(Bahasa Indonesia) Obrolan Kantin dengan Pegawai KBRI Singapura

Author

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Wisuda BMI di Singapura
Wisuda BMI di Singapura

Minggu, 6 Mei 2012, cuaca di Singapura tampak cerah. Pagi ini aku datang ke Sekolah Indonesia Singapura (SIS) untuk menyerahkan pas foto ukuran 3×4 sebanyak 3 lembar. Ijazah paket C akhirnya ada titik terangnya kapan bisa diambil. Bus no-197 sampai di Opp Mandarin Gardin. Kakiku terus melangkah dengan wajah yang biasa.

Pastinya di sana aku akan melihat wajah-wajah yang pernah satu kelas denganku. Akhir-akhir ini, hubungan antara mereka agak jauh karena keterbatasan waktu.

Sampainya di kantin sekolah, aku hanya duduk di bangku empuk yang biasanya ditempati oleh pegawai KBRI. Ruang sekretariat berjibun orang. Maklumlah hari ini pembagian sertifikat bagi kursus kelas bahasa Inggris. Aku tak punya nyali untuk masuk ke dalam dan menanyakan pukul berapa pembagian ijazah paket C dimulai. Pasti jawabannya “sabar”. Akhirnya aku setia menunggu walaupun harus mengorbankan sekolah entrepeuner ku di ISS (International Singapore School).

Waktu terus berjalan, ada sesama Tenaga Keja Wanita (TKW) yang duduk di sebelahku. Dia tersenyum manis melihatku, lalu berkata “Yang namanya Anung D’Lizta yang mana sih?’’ spontan teman sebelahnya menjawab, “Lah ini Anung D’Lizta.” Dia mengukir senyum lagi kepadaku. Orang hanya mengenalku melalui Facebook tentunya.

Semilir angin menambah ketenangan pada mimik wajahku. Tanpa kuduga, hari ini juga aku bisa duduk bersama beberapa pejabat KBRI seperti, Fachry Sulaeman dan Emil. Sebenarnya aku merasa tidak enak duduk di bangku mereka tapi karena tidak dilarang akhirnya kami bertukar cerita.

Singkat cerita, kami berbicara isu tentang TKW yang ada di Singapura. Masalah hari libur (off day), gaji, cara pelaporan kehilangan paspor, penampungan di KBRI dan yang terhangat tuntutan larangan membersihkan jendela dari para TKW Singapura (ban cleaning the window).

“Terserah orang menganggap saya sombong atau kasar, saya tidak peduli karena ini adalah saya.” tutur Fachry yang terus aku perhatikan setiap di obrolannya. Sembari sesekali Emil tertawa sambil menikmati hidangan di meja.

Kemudian Fachry memberikan 3 topik untuk kutulis, pertama,  bagaimana kita menggunakan waktu libur (off day) dengan baik, kedua, bagaimana cara mengatur uang gajian, ketiga, apa yang kamu tulis itulah yang kamu kerjakan dan apa yang kamu kerjakan itulah yang kamu tulis. Meski mereka (para pejabat KBRI) terlihat sombong seperti itu, bagiku beliau mau berbagi ilmu kepadaku yang hanya seorang TKW.

Menurut ucapan Fachry, ada majikan yang mengadu ke pihak KBRI-tentang TKW-nya yang setelah mendapatkan libur (off day) tapi pulang-pulang sakit bahkan ada yang hamil. Sang majikan menanyakan kebijakan dari pihak KBRI (embessy) secara langsung. Kehamilan yang terjadi pada TKW bukan kesalahan dari majikan melainkan dari TKW-nya sendiri.

Kemungkinan inilah yang menyebabkan majikan tidak mau memberikan libur, meskipun libur adalah hak dasar bagi TKW. Masalah gaji, banyak TKW yang membuang-buang uang untuk menghias diri. Memakai make-up terlampau menor juga menjadi salah satu bentuk pemborosan, sekalipun seseorang sangatlah wajar untuk sekadar ingin tampil cantik dan bergaya. Namun, bila pulang ke rumah, semua make-up itu pasti luntur. Aku tersimpul juga, karena aku termasuk yang memakai make-up.

Akhirnya satu satu lagi orang KBRI datang, dia bernama Zalfi, beliau tentu sudah paham dengan wajah Anung D’Lizta dan menanyakan sudah nulis buku apalagi. Aku perlihatkan buku terbaruku yang menang Soulmate Writing Battle, dan Fachry berseru, “Jadi kamu Anung D’Lizta yang diceritakan oleh wakil Dubes Ibu Kenssy?,” lagi-lagi aku hanya tersenyum, “Iya Pak.”.

Pembicaraan terus berganti topik, Zalfi dan Fachry mengarahkan saya untuk melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka (UT) yang bagiku belum mampu ke arah itu. Ijazah paket C memang masih belum apa-apa bila dibandingkan dengan kuliah. “3-4 tahun akan datang, kamu bukan Anung yang sekarang,” lanjut beliau. Aku pun bingung, “Jangan kamu pikirkan kebanyakan orang yang terlalu banyak berpikir akan gagal,”. Memang aku sempat merenung, namanya ilmu tidak akan pernah berhenti untuk dicari. Tapi jujur saja aku sudah lelah dengan keterbatasan ini.

Sebagai upaya mengalihkan perbincangan soal kuliah, aku menanyakan permasalah di penampungan KBRI. Berdasarkan berita dari yang aku terima, aku ingin mengetahui jawaban dari pihak KBRI secara langsung. Berikut kutipan dialognya:

Anung: Apakah benar ketua shelter bertindak kekerasan, jika ada TKW yang salah dengan cara menampar?’

Fachry: Tidak benar!, Ini dia orangnya, Senin besok dia akan pulang ke Indonesia, hanya dia satu-satunya TKW yang mendapatkan jaminan dari MOM untuk pulang ke Indonesia, nanti dia balik ke sini lagi.

Aku pun menoleh melihat dia yang sedang menikmati makanan di kantin.

Anung: Apakah benar jika anak TKW yang mau pulang hanya diperbolehkan telepon sebanyak satu menit saja?

Fachry: Tidak benar, 3 menit (tepatnya). Saya ajarkan mereka bagaimana komunikasi yang baik tanpa membuang waktu. Untuk bertanya apa kabar-sedang apa itu tidak penting, hanya memberitahukan kapan pulang, jam berapa dan jika tidak ditemui di bandara hubungi nomor ini. Itu saja.

Mendengar penjelasan dari Pak Fachry selaku ketua protokol di KBRI Singapura rasa penasaranku terjawab. Bahkan beliau mengizinkanku jika mau menulis tentang kegiatan shelter, beliau memintaku datang dan kalau mau bisa tinggal di shelter 1-2 hari. Aku juga merasa senang jika nanti Presiden SBY berkunjung ke Singapura aku diberikan kesempatan untuk bertemu dan menyerahkan buku untuk presiden.

Kalaupun tidak aku bisa menitipkan ke Fachry dengan menuliskan pesan kepada beliau. Sungguh luar biasa kesempatan ini jika aku bisa mendapatkannya. Masalah potongan gaji yang terlalu banyak juga aku sampaikan ke beliau, kini aku tidak penasaran lagi, beliau  menghubungkan langsung dengan Sukmo Yuwono-mengenai sistem potongan gaji bagi TKW yang baru.

Mulai 1 Mei 2012, Ketetapan peraturan yang baru bagi TKW belum bisa dikatakan membantu atau sebaliknya. Melalui sistem perbankan pinjaman BNLP  yang diberikan oleh bank sebesar $1600 untuk potongan 8 bulan. Gaji rata-rata $450, selama proses potongan 8 bulan TKW menerima $119 perbulannya dan $224 masuk kepada bank. Potongan bagi yang sudah berpengalaman $800. Jika terjadi pemutusan kontrak (breaking contract) TKW dipulangkan ke Indonesia atau agen, tidak ada tanggungan hutang yang membebani TKW. Resiko dari bank, pemerintah yang akan menanggung.

Jika TKW melakukan pindah majikan, pihak bank tidak akan menambahkan potongan gaji, hanya melunasi sisa bulan yang belum terbayar. Pinjaman ini tidak ada jaminan sertifakat apapun dari sang TKW. Jika TKW pulang ke Indonesia dan ada pihak PJTKI yang meminta ganti rugi, maka hal ini sangat tidak benar  (tidak sesuai prosedur).

Menurut IMPERS No. 2006 Revitalisasi Kebijaksanaan dan Penempatan Perlindungan TKI, persayaratan ini sebenarnya sudah lama ada, tapi dari pihak pemerintah baru menyepakati pada tahun ini (2012). Bantuan bank pinjaman BNLP-masih terbilang menjadi pemotongan besar pada gaji (overcharging). Kami menyeru untuk mengurangi potongan gaji antara 4-5 bulan yang standar. TKW berhak mendapatkan pelayanan baik dari pemerintahannya.

Hujan terus mengguyur. Alam seperti mendengarkan perbincangan kami. Tanpa kurasa, aku harus meninggalkan kantin SIS dan meluncur ke kelas tambahan di ISS. Aku pun pamitan. Fachry juga akan menjemput Menteri Olahraga Indonesia di Bandara Changi. Akhirnya aku berlari menuju pemberhentia bus sebelum pukul 2.30 siang waktu Singapura. Aku harus sudah sampai di jam tambahan. Aku dapatkan info dari KBRI tapi aku kehilangan jam pelajaran. Ini adalah rencana yang tidak kami rancang. [8/5/12]

Anung D’Lizta

Satu komentar untuk “(Bahasa Indonesia) Obrolan Kantin dengan Pegawai KBRI Singapura

  1. Saya di potong gaji full dalam 5 bulan, dan 1 bulan 340, setengah bulan 210,total hutang saya yang mereka tulis $2800, saya merasa terbebani,dan itu juga tidak sesuai ketentuan, jadi saya mau adukan ke kedutaan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.