Akhirnya KBRI Kuala Lumpur Bantu Kepulangan Mu’alim

Author

Kondisi Mu'alim, TKI Malaysia yang mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan kerja di Kuala Lumpur Malaysia
Kondisi Mu’alim, TKI Malaysia yang mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan kerja di Kuala Lumpur Malaysia

Sudah jatuh tertimpa tangga, demikianlah kondisi Mu’alim (48) Buruh Migran Indonesia (BMI) Malaysia yang berasal dari Dusun Nglebak, Desa Jetak, Kecamatan Montong, Tuban, Jawa Timur. Dengan kondisi lumpuh akibat kecelakaan kerja (20/12/14), Mu’alim masih menjadi korban penipuan calo program pemulangan Pendatang Asing Tanpa Izin (PATI).

Mu’alim jatuh dari lantai satu gedung bertingkat di daerah Jinjang, Kuala Lumpur. Dia masuk ke Malaysia pada 29 Mei 2014 melalui Batam melalui visa turis dan kemudian bekerja di sektor konstruksi. Karena tidak ada dokumen dan tidak memiliki biaya pengobatan, hingga saat ini Ia hanya mendapatkan rawatan di klinik dan urut tradisional saja. Padahal dengan kondisi yang Ia alami, Ia seharusnya memperoleh perawatan dari rumah sakit dan dilakukan foto rontgen (X-Ray) untuk mengetahui kondisi tulang yang patah.

Setelah 10 hari dari kecelakaan kerja, alih-alih mengurus program pemulangan PATI, karena minim informasi soal program kepulangan tersebut, Mu’alim justru terjerat calo. Melalui seorang kawan, dia diarahkan mengurus pemulangan melalui seorang calo bernama Erlinda Muslim. Mu’alim pun dikenakan biaya RM 3,200 atau sekitar 11,3 juta rupiah dengan janji segera dipulangkan oleh Erlinda Muslim melalui jasa pemulangan IMAN Resources Sdn Bhd.

Pada 8 Januari 2015, Mu’alim diminta membayar uang muka sebesar RM 1,500 (5,2 juta rupiah) kepada Erlinda Muslim. Namun hingga ditemui Tim Serantau (10/2/2015) proses yang dilakukan calo baru sampai memasukkan dokumen ke Imigresen Malaysia. Walaupun selalu dihubungi, namun calo bernama Erlinda Muslim selalu memberi alasan untuk mengelak. Bahkan calo tersebut terus meminta biaya tambahan untuk tiket dan banyak biaya lain yang tidak jelas peruntukannya.

Kondisi Mu’alim itu lumpuh kedua kakinya, tidak bisa digerakkan sama sekali. Untuk membantu membersihkan badannya dia dibantu saudara jauh yang juga tinggal satu kamar di rumah kongsi yang sempit. Karena tidak mendapatkan perawatan dari dokter, sekarang punggungnya sampai berlubang. Jika dibiarkan luka tersebut pasti makin parah dan bernanah. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, dengan kondisi seperti itu, Mu’alim masih menjadi korban penipuan calo. Karena itulah kami adukan kasus ini ke KBRI Kuala Lumpur, yang kemudian memperoleh tanggapan positif. KBRI Kuala Lumpur mengutus staf untuk menjenguk Mu’alim dan membiayai tiket kepulangannya ke Indonesia.” papar Nasrikah, Pegiat Komunitas Persatuan TKI Malaysia Anti Diskriminasi (Pertimad) sekaligus anggota redaksi Serantau Malaysia.

Pada 10/2/2015 Tim Serantau Malaysia mengadukan kasus Mu’alim ke KBRI Kuala Lumpur. Pengaduan tersebut mendapat tanggapan baik dari pihak KBRI dengan mengirim staff untuk menjenguk dan membawa Muálim ke rumah sakit (walau kemudian Mu‘alim menolak karena merasa tidak mau merepotkan pihak KBRI). Setelah dokumen memo keluar selesai, pada 23/2/2015 Muálim dihantar pihak KBRI hingga ke Surabaya untuk pulang dan dipertemukan dengan keluarga di kampung halamannnya.

Melalui kasus tersebut, Komunitas Pertimad dan Tim Redaksi Serantau Malaysia berharap agar kawan-kawan TKI atau BMI di Malaysia tidak mudah percaya pada calo yang menawarkan jasa kepulangan ke Indonesia. Bagi kawan-kawan TKI/BMI tanpa dokumen diharapkan mengadukan kasus ke kantor-kantor perwakilan Pemerintah Indonesia di Malaysia (KBRI/KJRI) agar dapat memperoleh informasi prosedur pemulangan PATI dengan benar. [nas]

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *