara utara, membawa jimat yang mereka sebut sebagai Nazrs. Orang-orang Mexico yang bermigrasi ke Amerika Serikat, selalu menyimpan jimat yang disebut Promesa pada sakunya. Tentu saja ada banyak benda yang memiliki fungsi sama dengan jimat. Suatu benda yang memiliki kekuatan sakti dan menghindarkan dari pelbagai macam godaan, kesialan, penyakit dan bala (bahaya yang mengancam) bagi yang memilikinya.

Hasib, Buruh Migran Malaysia, selalu mengalungkan tasbih yang diperolehnya dari Kyai nya. Dia membeli tasbih tersebut dengan harga RM100. Sang Kyai tidak hanya membawakan tasbih saja, ada minyak wangi dan bungkusan-bungkusan kertas yang dilaminasi dengan rapat. Masing-masing harganya RM50. Benda-benda tersebut menurutnya sudah diberikan mantra dan doa-doa oleh Kyai.

Hasib juga diminta menjualkan segerombol benda-benda tersebut kepada buruh migran lainnya di Malaysia. Hasib mengatakan jika Pak Kyai tersebut rutin datang ke Malaysia setiap tiga atau lima bulan sekali. Menggelar pengajian dari kongsi satu ke kongsi lainnya dan tidak lupa mengelilingkan surbannya.
Hal tersebut tak hanya terjadi di Malaysia, kehadiran Kyai atau ustadz ke negara penempatan buruh migran juga terjadi di Hong Kong, Macau dan Taiwan.

Nur Halimah, mantan Ketua Koalisi Organisasi Tenaga Kerja Indonesia Hong Kong (KOTKIHO) mengingatkan kepada rekan-rekan buruh migran di Hong Kong, agar tidak terjebak penipuan oleh oknum ustadz, kyai atau motivator. Yosa dari Indonesian Migrant Workers Unioun (IMWU) Macau, juga menyerukan agar kawan-kawan buruh migran selalu ingat tujuan mereka pergi ke luar negeri dan keluarga di rumah lebih penting.

Kekonyolan pun bertambah ketika buruh migran mengorganisir kelompoknya untuk mendatangkan artis atau selebriti dari Indonesia. Perilaku hedonis mulai tumbuh subur dan berkembang pesat seiring dengan makin tumbuhnya berbagai iklan yang mengepung buruh migran. Buruh migran yang tak kuat menahan keinginannya akhirnya terjebak pada perilaku hedon.

Terkadang mereka merasakan ego apa yang menurut mereka tidak baik dengan kebiasaannya di negara asal (pertanggungjawaban sosial moral). Tetapi di sisi lain mereka merasa ingin menebusnya melalui ungkapan kebaikan yang dibawa oleh aktor/kyai (pertanggungjawaban transendental/spiritual). Akhirnya buruh migran mengambil cara-cara pragmatis tersebut. Inilah yang mungkin bisa menggambarkan sisi lain kehidupan buruh migran di negara penempatan.

Masih hangat dalam ingatan kita tentang perdebatan antara oknum ustadz dan buruh migran Hong Kong beberapa waktu lalu. Perdebatan tersebut menghiasi pelbagai media cetak dan elektronik nasional. Percekcokan itu pada intinya terletak pada niat yang tidak sesuai dengan harapan masing-masing pihak. Hal inilah yang menyebabkan pergeseran nilai antara oknum ustadz dan buruh migran.

Memang, para buruh migran jauh dari keluarganya. Mereka pergi ke luar negeri untuk sebuah visi. Berharap agar kehidupannya menjadi lebih baik pada masa mendatang (ekonomi). Kehidupan yang jauh dari keluarganya dan memiliki uang, membuat kawan-kawan buruh migran mencari pelbagai cara untuk mengurangi rasa rindu dengan keluarga. Sekaligus juga aji mumpung. Misalnya mumpung mempunyai uang, mereka menghendaki suatu barang dan jasa yang diinginkan bukan yang dibutuhkan. Situasi ini nampaknya ditangkap dan betul-betul dimanfaatkan oleh pihak-pihak atau aktor yang memiliki sumber daya melekat pada dirinya, untuk menjual sumber daya tersebut.

Di sisi lain, kita tidak menolak kehadiran peran jimat, kyai dan ustadz, karena semuanya bagian dari kearifan lokal bangsa Indonesia. Mereka juga sangat berpengaruh dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Tapi lebih baik kita mulai berpikir ulang dan mempertimbangkan kembali antara kesadaran magis dan kesadaran kritis yang dimiliki oleh setiap orang.

Jika ada pihak atau aktor yang menawarkan sumber daya atau jasanya kemudian ditukar dengan nilai nominal dan fasilitas tertentu, maka hal ini perlu dihindari. Karena situasi ini sebenarnya hendak mengksploitasi atau memanfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh buruh migran di perantauan. Apalagi di luar negeri. Sang aktor pun pasti mematok harga yang fantastis. Mengingat jauhnya perjalanan, aura dan ketenaran yang dimiliki oleh sang aktor sebagai harga premium yang mesti dibayar oleh buruh migran.

Sekarang kita tanya pada diri kita sendiri, apakah pola-pola di atas sesuai dengan jati diri ustadz atau kyai yang kita harapkan?

Ketahuilah kawan-kawan buruh migran, oknum kyai/ustadz datang ke luar negeri bukanlah ingin mendoakan keselamatan kalian dengan ikhlas, akan tetapi menginginkan uang kalian. Pribadi kyai atau ustadz yang sesungguhnya pastilah mempunyai tanda-tanda kebaikan dan kemuliaan, baik secara tutur-kata maupun tingkah laku. Mereka juga selalu menjaga hubungan antara sesama manusia dan sang pencipta. Bukannya malah menyebabkan kemungkaran dan kedzaliman di antara umat. Inilah yang penulis maksud sebagai kesadaran kritisnya.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *