Kisah Enok: “Mamah, mana oleh-olehnya?“

Author

Cirebon – Harapan Enok Sutarsih Tenaga Kerja Wanita (TKU) asal Sumedang, Jawa Barat untuk segera mengakhiri hari-hari kelabu dengan pelbagai siksaan yang dilakukan majikannya saat bekerja di Arab Saudi akhirnya terwujud. Pada kamis (22/9), Enok Sutarsih bisa kembali berkumpul dengan keluarganya di Tomo, Sumedang.

Menginjakkan kaki di kampung halaman, sedikit menghilangkan trauma yang dialaminya selama berada di Arab Saudi. Badan yang terlihat kurus kering dan juga beberapa luka penyiksaan yang masih terlihat jelas di beberapa bagian tubuhnya, membuat keluarga menyambut Enok dengan tangisan. Pelukan erat dari keluarga suami dan para tetangga terjadi cukup lama, air mata dari sanak keluarga dan tetangga yang hadir menjemput tak bisa dibendung.

Perjuangan yang dilakukan Hamidin, suami dari Enok Sutarsih untuk bisa sesegera mungkin memulangkan isterinya akhirnya bisa diwujudkan. Entah berapa rupiah dan tenaga yang dihabiskan Hamidin dalam usahanya menyelamatkan isterinya dari siksaan majikannya di Arab Saudi.

Keseharian Hamidhin sebagai supir angkutan umum dan teknisi perbaikan elektronik, merupakan modal bagi Hamidhin untuk terus membiayai pengeluaran guna memperjuangkan kepulangan isterinya. Koordinasi lewat telepon yang dilakukan dengan pelbagai aktivis buruh migran juga selalu dilakukan. Bahkan tidak jarang juga Hamidhin langsung menuju kantor lembaga pemerintah maupun non pemerintah yang diperkirakan bisa membantu memulangkan isterinya.

Walaupun sudah berada di Indonesia, ada saja kesedihan yang membuat Enok Sutarsih kembali mengucurkan air matanya. Putri kecilnya yang berumur 5 tahun dengan polos menanyakan oleh-oleh kepada mamahnya. Selama 8 bulan tidak bertemu dengan mamahnya membuat si kecil sangat terlihat memendam kerinduan dan berharap sang mamah membawa oleh-oleh mainan buat dirinya.

“Saya langsung nangis mas, saya langsung peluk dia erat sekali. Saya bilang, mamah tidak bawa apa-apa neng, tas ini juga robek dan nggak ada isinya. Tapi dia nggak percaya, sampe tas robek saya terus dia buka. Saya malah tambah nangis ngerasa salah,” kisah Enok.

Ketika dipulangkan, Enok Sutarsih tidak diperkenankan membawa barang-barang miliknya. Dia hanya membawa tas robek yang berisi beberapa lembar pakaian, tanpa membawa oleh-oleh yang diharapkan oleh putri kecilnya. Kondisi seperti ini membuat Enok jera untuk bekerja di luar negeri lagi.

“Saya sekarang lebih milih jualan kue di rumah, dibanding bekerja di luar negeri lagi. Bahkan kakak saya yang bekerja di Arab Saudi sudah 9 tahun tidak ada kabarnya,” ujar Enok.

Satu komentar untuk “Kisah Enok: “Mamah, mana oleh-olehnya?“

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.