Berita

Buruh Migran Bersatu Demi Hak, Bukan atas Identitas Semata

Author

Komunitas Serantau Memperingati Hari Buruh Migran Dunia 2016
Komunitas Serantau Memperingati Hari Buruh Migran Dunia 2016

Kuala Lumpur—Gelaran ragam agenda dirayakan oleh buruh migran dalam memperingati hari buruh migran sedunia yang jatuh setiap tanggal 18 Desember kemarin. Buruh migran dari pelbagai belahan dunia merayakan dengan suka cita. Melalui aksi, lomba karya, dialog, diskusi, pelatihan untuk peningkatan kapasitas, ekspresi karya seni dan sastra, berlibur bersama kolega dan keluarga serta pelbagai hal lainnya. Salah satunya yang dilakukan oleh Komunitas Serantau Malaysia yang menyelenggarakan Dialog Publik dengan mengangkat tema “Gerakan  Perlindungan TKI melalui Pemenuhan Hak-Hak Kontraktual” yang berlangsung pada Minggu (18/12/2016) bertempat di Dewan Serbaguna Bandar Sunway, Petaling Jaya, Malaysia.

Acara tersebut dihadiri oleh Yusron Ambary selaku Koordinator Fungsi Kekonsuleran KBRI Kuala Lumpur. Hadir pula pada acara tersebut, Florida dari organisasi perburuhan dunia (ILO). Selanjutnya, dua orang perwakilan dari lembaga swadaya masyarakat Malaysia, yaitu Fajar Santoadi dari Tenaganita dan Adrian Pareira dari North South Inisiative (NSI). Selain itu, hadir pula perwakilan dari beberapa komunitas pekerja Indonesia di Malaysia seperti Ikatan Keluarga Madura (IKMA), My WNI Peduli, Wajah Pribumi (Wapri), wakil dari Johor Bahru serta para pekerja buruh migran dari pelbagai sektor pekerjaan di kawasan tersebut.

Acara yang dimulai pada pukul 11 pagi dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dilanjutkan dengan lagu Negaraku yang diikuti oleh peserta dengan seksama. Persembahan tari Jaipong oleh seorang buruh migran dari Jawa Barat juga membuat riuh para peserta. Pembacaan puisi yang berjudul “Kami Pahlawan Juga” yang dibacakan oleh Samsuri yang isinya menceritakan mengenai pilunya menjadi seorang pekerja di sektor konstruksi.

Nasrikah yang merupakan koordinator Komunitas Serantau mengawali sambutannya dengan menceritakan sekilas bagaimana terbentuknya Serantau sehingga sekarang. Beliau menyampaikan sejarah Komunitas Serantau dibentuk, kesan-pesan dalam mengajak kawan-kawan buruh migran Malaysia untuk berorganisasi sesuai dengan kepentingan pekerja dan cerita di balik pengembangan jaringan Komunitas Serantau hingga Johor, Pineng, Sabah dan Serawak.

“Dewan Serbaguna Bandar Sunway ini merupakan saksi dan menjadi bagian dari sejarah di mana Komunitas Serantau mengawali perjuangannya,” kenang Nasrikah.

Nasrikah menambahkan bahwa pentingnya meningkatkan solidaritas dan rasa peduli terhadap sesama buruh migran untuk mencapai keadilan bagi semuanya.  Menurutnya, semua bisa terwujud apabila buruh migran sadar akan diri sendiri dan melihat sekeliling kita. Masih banyak teman-teman buruh migran yang mengalami kondisi sulit dan ketidakadilan, namun mereka enggan ataupun tidak mengetahui kemana hendak mengadu ataupun meminta bantuan.

“Serantau ingin hadir beriringan di setiap kantor perwakilan sebagai pelengkap dan penyumbang pelayanan pemerintah kepada buruh migran,” harap Nasrikah.

Selanjutnya, Yusron Ambari menyampaikan tentang statistik warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di Malaysia. Dengan jumlah 2,5 juta yang mana setengahnya adalah berdokumen dan setengahnya lagi tidak berdokumen yang kebanyakan menduduki di sektor domestik, konstruksi dan manufaktur/kilang. Untuk itu, jelas bahwa tantangan terberat bagi pemerintah adalah WNI tidak berdokumen. Penafsirannya adalah melayani tuntutan WNI berdokumen lebih mudah jika dibandingkan dengan WNI yang tidak berdokumen jika terdapat hak-hak WNI yang terlanggar di Malaysia. Di sisi lain untuk masalah pemulangan ke Indonesia bagi WNI tidak berdokumen menjadikan pemerintah sebagai tumpuan terakhir dalam perlindungan. Pemerintah sendiri juga memiliki petunjuk dan prioritas dalam konteks bantuan kepada WNI.

“KBRI akan mengutamakan bagi yang memang perlu bantuan,” tutur Yusron.

Yusron menyarankan kepada para komunitas yang ada di Malaysia agar bisa membagi peran dan fungsi. Misalkan Komunitas Serantau yang fokus untuk penyebaran informasi sebagai medianya TKI. Selain itu, mesti ada juga komunitas TKI yang fokus dalam perlindungan TKI dalam konteks kasus-kasus TKI. Yusron, lanjutnya, menyadari bahwa pemerintah memerlukan partisipasi dari masyarakat karena hal itu juga bagian dari perlindungan WNI.

“KBRI (Kuala Lumpur) perlu bantuan dari para komunitas WNI untuk bekerjasama,” tutup Yusron.

Selanjutnya Fajar Santoadi dalam presentasinya memaparkan tentang hak-hak yang seharusnya diterima para TKI. Fajar melanjutkan bahwa terdapat penjamin jika di dalam melakukan pekerjaannya, TKI mengalami permasalahan. Contohnya adalah kesehatan. Jangan sampai ada pemikiran kalau masalah kesehatan adalah tanggung jawab pribadi dan jika terjadi masalah kesehatan, maka hal itu adalah nasib. Pemikiran seperti itu harus dihindari karena terdapat pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab kepada TKI untuk menjamin kesehatan dan jiwanya.

“Kesehatan teman-teman sebagai pekerja itu adalah hak yang perlu dilindungi pihak lain dalam hal ini adalah majikan. Jadi kalau ada TKI yang mengalami masalah kesehatan harus diberikan perawatan. Jika ada yang mengalami kecelakaan kerja seperti tangan putus harus mendapatkan ganti rugi,” tutur Fajar.

Florida dari ILO menyampaikan peranan ILO dalam kepentingannya terhadap buruh migran. Bahkan banyak buruh migran sendiri yang tidak mengetahui bahwa tanggal 18 Desember merupakan hari buruh migran sedunia. Seharusnya hari itu bisa dirayakan oleh semua kalangan buruh migran. Minimal adalah hak hari libur bagi buruh migran.

“ILO tidak boleh memaksa kerajaan Malaysia untuk mengikuti standard yang telah ditetapkan, tapi ILO akan memberikan technical support kepada kerjaan atau negara tentang kondisi pekerja yang serius,” papar Florida.

Florida juga menyampaikan bahwa jika para pekerja menghadapi suatu masalah situasi kerja yang mengancam orang yang pertama bisa menjaga adalah diri sendiri bukan orang lain. Jadi setiap pekerja sangat perlu untuk mengetahui akan hak-haknya, jika ada suatu permasalahan diperlukan bukti-bukti serta informasi.

“Perlindungan seseorang berawal diri sendiri, bukan dari orang lain,” tegas Florida.

Sementara itu Adrian lebih memberikan himabauan kepada para buruh migran untuk lebih bersolidaritas bukan hanya dengan para TKI tapi juga kepada buruh migran dari negara lainnya yang berada di Malaysia. Harapannya adalah ingin supaya suatu hari merayakan hari buruh migran bukan dengan cara berkelompok berdasarkan negaranya, melainkan bisa bersama-sama duduk di satu tempat dengan pelbagai negara yang lainnya.

“Bersatu demi hak-hak kita, bukan demi identitas semata adalah tujuan kita semua,” tutup Adrian.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.