Solidaritas Sesama Pekerja Migran di Malaysia

Author

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

“Meskipun bukan keluarga kandung, teman-teman di perantauan itu sudah menjadi saudara dekat,” ujar Yoga Pramono, Ketua Jaringan Komunikasi Organisasi Pekerja Migran Indonesia (KOMI) di Johor Bahru, Malaysia, Kamis, (1/4/2021).

Pram, biasa teman-temannya memanggil, sudah 10 tahun bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI). Ia bekerja di perusahaan alih daya yang memberikan layanan kepada perusahaan inti yang bergerak di bidang minyak dan gas. Ia bekerja pada sektor pabrikasi metal dengan spesialisasi pengelasan. Pram lulusan teknik elektronik di sekolah menengah kejuruan (SMK) di Blitar, Jawa Timur. Selepas lulus dari SMK, ia kemudian bekerja di bengkel elektronik di Tulungagung.

“Bapak menyarankan saya untuk merantau, ikut saudara yang di Batam,” kisahnya saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Pertama di Batam, Pram bekerja di bidang bangunan. Dua bulan kemudian, ia beralih di bidang besi menjadi asisten tukang las. Di situlah ia memperoleh keterampilan las. Hingga, ketika ada perusahaan yang membuka lowongan kerja di bidang minyak dan gas bumi di Malaysia, ia turut mendaftar dan lolos. “Dunia perantauan itu, pergi pagi pulang malam. Kadang saat tidur pun masih mimpi kerja,” ujar Pram sambil tertawa.

Empat tahun di perantauan, Pram turut serta dalam pembentukan komunitas Pejuang Devisa Peduli. Komunitas ini beranggotakan pekerja migran dan purna PMI dari berbagai negara seperti Malaysia, Taiwan, Singapura, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Aktivitas utama komunitas ini ialah berdonasi melalui penjualan kaos. Dana yang terkumpul kemudian disumbangkan kepada yatim piatu, korban bencana alam, pekerja migran atau keluarganya yang sedang mengalami kesulitan di tanah air.

Dan pada 2017, Pram terlibat dalam pembentukan KOMI yang difasilitasi oleh Yayasan Lembaga Kajian untuk Pengembangan Pendidikan, Sosial, Agama, dan Budaya (INFEST) Yogyakarta. Dari penuturan Pram, ada lebih kurang 12 komunitas di Johor Bahru yang tergabung di KOMI. Selain itu, KOMI juga berjejaring dengan organisasi dan komunitas pekerja migran di Indonesia antara lain, Komunitas Pekerja Migran Indonesia (KOPI) di Ponorogo dan Blitar, serta Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI). Selain itu, KOMI juga sering berkoordinasi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Johor Bahru dalam menangani kasus atau persoalan yang dihadapi PMI.

“Aktivitasnya KOMI, lebih seringnya membantu proses kepulangan kaum rentan hingga membantu proses pemulangan jenazah PMI ke tanah air. Dibimbing oleh INFEST juga, kita belajar soal hak-hak pekerja migran dan sering berhubungan dengan KJRI,” ujarnya.

Tergerak dalam Aktivitas Sosial

Pada 2015, Pram pernah mengalami persoalan ketenagakerjaan di Malaysia. Proses yang harus dilaluinya tidak mudah. Butuh waktu lebih kurang dua tahun hingga kasusnya bisa selesai. Dalam mengurus kasusnya ini, Pram dibantu Tenaganita, lembaga swadaya masyarakat di Malaysia yang fokus pada pelindungan pekerja migran, perempuan, anak, dan pengungsi dari ancaman eksploitasi serta perdagangan orang.

Dari pengalaman mengurus perkaranya, Pram merasa bahwa PMI yang berperkara atau mengalami persoalan di tanah rantau berada pada posisi yang sangat sulit. Selain waktu, banyak energi yang harus dicurahkan. “Di Malaysia, banyak sekali PMI yang mengalami persoalan dan tidak tahu harus berbuat apa dan kepada siapa harus meminta bantuan,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Untuk itulah, menurut Pram, komunitas atau organisasi PMI di Johor Bahru bisa menjadi wadah untuk bersolidaritas antar pekerja migran. “Saudara kita di sini bukan saudara kandung, tetapi teman-teman seperantauan. Kalau kita ada apa-apa merekalah yang kita mintai bantuan. Lebih dari itu, aktif di komunitas sosial ini seperti tergerak dari hati,” ujar Pram.

Tulisan ini ditandai dengan: komi PMI Malaysia 

Belum ada komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.