Masih Ada Pungli di Bandara Soetta

Author

Carimah, TKI yang Terkena Pungli di Selapajang
Carimah, TKI yang Terkena Pungli di Selapajang

Perlakuan diskriminasi lagi-lagi menimpa BMI di jalur khusus Bandar udara Soekarno-Hatta (Soetta). Senin, (29/4/2013) tindak sewenang-wenang dan diskriminasi menimpa Carimah (31), BMI asal Indramayu-Jawa Barat yang akan pulang kampung setelah 2 tahun bekerja di Bahrain.

Iim—nama panggilannya—dipaksa oleh seorang pria yang mengaku sebagai pegawai bandara untuk menggunakan jalur khusus BMI yang ada di bandara Soetta. Karena ini kali pertama ia pulang dari luar negeri, maka tanpa pikir panjang Iim pun menuruti perintah pria tersebut. Nahasnya disitulah Iim mengalami perlakuan sewenang-wenang karena dijadikan sebagai sasaran empuk calo-calo mata duitan yang bercokol di sana.

Iim dan ratusan BMI lain diangkut dari terminal 3 bandara Soetta menuju terminal Selapajang dengan menggunakan bus khusus. Disitulah Iim dan rekan-rekan BMI lain dimintai uang transpot sebesar 50.000,-. Tiba di terminal Selapajang Iim disuruh membeli tiket travel dengan tujuan Indramayu sebesar 350.000,-. Ia lantas dipaksa untuk menukarkan seluruh uang Dinar-nya di sana, padahal kurs rupiah yang ditawarkan jauh lebih murah dari kurs sebenarnya.

Berbagai tindakan tidak manusiawi Iim rasakan ditengah penantian travel yang akan membawanya pulang. Seperti dipaksa untuk memberikan uang jalan 150.000,- pada salah satu supir travel agar bisa segera diberangkatkan. Ketika Iim menolak memberi, mereka mengancam tidak akan memulangkan sampai Indramayu. Tak berhenti sampai disitu saja, setiba di rumah pun sopir travel dan kondekturnya masih meminta uang rokok sebesar 200.000,-. Keseluruhan uang yang harus Iim keluarkan jauh lebih mahal daripada ongkos pulang mandiri dari bandara ke Indramayu.

“Bukan masalah jumlah uangnya, tapi proses perjalanan yang memakan waktu lama serta perlakuan para calo yang menyakitkan hati saya. Saat saya tanya nama masing-masing pria yang meminta uang, mereka malah membentak dan memaki-maki saya dan disuruh agar saya tak perlu banyak tanya,”ungkap Iim saat dihubungi via telepon.

Kendati Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, telah mengeluarkan Kepmen No.16/2012 yang memperbolehkan BMI untuk pulang tanpa lewat jalur khusus. Pada prakteknya ada saja BMI yang masih digiring untuk melewati jalur khusus TKI di Soetta.

Tapi rupa-rupanya Menakertrans setengah hati mengeluarkan keputusan ini. Jika memang ikhlas untuk BMI pulang mandiri, mengapa jalur khusus TKI di Soetta tak dihapus saja? Apakah takut menghapus mata pencaharian pegawai atau mungkin calo yang bermarkas di Soetta?

Kiranya benar apa yang dituturkan Eva Kusuma Sundari, anggota Komisi III DPR, di sebuah media massa, bahwa pemerintah masih tanggung-tanggung dalam menghapus diskriminasi terhadap TKI.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *