Berita

Lebaran di Negeri Jiran, Nusron Beri Khutbah Idul Fitri

Author

Halal Bihalal Usai Salat Ied di KBRI Kuala Lumpur
Halal Bihalal Usai Salat Ied di KBRI Kuala Lumpur

Rabu pagi (6/7/2016) ribuan WNI yang sebagian besar adalah buruh migran mendatangi aula KBRI Kuala Lumpur untuk menjalankan Shalat Idul Fitri. Tak hanya di aula, ruangan yang biasanya digunakan untuk proses pengurusan pembaharuan paspor dan halaman gedung juga dipenuhi oleh jemaah yang melaksanakan Shalat Ied.

Shalat Ied yang dimulai pukul 08.00 waktu Malaysia tersebut diimami ustad Zikran, mahasiswa doktoral di Malaysia. Sementara yang menjadi khothib adalah Kepala BNP2TKI Nusron Wahid.

Dalam khotbahnya, Nusron wahid memaparkan tentang hikmah puasa. Hikmah puasa yang paling besar dan nyata bagi bangsa Indonesia, kata Nusron dalam khotbahnya adalah manakala setelah puasa Ramadan sudah tidak ada lagi korupsi, penyalahgunaan kekuasaan dan kesewenangan.

“Perintah spiritual dalam puasa adalah menahan hawa nafsu. Jihad paling akbar juga perang melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang paling nyata di depan mata dan menjadi realitas publik adalah korupsi, manipulasi, kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingsn pribadi atau kelompok,” kata Nusron.

Setelah Shalat Ied selesai sekitar pukul 09.00, pihak KBRI membagikan makanan dalam kotak kepada seluruh jemaah. Makanan yang dibagikan adalah makanan khas Indonesia. Idul Fitri sebagai salah satu hari rayanya umat Islam tidak sekadar perayaan hari kemenangan setelah selama satu bulan menjalankan puasa. Momen lebaran pada umumnya juga digunakan sebagai momen indah berkumpulnya sebuah keluarga.

Akan tetapi bagi buruh migran yang tidak bisa pulang kampung, hari raya Idul Fitri yang hanya berlangsung satu kali dalam setahun tersebut terpaksa dirayakan di negeri orang. Salah satu cara agar dapat merayakan lebaran dengan nuansa seperti di kampung halaman adalah berkumpul dengan sesama orang Indonesia.

Untuk itulah, dalam setiap perayaan hari raya Idul Fitri yang diawali dengan Shalat Ied di pagi hari pada tanggal 1 Syawal Hijriah, gedung KBRI Kuala Lumpur selalu dipenuhi oleh jemaah yang sebagian besar adalah pekerja migran. Ariyanti, buruh migran asal Lamongan, Jawa Timur yang sudah 22 tahun bekerja di Malaysia ketika berbincang-bincang dengan penulis seusai menjalankan Shalat Id mengatakan bahwa ia memilih menjalankan Shalat Id di gedung KBRI karena ingin berkumpul dengan sesama orang Indonesia.

“Shalat Ied di KBRI lebih enak karena dapat berkumpul dengan sesama orang Indonesia. Jika merayakan lebaran di sini, saya memang selalu menjalankan Shalat Ied di KBRI,” katanya.

Sementara menurut Paidi, buruh migran asal Blitar, Jawa Timur yang biasa dipanggil Wak Kopral, Shalat Ied di KBRI seperti berada di rumah sendiri karena semua jemaah adalah orang Indonesia. Wak Kopral yang bekerja di Malaysia sejak tahun 1995 tersebut mengaku baru pertama kali menjalankan Shalat Id di KBRI.

“Saya baru pertama kali ini menjalankan Shalat Id di KBRI dan ternyata di sini suasananya seperti di rumah sendiri karena semua jemaah orang kita (Indonesia),” katanya.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *