Berita

ATKI Gelar Diskusi Bersama BMI Taiwan

Author

Pegiat ATKI Taiwan saat menggelar diskusi di Taman 228, Taiwan
Pegiat ATKI Taiwan saat menggelar diskusi di Taman 228, Taiwan

Minggu (15/04/12), pegiat Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI) Taiwan menggelar diskusi tentang perdagangan manusia dan asuransi bersama Buruh Migran Indonesia (BMI) dari sektor formal maupun informal di Taman 228, Taiwan. Acara tersebut dihadiri oleh Butch dari Asia Pasific Mision for Migran (APMM), perwakilan Ikatan Pekerja Indonesia Taiwan (IPIT), Taiwan International Workers Association (TIWA) dan anggota ATKI Taiwan.

Bucth, salah satu pegiat APMM didampingi Wazi Heng sebagai penerjemah menyampaikan banyak hal seputar perdagangan manusia pada peserta diskusi. Menurut data yang dikumpulkan Bucth, jumlah korban perdangan manusia di tahun 2010 sampai 2011 paling banyak berasal dari Indonesia yakni 175 orang, sementara Vietnam 84 orang, Thailand 10 orang, dan Filipina 14 orang. Perdagangan manusia tejadi karena mereka dipaksa dengan jam kerja yang panjang, membayar pungutan liar, dirampas dan di tahan dokumennya serta masih banyak bentuk dari ekspotasi lainnya.

Pada saat yang sama, Rudi (29), pegiat ATKI Taiwan juga menjelaskan tentang asuransi BMI. Calon pekerja migran asal Indonesia diwajibkan membayar premi asuransi sebesar Rp. 400.000 untuk masa pertanggungan selama 2 tahun.

“Rincian premi asuransi TKI adalah Pra penempatan Rp.50.000, masa penempatan Rp.300.000, dan purna penempatan 50.000 rupiah. Artinya jika TKI tertimpa kemalangan atau musibah, TKI berhak untuk mengklaim asuransi sesuai dengan jenis resiko dan besarnya santunan asuransi TKI yang telah ditetapkan,” tutur Rudi.

“Ada perbedaan antara asuransi TKI formal dan nonformal di Taiwan. Pada sektor formal seperti pekerja pabrik ada dua asuransi yakni Astek dan Askes, jika TKI tertimpa musibah, semua biaya ditanggung oleh asuransi dan mendapatkan santunan sesuai dengan jenis resiko. Sementara bagi TKI informal yang menjadi Pekerja Rumah Tangga (PRT) hanya satu jenis asuransi, sehingga jika TKI sakit, hanya mendapat keringanan biaya, dalam hal ini pun masih dipersulit oleh mekanisme pengurusan klaim yang rumit.” ungkap Wu Yong Yik perwakilan dari Taiwan International Workers Association (TIWA).

Pengetahuan seputar persoalan BMI akan terus disosialisasikan ATKI Taiwan pada pekerja asal Indonesia melalui kegiatan pertemuan, diskusi, konsolidasi, dan aksi massa (demonstrasi).

3 komentar untuk “ATKI Gelar Diskusi Bersama BMI Taiwan

  1. Semakin giat para pegiat BMI di Taiwan. Semangat. Semoga persoalan TKi tak lagi muncul di kemudian hari..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.