Supingatin: Purna PMI Penjual Ikan Bakar dan Usaha Warung Kelontong

Author

Malam di hari Minggu (5/12/2019) masih menunjukkan pukul 19.30 WIB. Saat itu rintik hujan Bulan Desember masih setia menyiram Desa Jatinom. Di ujung utara desa, asap mengepul disibak angin mengahantarkan bau harum menggoda. Sumber bau harum adalah warung ikan bakar yang tepat di bawah gapura masuk desa. Kebetulan sedang tidak begitu ramai pembeli saat saya berkunjung malam itu.

Di samping warung terdapat kios dengan jendela kaca serukuran 3 m x 4 meter. Barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti mulai dari perlengkapan mandi seperti sabun, pasta gigi, dan lainnya; kebutuhan bahan masakan mulai dari beras hingga mie instan; jajanan anak-anak dan aneka kebutuhan rumah tangga lainnya. 

Bangun Usaha Bersama Suami

Warung ikan bakar dan kios kelontong tersebut milik Supingatin (50), seorang purna pekerja migran Indonesia (PMI) di Arab Saudi dan Taiwan. Sosok yang akrab disapa Lik Ngatin, ini merintis usaha bersama suaminya, Muhammad Saekoni (53). Usaha warung ikan bakar dan toko kelontong sudah dimulai beberapa tahun lalu. Warung ikan bakar tersebut diberi nama “Laros”, kepanjangan dari Lare Osing untuk menunjukkan identitas Saekoni yang berasal dari Banyuwangi atau Lare Osing. 

Warung ikan bakar “Laros” tidak pernah sepi pembeli. Bahkan pembelinya tidak hanya warga sekitar desa namun banyak warga luar kota yang sudah menjadi pelanggan tetap. Hal tersebut tidak mengherankan karena warung berada di lokasi strategis, yaitu di pinggir jalan poros pintas Malang-Blitar-Tulungagung. Selain karena hal tersebut “Laros” juga memanjakan pembeli dengan beraneka jenis ikan laut seperti baronang, tongkol, cumi, barakuda dan lain-lain. 

“Ikan kami bakar dalam kondisi segar. Kami jual per kilo dengan murah meriah, hanya tambah ongkos bakar, nasi dan minumannya,” ujar Lik Ngatin membuka obrolan malam itu.

Cerita Lik Ngatin pun mengalir begitu saja. Dari cerita keluarga, awal mula merintis usaha hingga  pengalaman sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di Arab Saudi dan Taiwan. Di Arab Saudi Lik Ngatin pernah bekerja 2 tahun sementara di Taiwan selama 6 tahun. Namun demikian bagi Lik Ngatin, kerja di rumah atau di tanah air lebih enak karena bisa berkumpul dengan keluarga, saudara, tetangga serta suasana yang sesuai dengan jati dirinya sebagai orang Indonesia. 

“Latar belakang saya dulu bekerja di luar negeri adalah untuk merubah nasib ekonomi dan masa depan keluarga kami. Alhamdulillah hasil kerja di luar negeri dapat saya gunakan untuk membangun rumah dan menyekolahkan anak,” ujar ibu dari anak semata wayang ini.

Menabung Sejak Bekerja di Arab Saudi Tahun 1995

Pertama kali Supingatin bekerja di luar negeri adalah sebagai pekerja rumah tangga (PRT) satu keluarga di Madinah al Munawaroh, Arab Saudi pada tahun 1995. Tahun 1997 ia kembali ke Indonesia dari Arab Saudi dengan membawa uang Rp 9.000.000.

“Selama 2 tahun bekerja di sana, saya berkesempatan melaksanakan ibadah haji sekali dan ibadah umroh sembilan kali,” cerita Lik Ngatin mengenang kesempatan langka itu. 

Beberapa bulan tinggal di Indonesia, Supingatin kembali memutuskan untuk bekerja keluar negeri dengan tujuan Taiwan. Taiwan dipilih karena menurutnya penghasilan gaji lebih bagus dari pada di Arab Saudi. Setelah beberapa bulan melengkapi persyaratan dan menunggu tahun 1998, Supingatin berangkat ke Taiwan dan bekerja di sebuah keluarga dengan jumlah 12 jiwa. Tugas ia adalah tugas merawat orang tua.

