22 Tahun Bekerja di Singapura, Dwi Berharap Ibunya Pulang

Author

Dokumentasi foto Muntofingah yang dimiliki keluarga
Dokumentasi foto Muntofingah yang dimiliki keluarga

Muntofingah warga Desa Krajan, RT.02/RW.03 Pekuncen Banyumas diberangkatan ke Singapura melalui PPTKIS PT. ERA SUTRA ALAM pada 24 Agustus 1992. Saat itu anak pertamanya masih duduk di kelas 2 SD dan anak kedua baru sekolah di TK. Sejak keberangkatannya, Muntofingah hanya berkomunikasi dengan keluarga melalui surat yang dikirim sampai tahun 2003. Dia juga beberapa kali kirim uang, nominal dan waktunya juga tidak tentu, terkadang setahun sekali kirim Rp.7.000.000.-, terkadang Rp.5.000.000,-.

Pada 2004 hingga 2005 keluarga sempat putus komunikasi dengan Muntofingah. Surat yang dikirim keluarga tidak pernah dibalas Muntofingah. Namun pada 2006 tiba–tiba Muntofingah menelepon anaknya, namun dia memakai kartu telepon yang sekali pakai sehingga anaknya tidak bisa telpon balik.

“Saat Ibu telepon, Ia mengatakan tidak memiliki handphone. Setiap kirim surat, Kami selalu mencantumkan nomor handphone dengan harapan Ibu mau menghubungi Kami anaknya. Setelah itu, Ibu sempat beberapa kali menghubungi kami, namun karena kami sering tanya mengapa Ibu tidak pulang, terus mencoba memberi nasihat kepada Ibu, sayang, mungkin karena hal itu akhirnya Ibu tidak pernah lagi menghubungi anaknya.” tutur Dwi, anak Muntofingah.

Pada 2005, pihak keluarga pernah mengadukan ke Kedubes Indonesia di Singapura dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk melacak keberadaan Muntofingah, ternyata Muntofingah masih tinggal di Block 28 Tomlinson Road #11-32 Kum Hing Court Singapore 247854 dan masih di majikan yang sama (Mr. Lee Siew Choon @ Lee William). Selama bekerja di Singapura, keluarga belum pernah mengetahui berapa jumlah nominal gaji yang sudah diterima Muntofingah. Keluarga khawatir gaji Muntofingah tidak dibayar penuh oleh majikan.

“Kami pernah bertanya pada Ibu mengenai gajinya, kata Ibu uang gaji disimpan sama majikan di bank namun rekeningnya atas nama majikan. Saat Kami bertanya bagaimana sebenarnya keadaan Ibu di Singapura, Ibu hanya menjawab baik–baik saja, dan bila ditanya kapan pulang?, Dia tidak pernah mau menjawabnya, dan hanya bilang belum waktunya.” ungkap Dwi.

Sudah 22 tahun Muntofingah bekerja di Singapura, pihak keluarga sangat merindukannya dan berharap Muntofingah bisa segera pulang ke Indonesia. Dwi berharap Muntofingah bisa berkumpul kembali dengan keluarga. anak dan cucunya sangat membutuhkan kasih sayang Ibu Muntofingah.

“Pada 8 September 2012 Bapak kami (suami Muntofingah) meninggal dunia, Bapak seorang guru (PNS), terusan gaji dan uang pensiunannya sampai sekarang belum bisa diurus karena Ibu belum pulang ke Indonesia. Karena Ibu dengan Bapak (SUKIRNO) masih terikat pernikahan, sehingga uang santunan pensiunan harus Ibu yang mengurusnya.” ungkap Dwi

Kabar duka yang dikirim keluarga, akhirnya dibalas Muntofingah pada 19 Desember 2012, namun Muntofingah tetap tidak mau pulang dengan alasan tidak siap fisik dan mentalnya. Sikap Muntofingah yang tertetup semakin membuat keluarga kebingungan, karena keluarga tidak pernah mengetahui atau memperoleh informasi keadaan Muntofingah yang sebenarnya di Singapura.

Keluarga hingga saat ini membutuhkan bantuan baik pihak pemerintah atau pun komunitas Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Singapura untuk melacak informasi kondisi Muntofingah yang sebenarnya. Keluarga berharap ada mediator untuk membujuk Muntofingah pulang ke kampung halaman dan kembali menjalani hidup bersama keluarga.

“Sebelumnya Kami selalu kirim surat namun jarang sekali dibalas. Kami anak–anak sangat merindukan kepulangan Ibu dan siap menerima apa adanya, asal Ibu benar–benar mau kembali ke Indonesia.” pungkas Dwi penuh harapan saat mengadukan kasus ini ke Paguyuban Buruh Migran dan Perempuan “Seruni” Banyumas.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.