INFEST Latih Serikat Pekerja Migran Mengelola Pengetahuan Organisasi dengan Baik

Author

“Knowledge management (KM) bukan sekadar untuk mengelola pengetahuan, namun juga sebagai alat kita (komunitas) dalam meraih tujuan dan cita-cita bersama. Berbagi pengetahuan itu juga direncanakan, disengajakan, bukan karena kecelakaan atau kebutuhan yang tiba-tiba.”

(Firdaus Cahyadi, Direktur SatuDunia, Fasilitator Pelatihan KM)

Dalam sebuah organisasi, komunitas, atau perusahaan, berbagi pengetahuan menjadi sesuatu yang penting. Pengetahuan bukan hanya milik perorangan, namun menjadi milik organisasi atau komunitas. Inilah mengapa pentingnya mengelola pengetahuan atau knowledge management (KM) dalam sebuah organisasi. 

Dalam berkomunitas, proses berbagi pengetahuan juga seharusnya bukan terjadi karena kebutuhan yang tiba-tiba atau kecelakaan, tapi karena direncanakan. Hal ini menjadi pembahasan penting dalam “Pelatihan Knowledge Management (Pengelolaan Pengetahuan) untuk Aktivis Serikat Pekerja Migran” yang diselenggarakan oleh Institute for Education Development, Social Religious, and Cultural Studies (INFEST) Yogyakarta, pada Senin – Rabu (8-10/6/2020), secara live melalui video conference dengan menggunakan aplikasi zoom. Fasilitator pelatihan ini adalah Firdaus Cahyadi, Direktur SatuDunia, yang selama ini fokus pada penguatan kapasita strategi komunikasi dan knowledge managment (KM) untuk organisasi masyarakat sipil serta trainer penulisan.

Pelatihan yang dilaksanakan selama tiga hari ini, diikuti oleh 25 aktivis peduli pekerja migran Indonesia (PMI) perwakilan dari beragam komunitas. Komunitas tersebut di antaranya adalah Komunitas Pekerja Migran Indonesia (KOPI) Bringinan, Ponorogo; Komunitas Pekerja Migran Indonesia (KOPI) Gogodeso, Blitar; Komunitas Pekerja Migran Indonesia (KOPI) Jatinom, Blitar; Komunitas Pekerja Migran Indonesia (KOPI) Pandanarum, Blitar; Komunitas Pekerja Migran Indonesia (KOPI) Pondok, Ponorogo; Komunikasi antar Organisasi Pekerja Migran Indonesia (KOMI), Johor Bahru; Komunitas Serantau Malaysia; Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI); Solidaritas Perempuan; Human Rights Working Group (HRWG); Keluarga Alumni Migran Indonesia (KAMI); Serikat Pekerja Perikanan Indonesia (SPPI); Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI); Voice of Migrants Hong Kong; United Union of Domestic Workers, Hong Kong; serta tim INFEST Yogyakarta. 

MATERI DASAR KM HINGGA PRAKTIK MENGANALISA PENGETAHUAN 

Dalam pelaksanaan pelatihan Knowledge Management (KM) untuk Aktivis Serikat Pekerja Migran, peserta bukan hanya belajar tentang materi pengetahuan dasar dari proses pengelolaan pengetahuan, namun juga merancang kegiatan tindak lanjut di masing-masing organisasinya. Materi dasar pelatihan terdiri dari jenis-jenis informasi dan pengetahuan yang dapat dikembangkan dalam organisasi; serta, dasar, prinsip dan panduan dalam menjalankan KM di organisasi. 

Firdaus Cahyadi, Fasilitator Pelatihan, memaparkan materi dasar KM bukan hanya berdasarkan teori maupun konsep tentang KM itu sendiri. Lebih dari itu, pemaparan juga disesuaikan dengan contoh praktik pengelolaan pengetahuan yang sudah dilakukan oleh peserta di masing-masing komunitasnya. Sehingga dalam proses pembelajaran ini mudah dipahami, karena berbasis pengalaman peserta selama berorganisasi. 