Supingatin mengalami pengalaman lucu tapi cukup miris ketika bekerja di Taiwan.

“Orang tua yang saya rawat itu pernah meminta saya untuk menciumnya samabil menunjukkan jumlah uang ditabungannya. Kalau saya mau dicium saya akan diberi sejumlah uang di tabungannya itu. Namun hal tersebut saya tolak dengan halus,” cerita Lik Ngatin.

Di luar pengalaman lucu tersebut, Supingatin mendapat perlakuan yang sangat baik. Makan dan istirahat pun tercukupi. Gaji yang ia terima dari keluarga itu adalah 18.000 NT per-bulan atau sekitar Rp. 5.000.000 kurs rupiah saat itu. Alhasil, selama bekerja di sana ia bisa menabung dengan jumlah cukup besar. Saat memutuskan pulang ke Indonesia keluarga tersebut memberikan pesangon dan tabungan senilai Rp. 30.000.000. 

Pernah Bekerja di Taiwan

Ada cerita menarik di balik pemberian pesangon dan tabungan tersebut, yaitu saat majikannya memberikan secara tunai di hadapan pegawai agen PJTKI di Taiwan. Tanpa diduga agen PJTKI tersebut membujuknya untuk menitipkan uang tersebut agar tidak dirampok di perjalanan. Tetapi Supingatin menolak bujukan itu. Ia bersikukuh membawa uang segepok itu sendiri dan menyimpannya di balik celana dalam, di antara selangkangannya. Ia berjalan sekitar 2 km menuju ke bank untuk ditukar dengan US dollar. Di tengah perjalanan ia bertemu seorang polisi Taiwan dan diantarkanlah ia oleh polisi tersebut ke bank. Akhirnya gepokan uang pesangon dan tabungan itu bisa ditukar dengan dolar sehingga tidak terlalu mencolok untuk dibawa karena jumlah lembaran yang sedikit.

“Alhamdulillah di Taiwan saya mendapat majikan yang cukup baik. Karena ada beberapa cerita dari teman-teman sesama PMI di Taiwan yang mendapat perlakuan tidak manusiawi dari majikan, mulai makanan hingga kebebasan bersosialisasi yang terbatas. Bahkan ada PMI yang mendapat jatah makanan terakhir setelah majikan memberi makan anjingnya yang berjumlah 7 ekor,” cerita Lik Ngatin menerawang ke belasan tahun silam.

Penghasilan PMI di Taiwan relatif cukup besar apabila dibanding dengan penghasilan di Indonesia. Akan tetapi, menurut cerita Lik Ngatin, masih saja ada beberapa PMI yang merasa kurang dengan penghasilannya tesebut. Mereka bahkan ada yang nekat terjun ke dunia prostitusi untuk memenuhi ambisinya menghasilkan uang banyak dalam tempo singkat. Biasanya PMI perempuan meminta jatah libur di hari Minggu, kemudian berangkat pagi-pagi dan pulang malam hari. Dalam sehari mereka bisa melayani 4 sampai dengan 5 lelaki hidung belang. Dalam sehari tersebut mereka bisa mendapatkan penghasilan sekitar 20 juta rupiah.

Kembali ke Lik Ngatin. Uang puluhan juta dari hasil bekerja di Arab Saudi dan Taiwan ia gunakan untuk membangun rumah yang ditempatinya saat ini dan modal usaha. Namun tidak semua usahanya berjalan lancar. Sebelum membuka warung ikan bakar dan kios kelontong ia terlebih dahulu membeli speedboat senilai 30 juta rupiah untuk mencari ikan di laut, mengingat latar belakang suaminya adalah nelayan. Namun usaha ini gagal dan speedboat dijual. Hingga akhirnya mereka merintis usaha jual ikan bakar “Laros” dan kios kelontong hingga sekarang. 

Malam itu, hingga kami pamit pulang kepulan asap disapu angin menyebarkan aroma ikan bakar masih menggoda.  Warung ikan bakar “Laros” memang menjadi berkah bagi Lik Ngatin sekeluarga.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *