Tak Kuat Disiksa, Enok Sutarsih Kirim SMS Minta Tolong ke Indonesia

Author

 

 

 

BMI, TKI
Ilustrasi

Kasus penyiksaan Enok Sutarsih Binti Moh. Radi Suradi (37), Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Dusun Bantar Gintung Kec. Tomo Kabupaten Sumedang sedang ditangani pegiat Fahmina di Cirebon dan kasus TKI tersebut telah disampaikan pula pada Migran Care di Jakarta untuk dimintakan bantuan advokasi.

Perkembangan terkini dikabarkan perlakuan majikan Enok Sutarsih memang sudah melewati kewajaran. Siksaan yang dilakukan majikan perempuan asal Riyadh Saudi Arabia ini ternyata sudah tidak kuat ditanggung oleh Ibu tiga anak asal Sumedang tersebut seperti yang diceritakan suaminya melalui telepon (10/09/2011).

Enok Sutarsih baru bekerja sebagai TKI selama 8 bulan di Riyadh, mengirimkan SMS minta tolong kepada Hamidin suaminya. Melalui SMS yang diterima Hamidin, Enok Sutarsih meminta untuk segera dipulangkan dan sudah tidak kuat menerima siksaan yang dilakukan oleh majikannya.

“Semua SMS dari isteri saya masih saya simpan, kalau baca SMS itu saya jadi sedih dan kasihan. Saya berharap kepada pemerintah dan semuanya saja untuk bisa membantu memulangkan isteri saya ke Indonesia,” kata Hamidin. Menurut Hamidin, SMS yang dikirimkan oleh isterinya berisikan tentang perlakuan majikannya yang sangat sadis. Isterinya mengaku dicekik, dijambak, dipukul, dibenturkan ke tembok dan perlakuan kasar lainnya.

“Istri saya bilang, dia takut cacat kalau terus berada di Arab. Jadi sekali lagi saya minta semua pihak yang bisa membantu, untuk bisa memulangkan isteri saya,” ujar Hamidin sambil menangis. Hamidin: Tolong pulangkan isteri saya secepatnya! Suara Hamidin itu begitu lirih Saya dengar saat melakukan wawancara secara langsung melalui sambungan telepon. Kegelisahan akan keadaan isterinya yang jauh di rantau, membuat suara laki-laki itu tak perkasa lagi, lirih ditelan kesedihan. Suara yang seakan mewakili ribuan keluarga Buruh Migran Indonesia lainnya yang mengalami kisah serupa seperti Hamidin. Rakyat kecil yang memiliki niat untuk memperbaiki kesejahteraan keluarga, ternyata harus kembali mengalami kisah pilu dalam perjuangannya. Berniat untuk bisa meningkatan perekonomian keluarga dan bisa memberikan bentuk tanggung jawab yang terbaik bagi semua anaknya yang mengalami putus sekolah, Enok Sutarsih terpaksa bekerja di Riyadh Arab Saudi 8 bulan silam.

Namun, bukan cerita indah yang diterima keluarga Hamidin, melainkan kisah pilu penyiksaan terhadap sang istri. Berkali-kali telepon dan SMS yang diterimanya langsung dari Arab Saudi, hanya memberikan kabar buruk tentang penyiksaan isterinya.

Suara Hamidin kembali berubah, kali ini terdengar isakan yang begitu dalam dia tahan saat saya menanyakan isi SMS yang dia terima dari Isterinya “Isteri saya disiksa mas, dipukul, dicekik, dijambak dibenturkan ke tembok dan penyiksaan sadis lainnya yang dilakukan oleh majikan perempuannya di Riyadh,” beber Hamidin. Mendengar kabar mengejutkan itu, tentu membangkitkan semangat Hamidin untuk bisa berusaha memulangkan isterinya ke Indonesia.

Beberapa lembaga sudah dia datangi dan mintai bantuan, namun hingga sekarang, kabar baik itu belum juga muncul. “Saya sudah minta bantuan ke rekan-rekan di radio komunitas Caraka FM Majalengka, saya juga sudah menghubungi PJTKI penyalur isteri saya di PT Abul Pratama Jaya dan saya juga sudah kirimkan laporan ke BNP2TKI dengan nomor laporan 2068. Namun semuanya belum memberikan kabar menggembirakan,” ujar Hamidin lirih. Bukan hanya Hamidin yang merasakan kegelisahan itu.

Empat anaknya yang sedang berusaha untuk tetap mengenyam pendidikan, juga sangat mengharapkan kepulang sang Bunda ke Indonesia. “ Anak saya yang masih sekolah ada di SMP, kalau yang STM Cuma sampai kelas dua, terus selesai karena tidak ada biaya. Cita-cita Enok ke Arab itu untuk bisa mnyekolahkan anaknya. Tapi malah mendapatkan musibah seperti ini,” katanya.

Walaupun materi sangat diharapkan untuk kesejahteraan keluarga di Sumedang, namun keselamatan dan kepulangan isterinya ke Indonesia merupakan hal yang paling di harapkan. “Yang saya inginkan tolong pulangkan isteri saya secepatnya…!!!!” kalimat terakhir yang diucapkan Hamidin terdengar menyayat hati, isakan tangisnya terdengar lebih keras dan nafasnya dihela cukup dalam.

Semoga saja, semua pihak bisa ikut merasakan kegelisahan yang dialami keluarga Enok Sutarsih dan bisa memberikan kabar baik yang sangat diharapkan oleh keluarga Enok Sutarsih di Indonesia.

 

Berita Sebelumnya:

Gara-gara Gigit Bibir Sendiri, TKW Asal Sumedang Disiksa

Tulisan ini ditandai dengan:kasus Kasus kekerasan penyiksaan TKI tenaga kerja indonesia 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *