Kiprah

Ungkapan Hati Seorang Anak TKI

Author

Dwi Purnami, pegiat buruh migran asal Kulonprogo
Dwi Purnami, pegiat buruh migran asal Kulonprogo

Jangkaran merupakan salah satu desa pemasok BMI (Buruh Migran Indonesia) di Kabupaten Kulonprogo DI Yogyakarta. Sebagian besar penduduk Jangkaran berusia produktif, antara 20 hingga 40 tahun. Pada  29 Januari 2011 saya mewawancara  anak salah seorang BMI  bernama Hayati (21) yang pernah ditinggal keluar negeri oleh ibunya, Sufatmah (47), selama 7 tahun. Sufatmah, orang tua Hayati pada awalnya berangkat ke Arab Saudi tahun 1994, saat itu umur Hayati masih 4 tahun.

Pada 1998 ibunya berangkat lagi ke Arab Saudi dan pulang pada tahun 2000. Setelah itu, saat usia Hayati 13 tahun, ia ditinggal ibunya bekerja ke Taiwan selama dua tahun. Saat ini, Sufatmah bekerja di Jeddah Arab Saudi. Ia telah menjalanai separuh dari kontraknya yang selama 2 tahun. Sekarang Hayati sudah duduk di bangku kuliah tingkat III di Perguruan Tinggi Swasta Di Yogyakarta (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiah, Wates Yogyakarta).

Dalam kesempatan itu, saya menanyakan pelbagai hal yang ia ketahui tentang ibunya selama bekerja di luar negeri dan apa yang dirasakannya selama ditinggal ibunya. Menurut Hayati, secara keseluruhan ibunya sukses menjadi BMI dan selalu mendapat perlakukan yang baik dari majikan-majikannya. Ibunya bekerja sebagai Pelaksana Tata Rumah Tangga (PLRT). Uang dari hasil bekerja digunakan untuk membangun rumah dan membeli tanah, berupa sawah dan pekarangan. Juga untuk biaya sekolah dan kuliah bagi kedua anaknya yang semuanya perempuan.

Pada saat  umur empat tahun Hayati  sudah ditinggal ke luar negeri. Umur 4 tahun memori Hayati masih waktu itu belum bisa mengingat dan belum bisa mengungkapkan perasaaanya, begitu juga ketika dia duduk dibangku Sekolah Dasar, dirumah dia bersama bapak dan seorang kakaknya  perempuan yang bernama Main, dia telah merasa tercukupi kebutuhan dan keperluannya yang diurus oleh kakak dan bapaknya. Setelah kepergian ibunya untuk ketiga kali, Hayati baru bisa mengungkapkan perasaan hatinya setelah dia berusia 13 tahun dan menginjak bangku SMP. Pada saat itu pula Main kakak Hayati yang biasanya membantu dia memenuhi dan menyiapkan keperluan sehari-hari  juga  pergi ke LN mengikuti jejak ibunya menjadi buruh migran  di Singapura.

Di sinilah Hayati merasakan beban berat karena praktis di rumah dia hanya bersama ayahnya. Jam empat pagi dia sudah bangun untuk memasak nasi dan sayur, dia melakukan setiap pagi dengan bantuan alarm  jam wekker. Sumua dilakukan Hayati,  agar  bisa bangun tepat waktu dan bisa membuat sarapan sebelum  berangkat sekolah, selain itu dia juga harus menyiapkan sarapan ayahnya sebelum berangkat ke sawah dan aktifitas lainnya.

Sepulang sekolah, dia harus bisa mengatur waktu sebaik-baiknya  untuk belajar, belanja keperluan sehari-hari,   membuat menu harian, dan menyiapkan makan malam. Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang semestinya dilakukan oleh ibunya jika tidak  ke  LN.
” Sebenarnya  saya kurang waktu bersama dan kalau boleh memilih saya lebih suka jika ibu tetap di rumah  dan bersama-sama saling membantu dengan keluarga untuk melakukan kegiatan di sawah. Bahkan hal itu pernah saya sampaikan kepada ibu,  agar jangan pergi lagi keluar negeri sambil  marah saya meminta tapi ibu tetap pergi dengan alasan untuk membiayai kuliah” tuturnya. Hal yang serupa juga terjadi di keluarga Indarti, suaminya bekerja di Korea selama 7 tahun.

Indarti hidup berkecukupan  dari  hasil bekerja di Korea. Dia bisa untuk membangun rumah dan membeli sawah, dia mempunyai dua orang anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-lakinya ditinggal saat berumur 6 tahun, pada saat  anaknya beranjak remaja, anak Indarti kemudian menjadi sangat nakal, suka bermain, tidak mau belajar dan semaunya sendiri tidak mendengarkan nasehat ibunya. Indarti kemudian menanyakan kepada anaknya kenapa kamu berbuat demikian? “Saya tidak akan nakal, akan taat dan nurut sama ibu kalau bapak kembali dari Korea, saya ingin bersama-sama dengan ayah di rumah” tuturnya.

Permintaan anaknya tersebut disampaikan kepada suaminya. Hingga kemudian, suaminya menyetujui untuk  pulang walaupun  kontraknya belum habis. Setelah bertemu dengan ayahnya, anak tersebut perlahan menjadi anak yang taat dan berbakti pada orangtuanya,  dia rajin belajar dan  membantu orangtuanya di sawah sebagaimana pekerjaan orang tuanya sekembali dari bekerja  sebagai TKI di Korea.

Dengan bekerja menjadi TKI di LN kehidupan keluarga menjadi lebih baik, kebutuhan keluarga dan pendidikan anak bisa tercukupi, namun terkadang persoalan rumah tangga terbengkelai,  seperti kebersamaan, pendidikan anak, hubungan sosial dan pelbagai persoalan lainnya. Inilah pilihan yang terpaksa diambil oleh TKI agar kebutuhan hidupnya terpenuhi.

Pemerintah seharusnya tanggap dan mengambil langkah-langkah serius, seperti menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya, memberi pelatihan-pelatihan wirausaha, dan menejemen pengelolaan dana remiten yang dilakukan dengan baik. Upaya tersebut penting dilakukan agar mantan buruh migran mampu mengembangkan usaha dari hasil remiten, sehingga kedepan angka pengiriman buruh migran dari Kabupaten Kulonprogo semakin menurun.

Tulisan ini ditandai dengan: anak migran Dwi Purnami remiten TKI Kulonprogo 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.