Cerita dari ‘Komunitas Unik’ Buruh Migran

Author

"pohon Ide"
Peta Masalah Buruh Migran di Lombok Tengah

Lombok Tengah (PSDBM). Saya, Maya (26), salah seorang peserta pelatihan Pengelolaan Informasi Buruh Migran. Pelatihan ini merupakan pengalaman pertama bagi saya, meskipun selama ini saya banyak berkecimpung di organisasi buruh. Hal yang paling membanggakan dalam hidup saya pun tidak lepas dari pekerjaan saya sebagai seorang “buruh lepas”, tentunya selain saya juga berbangga menjadi seorang Ibu rumah tangga dengan seorang putra.

Dari pelatihan ini, saya ingin berbagi cerita tentang satu proses singkat dari apa yang saya rasakan ketika mengikuti pelatihan. Di dalam pelatihan tersebut juga diajarkan bagaimana kita menjadi seorang narasumber (sumber berita) dan juga cara wawancarai narasumber.¬†Kata kunci “belajar bersama” mungkin bagi sebagian peserta dipahami secara berbeda. Bagi sebagian besar masyarakat kebanyakan kata “belajar” selalu diidentikkan dengan gedung sekolah serta deretan kursi dan meja di dalam kelas, seperti halnya yang dituturkan¬† Lilis (17) salah seorang peserta termuda yang masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Menengah Umum (SMU). Menurutnya, dengan mengikuti pelatihan pengelolaan informasi ia dapat mempelajari dan mengetahui banyak tentang Buruh Migran Indonesia (BMI) dan cara memproduksi sebuah berita.

“Saat menerima undangan untuk mengikuti pelatihan ini saya merasa bingung dengan beberapa istilah, seperti buruh migran. Saya juga sempat merasa khawatir jika selama mengikuti pelatihan nanti tidak “nyambung” karena saya masih muda dan berstatus pelajar. Akan tetapi, kekhawatiran tersebut sama sekali tidak saya rasakan. Bahkan saya merasa bahwa saya tidak rugi tidak masuk ke sekolah sehari demi mengikuti pelatihan ini. Selain itu, saya juga mendapatkan banyak penetahuan selama mengikuti pelatihan,” ujarnya.

Tidak jauh berbeda dengan Lilis, peserta lain juga mengungkapkan tentang banyaknya pengalaman yang telah mereka dapatkan selama mengikuti pelatihan ini. Meskipun begitu, para peserta tidak boleh hanya berhenti sampai di situ. Mereka juga diharapkan dapat mengembangkan pengetahuannya, baik sendiri maupun dengan para peserta lainnya dengan cara saling berbagi informasi. Aktivitas berbagi informasi ini menjadi tugas utama setiap orang.

Setelah selesainya pelaksanaan pelatihan, banyak peserta yang menyampaikan rasa terima kasihnya penyelenggara kegiatan, yaitu PTK Mahnettik Lombok Tengah. Selain itu, rasa terima kasih juga disampaikan kepada dua orang fasilitator, yaitu Irsyadul Ibad dan Lamuk Fathulloh. Keduanya dinilai telah banyak membantu peserta dalam memahami persoalan yang selama ini sangat dekat dengan mereka, buruh migran.

3 responses to “Cerita dari ‘Komunitas Unik’ Buruh Migran

  1. Mba Maya… bisakah diceritakan bagaimana teman-teman mendampingi kasus buruh migran, khususnya kasus hilang kontak. mungkin kami bisa belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *