Kisah

Ninik Kristiana: “Meskipun Majikan Saya Tidak Punya Agama, tapi Sangat Menghormati Keyakinan Saya”

Author

Menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) bukan berarti tertutup kesempatan mengembangkan potensi diri selain bekerja. Ninik Kristiana (36) telah membuktikannya. Sebagai pekerja rumah tangga (PRT) di salah satu keluarga di Hongkong, dia tetap mampu membagi waktunya untuk aktif di beragam kegiatan positif di luar tanggungjawabnya sebagai PRT. Ninik memiliki keinginan kuat untuk belajar memerangi kebodohan diri sendiri, membangun silaturahim sesama PMI, memperkuat rasa nasionalismenya, berbagi pengalaman dan pengetahuan, serta mendisiplinkan dirinya. Ninik bahkan diijinkan melakukan ibadah umrah oleh majikannya, hal ini mengharukan baginya karena meskipun majikannya tidak memiliki agama, namun tetap menghormati keyakinannya serta memberinya kesempatan untuk beribadah. Pikiran dan tubuhnya sudah disibukkan dengan aktifitas positif, hingga tak mudah baginya terjebak pada hal-hal negatif yang merugikannya.

Ninik Kristiana (Ninik, 36 tahun-red) adalah Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal desa Gogodeso, kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Pertengahan tahun 2018 ini, dia sudah purna dan baru saja pulang dari Hong Kong. Di negara yang tengah berkembang menjadi salah satu pusat perekonomian dunia, Ninik tidak semata bekerja di sektor informal sebagai pekerja rumah tangga (PRT). Lebih dari itu, dia juga belajar banyak hal selama 8 (delapan) tahun berada di negara maju itu.

Ninik Kritiana (Foto: Ninik)

Ninik berangakat ke Hongkong pada pertengahan tahun 2010. Kini dia telah kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Blitar, berkumpul kembali dengan suami dan anak semata wayangnya yang kini berusia 15 tahun. Pulang dari Hong Kong, Ninik tetap aktif mengikuti beragam kegiatan sosial di desanya, termasuk keterlibatannya dalam kepengurusan Komunitas Organisasi Pekerja Migran Indonesia (KOPI) Gogodeso. KOPI merupakan salah satu komunitas dampingan Infest Yogyakarta. Selain di tiga desa di kabupaten Blitar, KOPI juga ada di tiga desa di Kabupaten Ponorogo.

Saya bertemu Ninik untuk kali pertama dalam salah satu kegiatan KOPI, di balai desa Gogodeso, pada pertengahan Agustus lalu. Saat itu Ninik mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan KOPI, dia juga banyak bercerita tentang pengalamannya selama menjadi PMI di Hong Kong. Dalam forum diskusi, Ninik memaparkan gagasannya dengan tenang dan lugas. Rupanya ketrampilannya berbicara atau menyampaikan sesuatu di depan publik tidak terlepas dari pengalamannya berorganisasi. Sosok majikannya yang baik dan pengertian telah memberinya kesempatan mengikuti beragam kegiatan positif, khususnya di luar jam kerja sebagai PRT.

“Alhamdulillah, selama 8 tahun kerja di Hong Kong, saya tetap di satu majikan. Awalnya kerjaan saya merawat nenek usia 70 tahun. Tapi setelah saya rawat 3 bulan, nenek meninggal dunia. Akhirnya majikan saya meneruskan kontrak saya, tapi kali ini untuk merawat kakek berusia 78 tahun,” papar Ninik saat saya mewawancarainya secara khusus untuk “Warta Buruh Migran”, pada Jumat (21/9/2018).

Kurun waktu delapan tahun bukanlah waktu yang singkat dan tidak mudah dilalui. Banyak sekali peristiwa yang dialami Ninik, baik suka maupun duka datang silih berganti, terutama pada awal tahun bekerja. Seperti halnya PMI baru lainnya, Ninik pun membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Mulai dari bahasa, budaya, cara kerja, dan gaya hidup. Niat kuat untuk mencari nafkah keluarga membuatnya hanya punya satu pilihan, yaitu harus menjalaninya dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Dia harus kuat dan sigap dalam keadaan dan kondisi apapun. Setelah melewati masa-masa sulit, Ninik pun tetap berusaha memperbaiki dirinya.

“Alhamdulillah, Allah memberikan berbagai macam kemudahan, di antaranya saya boleh berhijab. Selain itu saya juga tetap memiliki kesempatan menjalankan ibadah sholat 5 waktu sebisa saya mengaturnya. Saya juga tetap bisa puasa Ramadhan, sholat Idul Fitri, dan yang tak terlupakan yaitu pemberian izin untuk melaksanakan ibadah umrah bersama Staff KJRI Hong Kong. Bagi saya secara pribadi, itu sudah sesuatu banget karena mengingat majikan saya tidak punya agama, tapi beliau sangat menghormati keyakinan yang saya anut,” ungkap Ninik.

Kini meskipun Ninik sudah kembali ke kampung halamannya, namun komunikasi dengan majikannya tetap terjalin dengan baik.

Maksimalkan Potensi Diri melalui Ragam Kegiatan Positif

Di manapun berada, bagi Ninik yang terpenting adalah niatnya. Meskipun sebagai PRT, namun Ninik tetap ingin belajar banyak hal selama di negeri orang. Apalagi PMI di Hong Kong juga mendapat kesempatan libur di hari Minggu, kesempatan di hari libur itulah yang dimanfaatkan Ninik untuk memaksimalkan potensi dirinya selain bekerja sebagai PRT.

Ninik bersama teman-temannya dalam sebuah kegiatan Ramadhan (Foto: Ninik)

Beberapa kegiatan yang pernah diikutinya adalah kegiatan-kegiatan keagamaan dan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan ketrampilannya dalam bidang tertentu. Di antaranya adalah “Pelatihan Entrepreneurship Mandiri Sahabatku”, pelatihan ini diselenggarakan oleh Bank Mandiri dengan Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) pada periode bulan April-Mei 2012. Sedangkan untuk kegiatan keagamaan yang pernah dia ikuti adalah kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Majelis Ta`lim “Majelis Muslimah Meifoo (M3)” sejak tahun 2013-2018.

“Di M3, kita bisa belajar mengaji mulai dari Iqra’, Juz’ama dan al-Quran. Pembacaan Surat Yasin dan Tahlil, istighosah, pembacaan Shalawat Diba, belajar Qira’ah, hadroh, dan satu bulan sekali belajar menjahit dan merajut bagi teman-teman yang berminat dengan ketrampilan saja,” ungkapnya.

Setiap Tiga bulan sekali, Ninik dan teman-teman sesama PMI juga rutin mengadakan pengajian gabungan yang anggotanya terdiri dari 4 (empat) majelis lainnya.

“Kami juga aktif memberikan bantuan kepada yayasan atau panti asuhan di Indonesia. Selain itu saya juga bergabung di dalam Muslimat NU Hong Kong dari 2016-2018. Kegiatannya untuk syiar agama Islam, dengan cara memperkenalkan kepada pekerja migran Indonesia (PMI) lain, bahwa Muslimat NU juga berdiri di Hongkong sebagai wadah untuk belajar bersama dalam ASWAJA (Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah). Kemudian, saya juga pernah mengikuti perlombaan hafalan al-Qur’an yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Area ODOJ (One Day One Juz-red ) Hong Kong pada tanggal 24 Oktober 2014,” papar Ninik dengan runut.

Tahun 2016, Ninik juga berkesempatan melaksanakan ibadah umrah pada 2-13 Juni 2016 bersama Staff Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong. Dalam peringatan hari besar Islam, Ninik juga mencoba kemampuannya dalam Lomba Cerdas Cermat saat Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Nuzulul Qur`an di KJRI bulan Juni 2016. Selain itu, Ninik juga pernah mengikuti “Dialog Kebangsaan” di KJRI Hong Kong dengan narasumber dari Dosen Universitas Indonesia juga Kepolisian RI, “Dialog Keagamaan” yang diselenggarakan oleh MTC.

Tahun 2017, Ninik juga berkesempatan mengikuti kegiatan “Sosialisasi Kesehatan Gizi dan Jiwa” yang diselenggarakan oleh KJRI Hong Kong bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI pada 19 November 2017. Di tahun yang sama juga berkesempatan mengikuti “Pawai Ramadhan” yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa Hong Kong pada tanggal 21 Mei 2018.

Perkuat Rasa Nasionalisme sebagai PMI

Ninik memiliki banyak alasan kenapa dia harus mampu memanfaatkan waktunya untuk kegiatan positif. Apalagi dari beragam kegiatan tersebut, dia mendapatkan banyak pengalaman, pengetahuan baru, teman yang sudah seperti saudara sendiri, namun juga penghargaan lain dalam bentuk sertifikat dan lain-lainnya. Namun yang juga penting baginya, sebagai PMI dia tetap merasa dekat dengan Indonesia dan rasa nasionalismenya juga semakin kuat.