Dalam proses pembelajaran tentang KM, di sesi materi hari pertama, peserta belajar tentang pemahaman paling mendasar contohnya tentang pengetahuan tacit dan eksplisit dengan sejumlah contoh yang paling dekat dengan mereka. Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang tersurat, tertulis atau tertuang. Tertuang ini bisa dalam tulisan, gambar dan sebagainya. Pengetahuan eksplisit dengan demikian dapat dipindahkan dari satu orang ke orang lain. Pengetahuan eksplisit dapat secara persis diartikulasikan dan disampaikan untuk diserap orang lain. Sementara pengetahuan tacit adalah pengetahuan yang dipahami atau diterapkan (dihidupi) secara bawah sadar, sulit diartikulasikan, dikembangkan dari pengalaman, dipindah atau dibagikan melalui proses bersama-sama, misalnya pemagangan. 

“Interaksi pengetahuan tacit dan eksplisit ini terjadi pada empat proses kunci yaitu sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, dan internalisasi. Keempat proses ini disebut sebagai proses SECI yang bisa menunjukkan atau memetakan apakah terjadi fasilitasi pengetahuan dan belajar dalam proyek atau kerja yang berlangsung,” papar fasilitator yang akrab disapa Cak Daus ini.

Proses Pelatihan KM yang dapat dilihat di kanal youtube "Redaksi BMI"
Proses Pelatihan KM yang dapat dilihat di kanal youtube “Redaksi BMI”

Materi tentang pengetahuan tacit dan eksplisit ini menjadi pengetahuan dasar kunci untuk memahami KM. Selebihnya adalah bagaimana manajemen pengetahuan dijalankan dengan suatu bangunan yang utuh, mencakup dari konsep sampai ke praktek-praktek keseharian. Serta, bagaimana komunitas menentukan sendiri alat atau pun media untuk berbagi pengetahuan organisasinya. 

Sementara menurut Menurut Irsyadul Ibad (Ibad), Direktur Infest Yogyakarta, dalam sambutannya, penerapan KM yang paling maju pada umumnya dilakukan organisasi bisnis. Dengan penerapan KM, sebuah organisasi bisnis dapat mengembangkan produk secara terus-menerus. Bahkan, pada titik tertentu bisa menciptakan inovasi. Keluar masuknya staf atau sumber daya manusia pun tidak  diikuti dengan keluarnya pengetahuan. Sebab, pengetahuan sudah menjadi milik organisasi.

Namun, lanjut Ibad, KM tentu bukan hanya milik organisasi bisnis saja. Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) seperti serikat buruh atau  komunitas juga memerlukan KM. Aset terbesar dari OMS justru terletak pada pengetahuan. Namun, seringkali justru aset yang terbesar itu luput untuk dikelola dengan baik. 

“Pengetahuan merupakan sebuah aset, maka pengetahuan harus dikelola dengan baik. Aset KM boleh terdiri dari inisiatif, proses, strategi, dan sistem yang berkelanjutan untuk peningkatan dan pemanfaatan dalam proses penaksiran dan penelitian, pembagian informasi dan pengetahuan organisasi, penyimpanan dan penyempurnaan pengetahuan, pengembangan model dan konsep, penerapan tradisi dan kepemimpinan, serta penciptaan pengetahuan organisasi,” jelas Ibad. 

KOMITMEN PESERTA MENGELOLA PENGETAHUAN ORGANISASI

Di akhir sesi pelatihan, peserta pelatihan knowledge management (KM) berkomitmen menjalankan KM di organisasinya masing-masing. Komitmen ini juga disepakati bersama dalam merumuskan rencana kerja masing-masing peserta organisasi. 

INFEST sendiri, sebagai inisiator penguatan kapasitas KM bagi serikat pekerja migran, sejak tahun 2009 telah berkomitmen untuk pegorganisasian warga dalam peningkatan dan pengembangan kapasitas mereka agar tercapai proses demokratisasi yang emansipatoris. Mereka tidak hanya sebatas pada petani, warga desa, buruh migran, perempuan, anak anak, disabilitas, dan kelompok-kelompok marjinal yang mengalami pelanggaran hak. 

Dengan bekal pengetahuan tentang KM selama tiga hari, peserta juga mendapatkan modul dan materi dasar tentang KM. Proses pelatihan juga dapat mereka pahami kembali melalui kanal youtube “Redaksi BMI”. []

====

Sumber gambar ilustrasi : freepik

Tulisan ini ditandai dengan:infest yogyakarta KM knowledge management 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *