Panduan

Kuliah dan Kursus Keterampilan Bagi Buruh Migran

Author

Universitas Terbuka di Hong Kong. Sumber Foto: Kemlu.go.id
Universitas Terbuka di Hong Kong. Sumber Foto: Kemlu.go.id

Akhir pekan merupakan hari libur bagi Buruh Migran Indonesia (BMI) yang bekerja di negara-negera penempatan tertentu. Mereka memiliki kebebasan untuk menghabiskan waktu di dalam rumah atau sekadar jalan-jalan sembari nongkrong di tempat berkumpulnya buruh migran. Tak melulu kegiatan hura-hura, banyak dari mereka yang menghabiskan akhir pekan dengan menyibukkan diri di tempat kursus atau tempat kuliah.

Redaksi Buruh Migran sering mendapat pertanyaan dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI/BMI) perihal kursus dan kuliah yang ada di luar negeri. Berikut ini adalah beberapa informasi di negara penempatan, khususnya Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, dan Malaysia, terkait dengan tempat kursus atau tempat kuliah.

1. Singapura
Di negeri singa ini, buruh migran tak perlu bingung untuk mencari tempat kursus. Lembaga-lembaga swasta, Sekolah Indonesia Singapura (SIS), dan organisasi-oraganisasi buruh migran menyediakan kursus keterampilan bagi buruh migran. Seperti di Indonesian Family Network (IFN), kursus diadakan setiap minggu ke dua dan minggu ke empat pukul 10.00 siang dengan materi bahasa inggris, komputer, dan handcraft. Sedangkan di minggu ketiga ada kelas fotografi yang dimulai pukul 11.00 siang. Umai Umairoh, koordinator IFN mengatakan bahwa kursus ini baru saja berjalan dan akan dibuka lagi setengah tahun ke depan. Mengenai peraturan dan pertanyaan mengenai kursus di IFN bisa menghubungi Atien Suwito.

2. Hong Kong
Seperti di Singapura, TKI di Hong Kong akan dengan mudah mendapati kursus-kursus keterampilan mulai dari yang berbayar hingga yang menetapkan biaya seikhlasnya. Lembaga-lembaga kursus swasta, di masjid atau di tempat berkumpulnya buruh migran sering ditemui kursus-kursus keterampilan. Menurut Fera Nuraini, buruh migran dan blogger Hong Kong, TKI yang tertarik untuk kursus memang banyak, mulai dari kursus menjahit yang diminati ibu-ibu sampai kursus wirausaha.

3. Korea Selatan
Buruh migran di Korea Selatan yang bekerja di pabrik dengan hari libur jelas (sabtu/minggu) bisa juga memanfaatkan waktunya untuk kursus. Di mushola atau di shelter-shelter buruh migran menyediakan kursus di hari-hari tertentu. Mereka yang melatih kursus biasanya orang-orang Indonesia yang bekerja di shelter. Di antara berbagai kursus itu ada kursus memperlancar bahasa Korea. Menurut Firman, TKI Korea Selatan, bahasa Korea yang dipelajari dari buku ketika di Indonesia sering berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang Korea sehari-hari.

4. Malaysia
Di Malaysia kursus-kursus keterampilan bagi buruh migran juga tersedia dengan berbagai pilihan. Ridwan Wahyudi, dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) –kini tinggal di Malaysia—mengatakan bahwa TKI di Malaysia lebih suka kursus pada orang Indonesia yang sudah lama tinggal di sana daripada ikut kursus orang Malaysia. Biasanya ada kursus perbengkelan, menjahit, salon, dan sebagainya. Kursus berbayar biasanya diadakan oleh lembaga swasta, sedangkan kursus yang tidak berbayar biasa diadakan organisasi.

5. Universitas Terbuka
Tak hanya kursus keterampilan semata, buruh migran yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bisa mengikuti kuliah di Universitas Terbuka. Dengan program Unit Pelayanan Belajar Jarak Jauh (UPBJJ), buruh migran dapat mengikuti perkuliahan di negara-negara penempatan seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Korea Selatan. Bagi buruh migran yang ingin mengikuti perkuliahan di Universitas Terbuka bisa bertanya pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) atau kunjungi http://www.ut.ac.id/index.php

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.