“Motivasi saya mengikuti banyak kegiatan, sebagai perwujudan rasa syukur karena Allah masih berkenan memberikan kesempatan untuk bernafas dan beraktivitas. Niat saya juga untuk memerangi kebodohan diri saya sendiri. Yang juga penting adalah saya tetap mampu menjalin silaturahim dengan teman-teman sesama PMI, berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta menambah wawasan. Sebagai PMI, saya juga merasakan bagaimana rasa nasionalime saya semakin kuat. Dengan segala keterbatasan saya, juga lebih menghargai waktu, terutama keterbatasan waktu dalam beribadah,” jelasnya.

Kegiatan yang dia ikuti selama ini di antaranya juga sebagai sebagai untuk mendidik dan mencetak PMI agar memiliki jiwa wirausaha.

“Slogan kami adalah “Bekerja dan usaha sendiri di negeri sendiri suatu hari nanti”, banyak teman banyak saudara, banyak pula rezekinya. Ketularan cerdas dari beliau-beliau yang memiliki integritas. Dan masih banyak lagi, pokoknya sangat membahagiakan. Seneng saja bawaannya,” kata Ninik.

Pengalaman aktif di banyak kegiatan juga telah membuat pikiran dan tubuh Ninik selalu terisi hal-hal positif. Sehingga membuatnya tak mudah terpengaruh pada kegiatan-kegiatan yang merugikan dirinya. Namun Ninik mengakui bahwa lingkungan juga sangat memengaruhi, jadi harus pintar memilah kegiatan dan organisasinya.

Ninik dan teman-temannya di organisasi sedang engikuti sebuah lomba.

Fenomena maraknya PMI terlibat dalam kelompok ekstrimis, diakui Ninik memang ada. Menurutnya, ada saja teman-temannya sesama PMI yang memilih beraktivitas pada kelompok tertentu yang membuatnya semakin membatasi diri dengan PMI lain yang tidak masuk golongannya. Namun Ninik memiliki cara tersendiri untuk memilah kegiatan. Misalnya, di manapun berada, khususnya PMI di Hongkong sebaiknya gunakan waktu libur sebaik mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat. Kegiatan yang dimaksud adalah pelatihan-pelatihan atau kegiatan keagamaan sosialisasi dari KJRI, atau kegiatan lain yang bisa menambah wawasan juga pengalaman yang nantinya bisa kita gunakan setelah PMI pulang ke tanah air.

“Jadilah pelita untuk diri sendiri yang biasanya mampu menerangi keluarga lingkungan dan orang- orang sekitar”. Kita tidak pernah tahu kapan dan dimana ajal tiba dan dalam keadaan gimana. Maka alangkah baiknya kita mempersiapkan diri dengan cara memberikan atau melakukan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain tentunya semampu kita di dalam al-Qur`an Allah berfirman yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain,” tegas Ninik.

Pesan Ninik untuk teman-temannya sesama PMI yang masih bekerja di luar negeri maupun mereka yang ingin menjadi PMI.

“Kegiatan-kegiatan yang memiliki tujuan pemberdayaan bagi PMI setelah purna itu penting, agar nanti setelah pulang ke Indonesia bisa dan mau memaksimalkan keahliannya untuk menciptakan usaha dan lapangan pekerjaan sendiri, sehingga mampu mencetak pundi-pundi rupiah. Tetep bisa kumpul dengan keluarga di rumah. Kasih sayang dan keharmonisan rumah tangga bisa terjaga. Karena pada hakikatnya setiap PMI memiliki keinginan hidup berkecukupan namun tetep dekat dan kumpul dengan keluarga.” 

One response to “Ninik Kristiana: “Meskipun Majikan Saya Tidak Punya Agama, tapi Sangat Menghormati Keyakinan Saya”

  1. Assalamualaykum wr wb…
    Alhamdulillah..
    Bersyukur pada Alloh swt..dinda Ninik… Menjadi salah satu pribadi yang baik bagi PMI sebagai PMI yg paripurna dengan segudang kegiatan yang positive…
    Bisa menjadi aspirasi dan catatan yg baik bahwa PMI itu ada yang bisa menjadi salah satu contoh bahwa PMI itu bisa berperestasi,berkarya,dan menjadi lebih baik walaupun statusnya seorang PMI…

    Semangat dan terus berkarya dinda… Bangga menjadi bagian dari beberapa kegiatan bersama mu…

    Wassalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.