Figures

(Bahasa Indonesia) Cita-cita BMI Singapura dalam Buku “Menjaring Impian”

Author

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Buku "Menjaring Impian" karya buruh migran Indonesia di Singapura.
Buku “Menjaring Impian” karya buruh migran Indonesia di Singapura.

Pilihan bekerja di luar negeri tentu bukan perkara mudah, apalagi untuk perempuan. Bekerja di luar negeri, sudah pasti memiliki resiko yang besar. Namun demikian, resiko-resiko tersebut bisa meluntur oleh nyali manakala melihat perekonomian keluarga yang tak kunjung baik. Hal semacam inilah yang sering melatarbelakangi perempuan di Indonesia ingin bekerja ke luar negeri.

Keinginan para perempuan yang bekerja di negeri nan jauh itu, bukanlah untuk mengumbar rasa ingin tahu akan dunia luar. Kebanyakan dari mereka hanya ingin mewujudkan cita-cita memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga di kampung halaman. Sayangnya, niat tulus macam itu kadang tak cukup meyakinkan masyarakat luas untuk mengubah pandangan sinisnya terhadap Buruh Migran Indonesia (BMI) perempuan, terutama yang bekerja di sektor informal.

Sering kita jumpai komentar-komentar sarkas (kasar) ketika ada BMI informal tersandung kasus. Entah komentar soal pendidikan yang rendah, hingga komentar yang membawa-bawa kehancuran nama Indonesia di mata internasional, karena keberadaan mereka. Terlalu sering bukan, kita mendengar celoteh semacam itu, tanpa mau melihat apakah pemerintah benar-benar sudah berusaha keras dalam menyediakan lapangan kerja. Lalu, apakah tulisan ini sedang mencoba membela mati-matian keberadaan BMI perempuan informal? Jawabannya juga tidak, karena hal itu sudah terlalu umum dan pastinya akan dianggap biasa serta tidak menarik. Kita tidak sedang membela siapa-siapa.

Lupakan sejenak soal pahlawan devisa, atau apapun gelar yang menempel pada BMI informal. Kali ini kita akan mencoba memahami mereka sebagai manusia yang memiliki beban tanggung jawab terhadap keberadaan keluarganya. Manusia yang memiliki cita-cita membahagiakan orang-orang yang dicintainya.

Cita-cita para BMI perempuan tersebutlah, yang termaktub dalam buku baru yang akan terbit di pertengahan Oktober 2014 ini. Buku yang diberi judul “Menjaring Impian” ini berisi tentang kumpulan kisah-kisah BMI perempuan di Singapura dalam menggapai cita-citanya. Tak melulu berisi kisah sedih tak berujung dari seorang buruh migran. Buku ini juga menyajikan proses re-integrasi sosial (penyatuan kembali unsur-unsur yang berbeda dalam dunia sosial- red) yang harus dihadapi para pekerja migran di negara penempatan.

“Mengenai re-integrasi, tema itu memang sering terlupakan diantara tema-tema mengenai buruh migran. Melalui kisah re-integrasi tersebutlah, kita mendorong kawan-kawan BMI untuk tidak menyerah dengan keadaan,” jelas Anung Lizta, yang menjadi editor sekaligus salah satu penulis buku “Menjaring Impian.”

Salah satu cerita menarik lain yang juga hadir adalah kisah perjuangan seorang perempuan yang harus tegar karena ditinggalkan suami. Kisah ini hadir bukan tanpa sebab. Banyak sekali BMI perempuan yang dicampakkan oleh suaminya, dan akhirnya terpuruk. Melalui kisah ini, perempuan diajak menjadi manusia kuat, yang harus siap dengan segala resiko dan mandiri mengurus anak-anaknya.

Menurut Anung, “Menjaring Impian” adalah buku ke-3 dari Grup Menulis Pahlawan Devisa Singapura dan ditulis oleh para anggota baru. Proses pembuatan buku tersebut juga sangat unik. Anung menceritakan bahwa para penulisnya tidak boleh bertemu dan mengenal satu sama lain, di dunia nyata selama proses penulisan berlangsung. Hal ini dilakukan untuk menjaga keorisinalan kisah diantara penulisnya.

Tema mengenai harapan dan cita-cita dalam buku “Menjaring Impian” juga diusulkan langsung oleh Anung. “Temanya memang saya yang mengusulkan, karena saat berkoordinasi dengan para anggota, kebanyakan dari mereka ingin menceritakan impian-impian mereka pada masyarakat luas,” papar Anung yang sempat diwawancarai melalui media sosial Facebook.

Sebagai sebuah buku, “Menjaring Impian” diterbitkan untuk menyemangati para buruh migran dalam menghadapi hari-harinya di negara perantauan. Selain itu, buku tersebut juga hadir sebagai wadah untuk menginspirasi kawan-kawan buruh migran dalam hal menulis. Bagi Anung, menulis adalah hal yang sangat positif yang harus dikembangkan di kalangan buruh migran. Grup Menulis Pahlawan Devisa Singapura sendiri diselenggarakan untuk menarik perhatian para buruh migran yang memang sangat minim minatnya terhadap dunia tulis menulis.

Melalui kisah-kisah buruh migran dalam buku inilah, kita diajak berkenalan secara langsung dengan mereka. Selama ini, cerita mengenai kehidupan buruh migran, masih dituturkan oleh pihak lain, bukan oleh si pelaku.

Belum ada komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.