Yuk Kenalan dengan Komunitas Republik Ngapak di Hong Kong

Author

Kegiatan Kerajinan Talikur Merupakan Kegiatan Rutin yang Dilakukan oleh Komunitas Republik Ngapak di Hong Kong Setiap Minggu Ketiga.
Kegiatan Kerajinan Talikur Merupakan Kegiatan Rutin yang Dilakukan oleh Komunitas Republik Ngapak di Hong Kong Setiap Minggu Ketiga.

Saat ini tidak sedikit generasi muda yang malu menggunakan bahasa daerah. Berbagai alasan seperti kampungan, norak dan bahkan tidak terdengar modern merupakan beberapa penyebab bahasa daerah tidak digunakan. Kesan seperti ini tidak lepas dari peran media–terutama televisi–yang serikali memposisikan orang-orang di luar Jakarta sebagai orang udik, kampung dan bodoh. Walhasil, bahasa yang digunakan menjadi umum dan orang cenderung menggunakan bahasa yang dianggap sebagai bahasa gaul. 

Orang-orang yang berasal dari luar Jakarta–seringkali ditandai dengan pelafalan bahasa Indonesia yang medhok–mendapatkan peran sebagai kelas bawah. Kemedokan ketika menggunakan bahasa Indonesia seringkali tidak disambut sebagai sebuah keunikan, tapi sebagai sebuah keterbelakangan. Fenomena tersebut hendak dijungkirbalikkan oleh Komunitas Republik Ngapak, sebuah komunitas yang didirikan oleh Ken Setiawan yang aktif untuk menjunjung kearifan lokal.  

Komunitas Republik Ngapak yang didirikan pada 1 Agustus 2010 yang yang membawahi beberapa komunitas di Jawa Tengah, terutama daerah yang menggunakan bahasa/dialek khas ngapak (Basa Banyumasan). Republik Ngapak kemudian diresmikan secara hukum dengan akta notaris pada 19 Oktober 2013 dengan nama Paguyuban Ngapak sehingga disepakati ulang tahun resmi Republik Ngapak pada 19 Oktober.

Selama ini daerah yang terkenal menggunakan bahasa ngapak (bahasa Banyumasan/Panginyongan) diantaranya adalah Kebumen, Banyumas, Cilacap, Purwokerto, Wonosobo, Tegal, Brebes, Slawi, Bumiayu, Pemalang, Pekalongan, Purbalingga, dan Banjarnegara. Guna memperbanyak orang yang  peduli dengan budaya dan kearifan lokal, maka Republik Ngapak  membatasi keanggotaan hanya untuk orang yang   berasal dari daerah-daerah Banyumas Raya tersebut. .

Republik Ngapak membuka diri terhadap orang luar daerah tersebut   atau berasal dari daerah lain yang tertarik dan peduli terhadap bahasa daerah ngapak agar bisa berkembang. Guna memudahkan anggotanya berinteraksi, Republik Ngapak memiliki akun grup Facebook bernama Republik Ngapak. 

Menurut Ken Setiawan, pendiri Republik Ngapak, ide dibentuknya Republik Ngapak, karena saat ini semakin menyusut minat masyarakat terhadap hal-hal yang bersifat tradisional dan budaya lokal. Padahal budaya lokal adalah sumber pengetahuan yang terintegrasi dengan pemahaman terhadap alam dan budaya sekitarnya. Ken menuturkan, saat ini banyak anak muda yang bukan bangga terhadap budaya lokal. Anak-anak muda, justru malu menggunakan bahasa daerahnya. Padahal, seharusnya bangga karena menjadi ciri khas daerah asal sebagai tempat lahirnya.

Umi (jilbab merah muda) Pendiri Republik Ngapak di Hong Kong.
Umi (jilbab merah muda) Pendiri Republik Ngapak di Hong Kong.

Di Hong Kong, Republik Ngapak berawal dari pekerja migran bernama Umi yang memulai komunitas ini pada 2013. Republik Ngapak di Hong Kong rutin mengadakan yasin dan tahlilan setiap minggu kedua. Selain kegiatan itu, kegiatan kerajinan pembuatan tas talikur juga dilakukan di minggu ketiga. 

“Dulu saat awal-awal, Republik Ngapak hanya punya delapan anggota, tapi sekarang sudah berkembang jauh lebih banyak,” ujar Puji dari Republik Ngapak. 

Republik Ngapak mempunyai klub futsal beberapa kategori usia putra dan putri, U10, U13, U16, U19 dan kategori terbuka  atau umum. Di samping klub futsal ada sekolah futsal bernama Ngapak futsal academy untuk pembinaan pemain usia dini di bawah 16 tahun. Republik Ngapak juga mempunyai panti asuhan yatim piatu yang dihuni sekitar 40 orang yang terdiri dari siswa SD, SMP, SMA dan kuliah. Semua dibiayai langsung dari hasil penjualan kaos dan batik Republik Ngapak. Bila ada rekomendasi anak yatim piatu yang mau sekolah dan tinggal di panti dapat menghubungi nomor pengurus di 08985151228.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *